jurnalistik.co.id – Di tengah ketegangan global yang diperkirakan memanjang, China disebut telah membangun cadangan minyak dalam skala sangat besar selama bertahun-tahun. Langkah ini dipandang memberi Beijing kelonggaran menghadapi gejolak pasar sekaligus menjadi “tameng” bila intervensi Barat kembali memanas.
Wall Street Journal, seperti dikutip pada Sabtu (29/08/2026), menyebut cadangan minyak China pada tahun lalu mencapai hampir 600 juta barel lebih besar dibandingkan milik Amerika Serikat. Dengan ukuran sebesar itu, China dapat menurunkan impor secara drastis saat konflik meletus, sehingga lonjakan harga minyak global lebih mudah ditekan dan ekonomi domestik ikut terlindungi dari guncangan.
Rangkaian kebijakan ini juga dibaca sebagai bagian dari upaya Presiden Xi Jinping untuk memperkuat ketahanan negara terhadap tekanan AS dan sekutunya. Selama beberapa dekade, para pemimpin China memang diliputi kekhawatiran atas ketergantungan minyak mentah impor yang sebagian besar mengalir melalui jalur perairan sempit.
Kekhawatiran tersebut tak lepas dari anggapan bahwa jalur seperti itu dapat diblokir dalam skenario konflik. Dalam narasi yang mengaitkan krisis Iran dengan kebutuhan energi, disebutkan bahwa kebijakan “energi otot” China berpotensi menjadi perangkat utama ketika pertarungan geopolitik—termasuk yang berkaitan dengan Taiwan—semakin memanas.
Cadangan sebagai alat menahan tekanan pasar
Peneliti dari think tank di bawah naungan BUMN China National Petroleum (CNPC) menyoroti bahwa kesiapan energi harus mempertimbangkan kondisi paling berat. Ia menyatakan, “Terhadap latar belakang dunia yang memasuki periode baru turbulensi dan transformasi, konflik regional yang terlokalisasi tidak lagi terbatas pada lokasi tertentu. Sektor energi China harus mempertahankan pemikiran batas bawah dan skenario ekstrem,”.
Cadangan minyak tersebut, ditambah perubahan cepat pada prioritas energi—yang disebut berada di luar perkiraan—membuat China berpeluang tampil sebagai pembeli pengayun (swing buyer) yang paling kuat di pasar energi global. Dampaknya sudah terlihat pada pergerakan impor minyak mentah.
Data yang disorot menyebut impor minyak mentah China anjlok agresif hingga 23% pada periode Maret hingga Juli dibandingkan tahun sebelumnya. Pada saat yang bersamaan, gambaran internal China saat krisis juga dipaparkan oleh Erica Downs dari Center on Global Energy Policy, Columbia University.
Downs mengungkapkan rasa percaya diri itu berangkat dari keyakinan bahwa gangguan dapat dikelola tanpa kepanikan. Ia berkata, “Hampir sejak hari pertama ada perasaan bahwa, ‘Kita mampu mengelola ini. Kita tidak perlu panik’,”.
Di masa depan, kekuatan ini diproyeksikan akan dipakai dalam bentrokan dengan AS, termasuk kemungkinan eskalasi terkait Taiwan. Disebutkan pula bahwa sebagian besar impor minyak China melintasi Selat Malaka—yang disetarakan risikonya dengan Selat Hormuz di Timur Tengah sebagai titik rawan (chokepoint) yang berpeluang disabotase.
Berita Terkait
Kerentanan yang berubah
Kepala penelitian energi China di Oxford Institute for Energy Studies, Michal Meidan, menegaskan persepsi tentang kerentanan yang selama ini melekat pada minyak tidak lagi sekuat dugaan. Ia menyatakan, “Minyak bukanlah tumit Achilles seperti yang kita duga. Saya pikir banyak orang mengira China sangat, sangat rentan terhadap gangguan pasokan minyak. Ternyata tidak,” tegasnya.
Meskipun China tidak pernah mempublikasikan angka pasti cadangan strategisnya, para analis memperkirakan totalnya mencapai 1 miliar hingga 1,4 miliar barel. Jumlah itu diperkirakan setara dengan sekitar 120 hari impor, memberi ruang kendali bila arus pasokan terganggu.
Mulai tahun 2024, China disebut mempercepat penimbunan hingga 1,2 juta barel per hari. Dalam prosesnya, China memanfaatkan “armada bayangan” untuk memborong minyak diskon dari Rusia dan Iran yang terkena sanksi. Penggunaan cadangan ini disebut menyumbang sekitar setengah dari penurunan impor China baru-baru ini.
Langkah pertahanan lainnya mencakup pembatasan ekspor produk minyak. Disebutkan bahwa ekspor bensin China turun 93% pada kuartal kedua, ekspor solar melemah seperempat, dan bahan bakar jet berkurang setengahnya.
Di sisi lain, Beijing juga dinarasikan telah mempersiapkan waktu bertahun-tahun melalui pengembangan energi terbarukan. Energi terbarukan disebut kini menyumbang sekitar dua perlima dari total pembangkit listrik nasional, sementara setengah dari mobil baru yang dijual di China tahun ini merupakan kendaraan energi baru (NEV).
Perubahan itu turut memengaruhi mobilitas harian: lalu lintas jalan raya turun 2%, sedangkan mobilitas kereta api naik 4%. Kombinasi strategi ini membuat rencana China tampak matang untuk menghadapi tekanan eksternal.
Namun, langkah yang dinilai agresif tidak sepenuhnya tanpa konsekuensi. China yang sebelumnya bergantung pada impor untuk sekitar 70% pasokan minyak mentahnya tidak bisa menekan impor selamanya tanpa mengorbankan pertumbuhan ekonomi.
Kepala analisis pasar minyak di Argus Media, Tom Reed, menyoroti adanya biaya ekonomi yang mengikuti kebijakan pembatasan ekspor. Ia mengungkapkan, “Membatasi ekspor memang merupakan tuas yang dapat ditarik China kapan saja, tetapi itu masih membawa biaya ekonomi,” ungkapnya.
Fakta ini turut dikonfirmasi Kepala Ekonom China di Macquarie, Larry Hu. Ia memperkirakan bahwa 90% dari perlambatan produksi industri Negeri Tirai Bambu pada kuartal kedua sangat terkait erat dengan rantai industri minyak dan petrokimia akibat tingginya harga serta hancurnya permintaan.












