Internasional

Trump Tolak Proposal Iran, Teheran Tunggu Jawaban Resmi AS soal Selat Hormuz

×

Trump Tolak Proposal Iran, Teheran Tunggu Jawaban Resmi AS soal Selat Hormuz

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Ditolak Trump, Iran Masih Tunggu Jawaban AS Soal Hormuz

jurnalistik.co.id – Iran menyatakan masih menunggu jawaban resmi Amerika Serikat (AS) terkait proposal pembukaan kembali Selat Hormuz. Pernyataan itu muncul setelah Presiden AS Donald Trump menolak tawaran terbaru Teheran.

Menlu Iran Abbas Araghchi mengatakan pihaknya sudah mengetahui respons awal dari Trump, tetapi sampai saat ini belum menerima penyampaian resmi melalui jalur mediator. “Kami telah melihat reaksi pertama dari presiden AS, tetapi belum ada yang disampaikan kepada kami dari para mediator,” kata Araghchi, sebagaimana dikutip dalam laporan yang sama.

Menurut Araghchi, Teheran akan menunggu pendapat definitif yang disampaikan para mediator sebelum menentukan langkah berikutnya. “Tentu saja, presiden AS juga telah mengatakan banyak hal baik dan juga banyak hal yang kontradiktif, yang sayangnya sering kita dengar darinya. Kami menunggu pendapat definitif yang akan disampaikan kepada kami oleh para mediator dan kami akan mengambil keputusan berdasarkan hal tersebut,” ujarnya.

Proposal buka kembali selat dalam tujuh hari

Proposal terbaru Iran menawarkan pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Skema tersebut juga disebut membuka jalan untuk kelanjutan pembicaraan nuklir dengan AS.

Rencana itu mensyaratkan sejumlah permintaan dari Washington, termasuk pencabutan blokade angkatan laut dan penghapusan sanksi terhadap minyak Iran. Araghchi sebelumnya menyampaikan bahwa pembukaan jalur pelayaran dapat dilakukan setelah persyaratan yang diajukan Iran terpenuhi. “Jika syarat-syarat yang diperlukan terpenuhi, selat tersebut dapat dibuka kembali, dan jalur pelayaran normal dapat dipulihkan dalam waktu tujuh hari. Pilihan sekarang ada di tangan Amerika Serikat,” kata Araghchi.

Ia menegaskan syarat-syarat yang diajukan Iran tidak melampaui poin yang tertulis dalam Nota Kesepahaman AS-Iran yang ditandatangani pada Juni. Namun, kesepakatan itu gagal setelah pertempuran kembali terjadi.

Araghchi juga mengingatkan hubungan sebab-akibat yang menurutnya tidak bisa disatukan dalam satu paket kebijakan. “Anda tidak bisa membom suatu negara, mengancam pemusnahannya, memberlakukan blokade maritim, dan tindakan paksaan, lalu mengharapkan pemulihan keamanan dan navigasi secara otomatis,” tambahnya.

Trump menolak, komunikasi tetap lewat mediator

Pada Sabtu, Presiden Donald Trump menolak proposal terbaru Iran tersebut. Dalam penolakannya, ia menyebut tawaran untuk membuka kembali Selat Hormuz sebagai sesuatu yang “tidak dapat diterima.”

Trump juga mengungkapkan pandangan bahwa pihak Iran menginginkan kesepakatan yang memungkinkan selat segera dibuka karena kerugian yang dianggap besar. “Mereka ingin membuat kesepakatan di mana mereka segera membuka selat itu karena mereka mengalami kerugian yang sangat besar,” tambahnya. “Mereka ingin membuat kesepakatan, dan saya pikir itu tidak masalah. Saya juga suka membuat kesepakatan, tetapi kesepakatan itu tidak akan dapat diterima.”

Penolakan Trump muncul setelah selama sepekan sejumlah pejabat senior Iran berada di New York untuk menghadiri Sidang Umum PBB dan bertemu dengan pejabat AS. Meski begitu, penolakan tersebut dinilai menunjukkan belum adanya kemajuan diplomatik yang nyata terkait upaya menuju kesepakatan antara kedua negara.

Di sisi lain, seorang pejabat Gedung Putih menyatakan AS masih berkomunikasi melalui mediator. “Amerika Serikat berada dalam posisi yang sangat kuat dengan kendali atas Selat Hormuz, jadi kami tidak terburu-buru,” kata pejabat itu. Ia juga menyebut Washington sedang mengadakan “diskusi yang positif dan konstruktif melalui para mediator.”

Pernyataan senada disampaikan Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio. Menurutnya, bila kesepakatan dengan Iran ingin dicapai, proses tersebut masih membutuhkan waktu dan negosiasi panjang. “Jika akan ada kesepakatan dengan Iran…itu akan melibatkan banyak kerja keras selama jangka waktu tertentu,” kata Marco.

Wacana serangan baru dan respons Teheran

Tengah kebuntuan diplomasi, beredar laporan mengenai kemungkinan terjadinya serangan baru terhadap Iran. Sejumlah pejabat AS melaporkan pada Jumat bahwa Trump mengatakan kepada stafnya, kampanye pengeboman baru kemungkinan terjadi setelah pemilihan paruh waktu mendatang. Para pejabat itu juga menyampaikan bahwa pandangan Trump masih dapat berubah dalam beberapa minggu ke depan.

Dalam pidatonya di Sidang Umum PBB, Trump menyampaikan dirinya menghadapi keputusan besar terkait masa depan hubungan AS dengan Iran. “Saya harus membuat keputusan besar, akankah kesepakatan dibuat dengan Iran yang memungkinkan mereka membangun kembali dan menciptakan negara yang jauh lebih hebat daripada sebelumnya?” Kata Trump. “Atau haruskah saya memusnahkan Republik Islam dan melakukannya dengan cepat, tanpa memberi mereka kesempatan untuk membunuh dan menghancurkan orang dan negara lagi?” Lanjut dia.

Sementara itu, juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia menyebut AS masih berpotensi melancarkan serangan baru. Menurut laporan Reuters pada Minggu, Akraminia mengatakan kemungkinan serangan tersebut muncul karena “situasi regionalnya yang buruk.” Ia menegaskan, Teheran siap menghadapi konfrontasi apa pun.