Internasional

Turki–Israel Memanas Lagi: Serangan Udara Israel di Suriah Utara Picu Eskalasi

×

Turki–Israel Memanas Lagi: Serangan Udara Israel di Suriah Utara Picu Eskalasi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Turki-Israel Memanas! Kian Sengit Rebutan Pengaruh di Timur Tengah

jurnalistik.co.id – Ketegangan antara Turki dan Israel kembali meningkat setelah serangan udara Israel menghantam sebuah pangkalan udara nonaktif di Suriah utara pekan lalu. Insiden itu memicu saling tuduh, sementara utusan AS untuk kawasan menilai langkah tersebut sebagai eskalasi yang tidak perlu.

Israel menyatakan serangannya dilakukan sebagai tindakan pencegahan atas dugaan rencana penempatan pasukan Turki di lokasi tersebut. Namun, baik pemerintah Turki maupun pemerintah Suriah membantah adanya rencana pengerahan pasukan ke pangkalan yang dimaksud, dan pada peristiwa itu tidak dilaporkan korban jiwa.

Di tengah gelombang kritik, Tom Barrack—duta besar AS untuk Turki sekaligus utusan khusus untuk Suriah dan Irak—turut menyuarakan penilaiannya. Ia menganggap serangan itu sebagai bentuk eskalasi yang tidak perlu, yang berpotensi memperlebar jurang ketegangan antara dua pihak yang sudah lama berselisih.

Kritik Erdogan dan respons Netanyahu

Rivalitas kedua negara sebenarnya bukan perkara baru. Dalam beberapa tahun terakhir, Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan berulang kali menyampaikan kritik keras terhadap Israel, termasuk menyebutnya sebagai “negara teror” serta membandingkan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dengan Hitler.

Netanyahu tidak tinggal diam. Ia membalas dengan menyebut Erdogan sebagai diktator antisemit, sementara sejumlah pejabat Israel menuding Turki mendukung terorisme dan bertindak seperti negara musuh.

Setelah serangan udara ke Suriah, Netanyahu menegaskan dalam sebuah video di media sosial bahwa Israel tidak akan menerima kehadiran militer Turki yang meluas ke arah selatan. Menurut keterangannya, perluasan tersebut dianggap mengancam keamanan negara Israel.

Tak lama berselang, Turki mengambil langkah balasan. Dua hari setelah insiden itu, Ankara mengumumkan upaya penangkapan Netanyahu melalui Interpol dengan tuduhan genosida dan penyiksaan, yang dikaitkan dengan kasus domestik Turki mengenai perlakuan Israel terhadap aktivis pro-Palestina yang dicegat di laut saat dalam perjalanan menuju Gaza.

Akar masalah: Gaza dan jatuhnya rezim Assad

Para analis melihat hubungan Turki dan Israel makin tegang akibat dua peristiwa besar yang terus bergema. Pertama, perang Israel di Gaza yang dipicu serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, yang menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel.

Dalam laporan otoritas kesehatan Gaza, perang balasan Israel disebut telah menewaskan sekitar 73.000 orang. Angka tersebut mencakup puluhan ribu perempuan dan anak-anak, sehingga konflik tidak hanya menjadi persoalan strategi, tetapi juga persoalan kemanusiaan yang memperuncing sikap berbagai pihak.

Kedua, jatuhnya rezim Bashar al-Assad di Suriah pada akhir 2024 yang melahirkan pemerintahan baru pimpinan Ahmed al-Sharaa. Sosok ini disebut memiliki hubungan erat dengan Turki, sementara Israel justru menaruh kecurigaan terhadapnya.

Dengan demikian, Suriah menjadi titik gesekan paling berbahaya antara dua negara. Turki menginginkan Suriah yang stabil dan bersatu di bawah kepemimpinan yang didukungnya, sedangkan Israel lebih memilih keadaan Suriah yang terpecah dengan militer yang lemah agar tidak berubah menjadi ancaman.

Meluas ke kawasan lain dan strategi yang saling mengimbangi

Persaingan Turki dan Israel juga merembet jauh melampaui Timur Tengah. Di Tanduk Afrika, Turki memiliki relasi yang erat dengan Somalia melalui kehadiran diplomatik dan militer yang signifikan.

Sebaliknya, Israel pada Desember lalu disebut menjadi negara pertama yang mengakui kemerdekaan Somaliland. Langkah tersebut langsung dikecam keras oleh Erdogan, menambah lapisan ketegangan di luar panggung Suriah.

Di Mediterania Timur, Israel mempererat kerja sama militer dan energi dengan Yunani serta Siprus. Kedua negara itu memiliki sengketa wilayah lama dengan Turki, sehingga kerja sama tersebut dinilai turut memengaruhi kalkulasi keamanan Ankara.

Menjawab dinamika itu, Turki menandatangani pakta pertahanan bersama dengan Arab Saudi dan Pakistan pada bulan ini. Menurut para analis, perjanjian tersebut sebagian ditujukan untuk mengimbangi pengaruh Israel di kawasan.

Meski demikian, para pengamat sepakat bahwa kemungkinan keduanya terlibat bentrokan militer langsung relatif kecil. Salah satu alasan yang sering disebut adalah kepentingan besar Amerika Serikat—sekutu dekat Turki maupun Israel—untuk mencegah konflik terbuka agar tidak melebar.

Di sisi lain, sejumlah analis Israel berspekulasi bahwa serangan terhadap Suriah ikut dimanfaatkan Netanyahu untuk memperkuat citra keamanan nasionalnya. Spekulasi itu dikaitkan dengan momentum menjelang pemilu Israel pada Oktober mendatang.

Di ruang politik domestik, retorika yang sama-sama keras juga dinilai saling menguntungkan. Turki dan Israel sama-sama tidak populer di mata publik negara rivalnya, sehingga eskalasi lisan terhadap satu sama lain berpotensi menjadi modal untuk menjaga dukungan politik di dalam negeri.