jurnalistik.co.id – Royal Navy melangsungkan operasi pengawasan selama tiga hari di kawasan Laut Utara dan Selat Inggris, melibatkan kapal perang serta helikopter untuk memantau pergerakan kapal-kapal milik Rusia dan muatan yang dikenai sanksi.
Dalam operasi yang berlangsung pekan lalu, HMS Duncan, HMS St Albans, dan HMS Severn menggunakan radar untuk menelusuri empat kapal yang melintas di wilayah tersebut. Sementara itu, sebuah helikopter Merlin memberikan pemantauan dari udara selama periode operasi.
Operasi ini digambarkan sebagai langkah “intense” dalam upaya mengekang aktivitas Rusia di jalur laut yang dinilai terkait pengiriman barang dan pendanaan terlarang. Selain kapal-kapal yang dimonitor, aktivitas pengawasan juga mencakup pengamatan terhadap pola pelayaran dan perubahan rute.
Gen Sir Gwyn Jenkins, First Sea Lord dan Chief of Naval Staff, menyampaikan bahwa setelah operasi berjalan, kapal-kapal yang ia sebut sebagai “shadow fleet” Rusia semakin kerap dipaksa beralih rute. Menurutnya, perubahan itu menimbulkan biaya serta penundaan yang signifikan bagi perjalanan yang mereka jalankan.
Seiring pelaksanaan operasi, data yang disebutkan dalam laporan menunjukkan bahwa aktivitas Royal Navy untuk memantau pergerakan Rusia meningkat 25% sejauh ini pada tahun berjalan dibandingkan capaian pada 2025.
Dalam operasi yang dilakukan pada Agustus, pihak Royal Navy menyebutkan adanya keterlibatan kapal tipe destroyer dan fregat. Disebutkan bahwa armada pengawasan mencakup kapal perusak Type 45 dan fregat Type 23.
Pada masa tersebut, kapal-kapal Inggris melacak kapal perusak Rusia, Admiral Levchenko, saat mengawal kapal-kapal kargo yang dikenai sanksi. Admiral Levchenko disebut mengawal General Skobelev dan Sparta saat keduanya bergerak dari bagian utara menuju selatan, menyeberangi Laut Utara, lalu memasuki Selat Inggris.
Royal Navy juga menyatakan bahwa Rusia “terpaksa” merespons melalui pengerahan “costly military resources” yang mencakup fregat Neustrashimy. Penilaian itu ditempatkan sebagai indikator adanya respons militer yang memakan biaya.
Pernyataan yang disampaikan menyebutkan bahwa setelah tahap awal operasi, sebuah sekutu NATO kemudian mengambil alih pemantauan di area perairan lepas pantai Prancis. Namun, laporan tidak merinci negara sekutu yang dimaksud.
Pelaksanaan pengawasan tiga hari ini hadir setelah rangkaian operasi lain yang dilakukan di kawasan yang sama. Pada bulan Juni, Royal Marine Commandos melakukan penempelan (boarding) terhadap kapal tanker minyak Rusia yang dikaitkan dengan “shadow fleet” di Selat Inggris.
Dalam operasi tersebut, Marinir bekerja bersama petugas National Crime Agency (NCA) dengan dukungan dari RAF. Proses penyergapan dan penempelan kapal Smyrtos berlangsung selama enam jam, dan disebut sebagai operasi pertama sejenis oleh angkatan bersenjata Inggris.
Berita Terkait
NCA menyatakan bahwa petugasnya melakukan penangkapan terhadap seorang warga negara India berusia 38 tahun. Ia ditahan dengan dugaan pelanggaran terkait sanksi di bawah Russia Regulations, dan kemudian dibawa ke dalam tahanan.
Langkah-langkah di bidang penegakan dan pengawasan itu juga ditempatkan dalam konteks kebijakan sanksi yang lebih luas. Disebutkan bahwa Inggris telah memberikan sanksi kepada lebih dari 500 kapal yang dianggap tergabung dalam apa yang disebut sebagai “shadow fleet” Rusia.
Dampak terhadap arus ekonomi dan penggunaan pendapatan
Di bagian analisis yang disertakan dalam laporan, disebutkan perubahan komposisi pendapatan Rusia dari sektor minyak dan gas. Analisis oleh Oxford Institute for Energy Studies menyatakan bahwa proporsi pendapatan minyak dan gas terhadap total anggaran Rusia hanya mencapai 23% pada 2025.
Angka tersebut disebut sebagai yang terendah selama dua dekade terakhir. Namun, institut tersebut juga menyebut adanya kompensasi dari sumber penerimaan lain, terutama melalui kenaikan VAT dan pajak atas keuntungan perusahaan.
Laporan menambahkan bahwa Moskow juga mendapat manfaat dari kenaikan harga minyak setelah konflik Iran. Meski begitu, gambaran ekonomi yang lebih luas disebut mengalami perlambatan.
Rangkaian operasi maritim, baik melalui radar kapal maupun pengawasan helikopter, memperlihatkan fokus pada pemantauan jalur dan pergerakan yang dinilai berkaitan dengan pengiriman ilegal. Dalam waktu yang sama, upaya penindakan juga dikaitkan dengan konsekuensi operasional yang membuat kapal-kapal terkait sanksi harus menyesuaikan rute.
Dengan meningkatnya intensitas pemantauan, Royal Navy menempatkan aktivitasnya sebagai bagian dari upaya yang lebih luas untuk menekan mekanisme pelayaran yang mendukung “shadow fleet”. Dalam laporan, perubahan rute dan penundaan perjalanan disebut menjadi salah satu dampak yang ingin ditimbulkan dari pengawasan berkelanjutan.
Operasi tiga hari yang melibatkan HMS Duncan, HMS St Albans, dan HMS Severn juga menegaskan koordinasi lintas elemen, mulai dari pengamatan berbasis radar hingga pemantauan udara oleh helikopter Merlin. Kombinasi tersebut digunakan untuk memantau pergerakan empat kapal dalam lintasan Laut Utara dan Selat Inggris.
Di sisi lain, tahapan lanjutan yang dialihkan kepada sekutu NATO di lepas pantai Prancis menunjukkan bahwa pengawasan tidak berdiri sendiri. Meski negara sekutu tidak disebutkan, rangkaian tahapan itu menggambarkan kontinuitas pengamatan setelah fase awal operasi.
Secara keseluruhan, laporan mengaitkan tindakan di laut dengan respons militer, penindakan kapal tanker di Juni, serta kerangka sanksi yang menargetkan lebih dari 500 kapal. Di saat yang sama, analisis ekonomi yang menyertakan perubahan kontribusi pendapatan minyak dan gas menambah konteks tentang tekanan yang sedang terjadi pada perekonomian Rusia.












