Internasional

Tiga Tahun Perang Gaza: 74.000 Warga Palestina Tewas, Konflik Belum Berakhir

×

Tiga Tahun Perang Gaza: 74.000 Warga Palestina Tewas, Konflik Belum Berakhir

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 3 Tahun Perang Gaza: 74.000 Tewas, Konflik Belum Usai

jurnalistik.co.id – Tiga tahun berselang sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, konflik di Gaza masih terus berjalan dan meninggalkan dampak yang sulit dipulihkan. Laporan Reuters, Rabu (7/10/2026), menyebut lebih dari 74.000 warga Palestina telah tewas akibat pemboman dan operasi darat Israel selama tiga tahun perang.

Di sisi Israel, peringatan kembali hari paling mematikan dalam sejarah negara itu turut digelar. Serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel dan membawa 251 orang sebagai sandera ke Gaza, sebelum eskalasi berujung pada operasi militer Israel yang menghancurkan sebagian besar wilayah Gaza.

Puluhan ribu warga Palestina menjadi korban

Menurut otoritas kesehatan Gaza, angka kematian lebih dari 74.000 warga Palestina tidak membedakan antara warga sipil dan kombatan. Perayaan atau peringatan tiga tahun serangan digelar di sejumlah lokasi di Israel, termasuk lokasi festival musik Nova dekat perbatasan Gaza, tempat 348 anak muda tewas saat serangan Hamas.

Di Tel Aviv, peringatan juga berlangsung di Hostage Square, menggarisbawahi duka yang muncul dari rangkaian serangan dan penculikan pada hari itu. Bagi banyak keluarga, catatan korban di kedua sisi menjadi ukuran betapa panjangnya konsekuensi dari konflik yang tak kunjung reda.

Sandera di Gaza sudah tidak lagi tersisa

Peringatan tahun ini menjadi yang pertama bagi Israel tanpa adanya sandera yang masih berada di Gaza. Seluruh sandera, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal, telah dipertukarkan dengan warga Palestina yang ditahan di penjara-penjara Israel, sementara jenazah sandera terakhir ditemukan pada Januari.

Namun, berakhirnya krisis sandera tidak otomatis menghentikan kekerasan di Gaza. Reuters melaporkan lebih dari 1.400 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata Oktober 2025. Dalam periode yang sama, lima tentara Israel dilaporkan tewas akibat serangan militan atau pertempuran.

Gencatan senjata belum mengakhiri perang

Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat pada 10 Oktober 2025 berhasil menghentikan pertempuran besar, tetapi tidak menyelesaikan konflik secara menyeluruh. Serangan Israel masih berlangsung, sementara Hamas dan Israel belum sepakat mengenai pelucutan senjata serta penarikan pasukan.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Israel saat ini menguasai sekitar 53% wilayah Gaza. Wilayah di bawah kendali Israel bahkan meluas hingga hampir dua pertiga Gaza, sedangkan sebagian besar dari sekitar 2 juta penduduk Gaza bertahan di bagian sisanya. Banyak di antaranya tinggal di tenda dan bangunan yang rusak, mencerminkan kondisi kemanusiaan yang terus berada dalam tekanan.

Israel menegaskan pasukannya tidak akan ditarik sebelum Hamas melucuti seluruh senjatanya. Sebaliknya, Hamas menyatakan bersedia menjalani proses pelucutan secara bertahap, tetapi menolak menyerahkan senjata selama serangan Israel masih berlanjut.

Rekonstruksi dan dinamika politik Israel

Upaya membangun kembali Gaza juga disebut masih menemui jalan buntu. Rencana yang diajukan “Dewan Perdamaian” atau Board of Peace bentukan Presiden AS Donald Trump belum mendapat persetujuan dari Israel maupun Hamas. Salah satu penyebab yang mengemuka adalah persoalan hak kepemilikan properti warga Palestina yang rumahnya hancur.

Di Israel, peringatan tiga tahun serangan berlangsung hanya 20 hari sebelum pemilu. Pemungutan suara tersebut dipandang sebagai semacam referendum terhadap masa panjang pemerintahan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dalam konteks ini, Netanyahu menolak disalahkan atas kegagalan keamanan pada 7 Oktober dan menolak seruan penyelidikan independen.

Survei Israel Democracy Institute menunjukkan 68% warga Israel keturunan Yahudi menilai peristiwa 7 Oktober menjadi faktor sangat penting atau cukup penting dalam menentukan pilihan politik mereka. Dengan latar inilah, kisruh keamanan dan perdebatan politik dalam negeri terus berjalan bersamaan dengan konflik yang belum berakhir di Gaza.