jurnalistik.co.id – Israel bersiap menghadapi ancaman kekurangan air dalam beberapa pekan ke depan setelah ledakan alga di Laut Mediterania mengganggu sebagian kapasitas desalinasi negara itu. Fenomena ini ditautkan para ilmuwan pada kerusakan infrastruktur pengolahan air limbah di Gaza yang berujung pada limpasan limbah tanpa pengolahan ke laut.
Ledakan populasi mikroalga dan sianobakteri diyakini makin cepat tumbuh karena limpasan tersebut membawa nutrisi seperti nitrogen dan fosfor. Kondisi itu kemudian mengarah pada gangguan teknis di fasilitas penyaring air laut yang menjadi salah satu tumpuan produksi air minum Israel.
Asosiasi Lingkungan Zalul, organisasi nonpemerintah Israel yang fokus pada perlindungan laut dan pesisir, menilai pencemaran yang terjadi tidak berhenti pada garis batas politik. “Pencemaran tidak mengenal batas politik,” kata Zalul, dilansir The Guardian, Kamis (24/9/2026).
Pemburukan yang sama juga dikaitkan langsung dengan pembuangan limbah tanpa pengolahan dari Jalur Gaza ke laut. Zalul menyebut air limbah tersebut berperan memperparah ledakan pertumbuhan mikroalga.
Gaza masih berhadapan dengan krisis air dan sanitasi
Meski gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat sudah berlangsung sejak tahun lalu, Gaza tetap berada dalam krisis air dan sanitasi yang sangat parah. Wilayah tersebut juga mengalami persoalan serangan hama, sementara air limbah menggenangi garis pantai setelah fasilitas pengolahan limbah mengalami kerusakan akibat perang.
Di sisi lain perbatasan, ledakan pertumbuhan mikroalga disebut membentang hingga sekitar 60 mil atau 100 kilometer. Dampaknya terlihat pada sistem penyaring di lima dari enam fasilitas desalinasi utama Israel yang mengalami penyumbatan.
Kelima fasilitas tersebut sempat berhenti beroperasi selama beberapa hari. Hingga kini, operasionalnya belum sepenuhnya kembali normal dan masih berjalan pada tingkat yang lebih rendah.
Para ahli memandang efek kerusakan lingkungan akibat perang yang hampir tiga tahun kini mulai terasa kembali di wilayah Israel. Jack Gilron, profesor emeritus sekaligus pakar desalinasi di Zuckerberg Institute for Water Research, Ben-Gurion University, menilai limpasan dari Gaza meningkatkan ancaman terhadap produksi air Israel di sepanjang pesisir selatan Mediterania.
Gilron mengatakan, “Pembuangan limbah tanpa pengolahan dari Gaza ke laut meningkatkan risiko terhadap infrastruktur produksi air Israel di sepanjang pesisir selatan Mediterania.” Ia menambahkan, “Insiden saat ini semakin menegaskan perlunya persiapan menghadapi ancaman terhadap salah satu sumber utama air minum Israel.”
Kerusakan infrastruktur di Gaza berskala besar
Kerusakan infrastruktur air di Gaza disebut sudah mencapai skala besar. Berdasarkan laporan Médecins Sans Frontières (MSF), sekitar 90% infrastruktur air dan sanitasi di Gaza telah hancur sejak bombardir Israel dimulai pada 7 Oktober 2023.
Dalam periode tersebut, sumur, jaringan pipa, waduk, hingga unit desalinasi disebut menjadi sasaran serangan langsung. Kondisi ini membuat pasokan air di Gaza tetap sangat buruk hingga sekarang.
Berita Terkait
Sebelum perang, sekitar 80% kebutuhan air wilayah tersebut berasal dari akuifer di bawah kawasan pesisir. Namun, sumber itu kini tercemar oleh air laut dan limbah sehingga tidak lagi layak dikonsumsi.
Sebagian besar air minum Gaza sebelumnya juga ditopang fasilitas desalinasi dan tiga jaringan pipa yang berada di bawah kendali otoritas air Israel. Akan tetapi, jaringan tersebut diputus pada awal perang dan hingga saat ini baru sebagian yang kembali beroperasi.
Akibat kerusakan pada jaringan distribusi, banyak penduduk Gaza harus mengandalkan truk tangki untuk memperoleh air. Bagi banyak warga, pilihan yang tersedia bahkan membuat mereka harus memutuskan antara menggunakan lebih banyak air untuk minum atau menyimpannya untuk mencuci tangan dan mencegah penyakit.
Diare akut disebut menjadi salah satu penyebab utama penyakit di wilayah tersebut. Dalam konteks ini, Omar Shatat, wakil direktur eksekutif Coastal Municipalities Water Utility di Gaza, menyatakan bahwa seluruh lima fasilitas pengolahan air limbah di wilayah tersebut sudah tidak beroperasi.
Shatat memperkirakan sekitar 45.000 meter kubik limbah tanpa pengolahan mengalir ke Laut Mediterania setiap hari. Selain itu, sekitar 15.000 meter kubik limbah mentah lainnya setiap hari meresap ke dalam air tanah melalui lubang resapan, terutama di kamp-kamp informal di al-Mawasi.
Ia menilai, “Ini merupakan situasi yang sangat buruk dari sisi lingkungan maupun kesehatan masyarakat.” Shatat juga menambahkan, “Laut sudah sangat tercemar, dan orang pertama yang terkena dampaknya adalah warga Gaza serta mereka yang mengungsi karena mereka bersentuhan langsung dengan konsentrasi limbah tertinggi.”
Pat Griffiths, juru bicara Komite Internasional Palang Merah (ICRC) di Kota Gaza, memperingatkan kondisi itu berpotensi semakin parah saat musim dingin tiba. Ia mengatakan, “Warga Palestina hidup dikelilingi air limbah. Air limbah ada di sekitar mereka. Di sanalah mereka makan, mendapatkan air, dan berjalan.”
Dampak lanjutan: dari sanitasi hingga serangan hama
Selain pencemaran, masalah lain disebut muncul dari ledakan populasi tikus. Dalam beberapa bulan terakhir, hewan pengerat dilaporkan memenuhi sejumlah wilayah Gaza, berkembang di tengah tumpukan sampah dan limbah mentah yang menumpuk di sekitar kamp-kamp pengungsian yang padat.
Masalah yang serupa juga disebut mulai dirasakan warga Israel yang tinggal di dekat perbatasan Gaza. Wilayah tersebut mengalami serangan hama tikus yang disebut belum pernah terjadi sebelumnya, ketika hewan pengerat masuk ke rumah dan memenuhi kebun warga.
Aktivis lingkungan menegaskan dampak perang tidak berhenti di satu sisi perbatasan. Di Israel, otoritas meminta masyarakat menggunakan air secara hemat sampai sistem desalinasi pulih sepenuhnya.
Pasokan air di wilayah selatan negara itu telah dikurangi, sementara para petani diminta menghentikan kegiatan irigasi. Para ekonom memperkirakan kebijakan tersebut pada akhirnya akan mendorong kenaikan harga pangan.
Zalul menutup dengan peringatan bahwa bila pencemaran berlanjut, dampaknya dapat meluas ke seluruh wilayah Israel. “Jika pencemaran terus berlanjut, dampaknya pada akhirnya dapat dirasakan di seluruh negeri. Ketika lingkungan laut tercemar, manusia dan alam sama-sama menderita. Terlepas dari sisi perbatasan mana mereka berada,” kata Zalul.












