Peristiwa

Kasus Pelecehan di UIN Walisongo Masih Buntu, Rektor Sebut Terduga Pelaku Tak di Indonesia

1
×

Kasus Pelecehan di UIN Walisongo Masih Buntu, Rektor Sebut Terduga Pelaku Tak di Indonesia

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Penanganan Kasus Pelecehan di UIN Walisongo Buntu, Rektor: Terduga Pelaku Tak di Indonesia

jurnalistik.co.id – Penanganan dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen terhadap mahasiswi di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang hingga kini belum bergerak jauh. Rektor UIN Walisongo Semarang, Musahadi, mengatakan bahwa pihak kampus masih belum bisa meminta keterangan secara detail dari korban maupun terduga pelaku.

Musahadi menyebut salah satu kendala utama adalah keberadaan terduga pelaku yang saat ini tidak berada di Indonesia. Kondisi itu membuat proses pendalaman kasus berjalan tersendat dan belum menghasilkan kejelasan yang diharapkan. “Karena apa namanya terduga pelaku itu sekarang kan sedang tidak berada di Indonesia,” kata Musahadi saat ditemui di Gedung Rektorat UIN Walisongo, Kamis (21/5/2026).

Meski begitu, pihak kampus menegaskan tetap akan menangani persoalan ini secara prosedural. UIN Walisongo, kata Musahadi, berkomitmen untuk mengacu pada aturan dan regulasi yang berkaitan dengan pencegahan tindak kekerasan seksual. Menurut dia, langkah itu menjadi dasar agar penanganan kasus tidak keluar dari jalur yang semestinya.

Dalam pandangannya, kampus juga memiliki kewajiban untuk melindungi korban. Namun, proses itu disebut tidak akan berjalan optimal jika tidak ada pihak yang berani menyampaikan keterangan secara terbuka. “Yang menjadi persoalan itu adalah kan harus ada yang speak up terkait dengan korban. Dan jika tidak ada yang speak up, bagaimana kita bisa mau mem follow up?” ucapnya.

Karena itu, Musahadi meminta korban agar berani bersuara supaya kasus tersebut dapat diselesaikan hingga tuntas. Ia menegaskan, tanpa keterangan dari pihak yang terdampak langsung, pihak kampus akan kesulitan menentukan langkah lanjutan. “Yang mau dimintai keterangan siapa?” ujarnya.

Kasus dugaan pelecehan seksual di UIN Walisongo sebelumnya mencuat setelah beredar tangkapan layar percakapan bernada cabul yang diduga dikirim seorang dosen kepada mahasiswinya. Percakapan itu kemudian memicu perhatian luas karena diduga berkaitan dengan perilaku tidak pantas yang meresahkan di lingkungan kampus.

Perbincangan soal kasus ini semakin ramai setelah akun Instagram @pesan_uinws mengunggah aduan terkait perilaku yang disebut-sebut meresahkan mahasiswa. Dalam unggahan itu, akun tersebut juga menampilkan tangkapan layar percakapan yang berisi kalimat bernada vulgar dan diduga dikirim oleh oknum dosen kepada korban.

Di dalam keterangan unggahan yang dikutip Kamis (7/5/2026) malam, akun tersebut menulis, “Ki bapak bergitar kok suwi-suwi meresahkan to, tulung ditindaklanjuti bolo. Sudah banyak korban yang speak up melalui dm mimin.” Unggahan itu kemudian memantik reaksi luas dari warganet yang mendesak kampus agar segera mengambil langkah tegas dan mengusut dugaan pelecehan seksual tersebut secara transparan.

Kasus ini turut menempatkan UIN Walisongo dalam sorotan publik, terutama karena desakan agar kampus tidak berhenti pada pengakuan adanya persoalan, tetapi juga memastikan penanganan yang jelas. Hingga saat ini, Musahadi menegaskan bahwa proses masih berlangsung dan masih terkendala pada keterangan yang belum bisa diperoleh secara utuh dari pihak-pihak yang terkait langsung.

Penanganan dugaan pelecehan seksual oleh oknum dosen terhadap mahasiswi di Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang hingga kini belum bergerak jauh. Rektor UIN Walisongo Semarang, Musahadi, mengatakan bahwa pihak kampus masih belum bisa meminta keterangan secara detail dari korban maupun terduga pelaku.

Musahadi menyebut salah satu kendala utama adalah keberadaan terduga pelaku yang saat ini tidak berada di Indonesia. Kondisi itu membuat proses pendalaman kasus berjalan tersendat dan belum menghasilkan kejelasan yang diharapkan. “Karena apa namanya terduga pelaku itu sekarang kan sedang tidak berada di Indonesia,” kata Musahadi saat ditemui di Gedung Rektorat UIN Walisongo, Kamis (21/5/2026).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *