jurnalistik.co.id – Teheran kembali mengirim sinyal keras ke Washington setelah militer Iran memperingatkan bahwa mereka siap membuka front baru melawan Amerika Serikat jika serangan berlanjut. Peringatan itu disampaikan di tengah situasi yang masih tegang usai Presiden AS Donald Trump mengatakan dirinya menunda peluncuran serangan baru dengan harapan masih ada peluang untuk mencapai kesepakatan.
Juru bicara militer Iran, Mohammad Akraminia, menegaskan bahwa Teheran tidak akan tinggal diam bila agresi kembali diarahkan ke Iran. Ia mengucapkan peringatan tersebut dengan nada terbuka dan langsung, sembari menyebut pihak lawan bisa saja terjebak dalam perang yang lebih luas jika terus mendorong eskalasi.
“Jika musuh cukup bodoh untuk terjebak dalam perangkap Zionis lagi dan melancarkan agresi baru terhadap Iran tercinta kami, kami akan membuka front-front baru melawan mereka, dengan peralatan dan metode baru,” kata Akraminia.
Meski demikian, ia tidak menjelaskan lebih jauh seperti apa bentuk peralatan dan metode baru yang dimaksud. Pernyataan itu hanya berhenti pada penegasan bahwa militer Iran memiliki opsi dan kemampuan berbeda yang bisa digunakan bila situasi memaksa mereka merespons lebih jauh.
Akraminia juga mengatakan Teheran telah memanfaatkan waktu gencatan senjata untuk memperkuat kemampuan tempurnya. Namun, seperti pernyataannya yang lain, ia tidak membeberkan rincian tambahan soal langkah yang telah diambil Iran selama masa jeda tersebut.
Di bagian lain, ia menegaskan kembali bahwa Iran akan mempertahankan kendali atas Selat Hormuz. Jalur pelayaran strategis itu disebut tetap berada dalam pengawasan Iran, dan Teheran juga ingin mengenakan biaya kepada kapal-kapal yang melintasinya.
“Satu-satunya jalan bagi musuh adalah menghormati bangsa Iran dan menjunjung tinggi hak-hak sah Republik Islam,” katanya.
Iran klaim siap hadapi serangan kapan saja
Wakil Menteri Luar Negeri Iran untuk urusan hukum dan internasional, Kazem Gharibabadi, turut menanggapi pernyataan Trump soal penundaan serangan. Menurut dia, langkah itu tidak serta-merta meredakan ancaman, justru menunjukkan bahwa serangan besar bisa tetap terjadi kapan saja.
“Namun pada saat yang sama, ini menunjukkan kesiapan untuk serangan besar-besaran kapan saja,” tulis Gharibabadi di X, dilansir Al Jazeera, Selasa.
Ia kemudian menambahkan bahwa cara pandang seperti itu sama saja dengan membungkus ancaman dalam bahasa yang terdengar lebih lunak.
“Ini berarti menyebut ‘ancaman’ dengan nama ‘peluang untuk perdamaian’!” sambungnya.
Gharibabadi juga menegaskan bahwa Iran tidak akan mundur bila Washington memilih jalur militer. Menurut dia, Teheran dalam kondisi bersatu dan tetap teguh menghadapi kemungkinan agresi dari mana pun.
“Iran, bersatu dan teguh, siap menghadapi agresi militer apa pun,” pungkasnya.
Di sisi lain, Trump sebelumnya menyampaikan lewat unggahan di platform Truth Social miliknya bahwa ia menunda rencana serangan militer ke Iran. Dalam unggahan itu, Trump menyebut keputusan tersebut diambil karena negosiasi serius sedang berlangsung.
“Menunda serangan militer yang direncanakan terhadap Republik Islam Iran, yang dijadwalkan besok, karena negosiasi serius sedang berlangsung,” tulis Trump, Senin (18/5/2026).
Pernyataan dari kedua pihak itu memperlihatkan bahwa ketegangan belum mereda. Iran memilih mengirim pesan kesiapan tempur, sementara AS masih membuka ruang negosiasi. Namun, di tengah saling ancam itu, belum ada tanda yang benar-benar memastikan arah hubungan keduanya akan bergerak ke damai atau justru menuju eskalasi baru.
Untuk saat ini, Teheran menempatkan diri dalam posisi waspada dan siap membalas bila serangan kembali terjadi. Di saat yang sama, Iran juga menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap menjadi titik penting yang ingin mereka kendalikan, baik secara strategis maupun dalam bentuk pengaturan biaya bagi kapal yang melintas.
Situasi tersebut membuat pernyataan Akraminia dan Gharibabadi menjadi penanda bahwa Iran ingin menunjukkan mereka tidak hanya bersiap secara retoris, tetapi juga ingin menampilkan kesan bahwa kemampuan dan metode yang dimiliki sudah disiapkan untuk menghadapi skenario terburuk. Walau detailnya belum diungkap, pesan politik dan militernya sudah jelas: bila perang berlanjut, Iran mengklaim tidak akan bertahan dengan cara lama.












