Daerah

Dato Sri Tahir Mendirikan Museum di Solo: Ini Pertimbangannya

×

Dato Sri Tahir Mendirikan Museum di Solo: Ini Pertimbangannya

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Alasan Orang Terkaya di Indonesia Bangun Museum di Solo, Ini Alasannya

jurnalistik.co.id – Tahir Solo Museum di Kota Solo, Jawa Tengah, resmi dibuka untuk masyarakat setelah menjalani soft opening. Museum ini dihadirkan sebagai destinasi baru yang menggabungkan berbagai koleksi dengan pengalaman edukasi bagi pengunjung.

Pembangunan museum tersebut dilakukan oleh Tahir Foundation, yayasan yang berada di bawah Dato Sri Tahir. Dato Sri Tahir dikenal sebagai pendiri Mayapada Group dan masuk dalam daftar orang terkaya di Indonesia versi Forbes.

Menurut Forbes Billionaires List, pada Selasa (11/8/2026) kekayaan Tahir tercatat mencapai 9,4 miliar dollar AS atau sekitar Rp 167 triliun. Nilai tersebut menempatkannya di posisi kelima orang terkaya di Indonesia, berada di bawah Low Tuck Kwong, Prajogo Pangestu, Budi Hartono, dan Anthony Salim.

Soft opening, lalu dibuka untuk publik

Soft opening membuat museum mulai dapat diakses masyarakat, sekaligus menandai tahap awal operasional. Saat ini, museum juga telah menerima kunjungan sekitar 1.000 hingga 2.500 pengunjung.

Selain menjadi ruang pamer, museum dirancang sebagai wahana yang mendorong pengunjung memperoleh pengetahuan melalui pengalaman yang dikemas untuk publik. Hal tersebut tercermin dari penyebutan museum sebagai tempat yang menawarkan koleksi serta pengalaman edukasi.

Pengelolaan masih di tahap transisi

Meski aset museum sudah menjadi milik Pemkot Solo, pengelolaan museum untuk sementara masih berada di bawah Tahir Foundation. Alasannya, pihak Pemkot Solo dinilai belum memiliki pengalaman yang cukup untuk menjalankan museum bertaraf internasional.

Proses peralihan pengelolaan tidak dilakukan sekaligus. Tahir Foundation dan Pemkot Solo akan bekerja dalam mekanisme bertahap, dengan pembagian tanggung jawab pada tahun kedua yang ditetapkan masing-masing 50 persen.

Dari rencana yang disampaikan, Pemkot Solo ditargetkan mengambil alih seluruh pengelolaan museum pada tahun ketiga. Dengan skema transisi tersebut, diharapkan pengoperasian museum dapat berjalan lebih stabil sembari pengetahuan pengelolaan dialihkan.

Alasan membangun museum di Solo

Keputusan membangun Tahir Solo Museum disebut sebagai bagian dari kontribusi Founder Tahir Foundation untuk Kota Solo. Perwakilan pengelola, Tjoe K. Sugiharto, menyebutkan keputusan ini berkaitan dengan ibu Dato Sri Tahir yang merupakan orang Solo.

Sugiharto juga menjelaskan bahwa museum dibangun sebagai kenang-kenangan sekaligus bentuk kontribusi kepada kota tempat asal keluarga Dato Sri Tahir. Ia mengatakan, “Tahir Foundation CSR-nya itu yaitu membangun museum itu. Terus pertanyaannya kenapa kok Pak Tahir mau bangun ya karena ibundanya itu kan orang Solo beliau ingin ada satu kenang-kenanganlah bahwa itu di Solo kota Solo itu beliau bisa mengkontribusi ke kota Solo itu beliau bisa mengkontribusi ke kota Solo itu,” ujar Sugiharto dilansir dari TribunSolo, Selasa (11/8/2026).

Sugiharto menyatakan keyakinannya bahwa keberadaan museum dapat memberi manfaat bagi masyarakat. Ia juga berharap museum berkembang menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Solo seiring berjalannya waktu dan penguatan pengelolaan.

Setelah fase soft opening, museum mulai menjalankan fungsi layanan kepada pengunjung dan menjadi ruang yang dapat didatangi secara langsung. Pada periode awal ini, jumlah kunjungan telah mencapai kisaran sekitar 1.000 hingga 2.500 orang, yang menunjukkan respons masyarakat sejak tahap pembuka.

Dalam rancangan pengelolaannya, Tahir Solo Museum tidak hanya berperan sebagai area pamer, tetapi juga ditata agar pengunjung mendapatkan pemahaman melalui pengalaman yang disusun untuk publik. Karena itu, penyebutan museum sebagai gabungan koleksi dan edukasi menjadi bagian dari cara museum memperkenalkan kontennya kepada pengunjung.

Untuk aspek operasional, transisi pengelolaan dijalankan bertahap. Walau aset museum sudah menjadi milik Pemkot Solo, pengelolaan sementara tetap berada di bawah Tahir Foundation karena adanya penilaian bahwa pengalaman Pemkot Solo dalam menjalankan museum berskala internasional masih perlu diperkuat. Dalam skema yang disampaikan, pembagian tanggung jawab ditargetkan mulai tahun kedua dengan porsi masing-masing 50 persen, lalu pada tahun ketiga Pemkot Solo diharapkan mengambil alih seluruh pengelolaan.

Keberadaan museum juga dikaitkan dengan latar keluarga Dato Sri Tahir. Perwakilan pengelola menyebutkan bahwa keputusan pembangunan dimaksudkan sebagai kenang-kenangan sekaligus bentuk kontribusi dari Tahir Foundation kepada Kota Solo, mengingat ibu Dato Sri Tahir merupakan orang Solo. Melalui langkah tersebut, pengelola berharap museum dapat berkembang menjadi salah satu tujuan wisata di Kota Solo seiring penguatan pengelolaan.