jurnalistik.co.id – Menjelang jeda internasional yang berlangsung hampir tiga minggu, Premier League sudah melewati lima laga pembuka musim ini—dan sejumlah pelajaran langsung terlihat. Jendela empat pertandingan untuk tim nasional pun tinggal di depan mata, sementara persaingan antarklub mulai menunjukkan pola yang lebih jelas.
Salah satu sorotan terbesar datang dari Arsenal. Setelah memulai musim dengan kesan “tak terbendung”, peluang memperpanjang tren kemenangan beruntun hingga delapan laga di semua kompetisi kandas saat mereka kalah 3-0 dari Brighton di Stadion Amex. Kekalahan itu memutus rekor buruk yang justru panjang: The Gunners tak pernah kalah di liga dengan margin lebih dari satu gol sejak Oktober 2024.
Arteta menilai hasil tersebut sebagai peringatan penting sekaligus refleksi atas perjalanan klub dalam beberapa minggu terakhir. Ia mengatakan, “That’s not going to take away what the team has done and the boys have done in the last six or seven weeks since coming back from the World Cup,” lalu menambahkan, “What we’ve done, the way we’ve competed and the amount of games we’ve won has been remarkable – but this is a big lesson for all of us to understand what it takes to win at this level.”
Di sisi lain, Manchester City menjadi bukti bahwa transisi pelatih tidak langsung mengubah ritme permainan. Di bawah Enzo Maresca, City memulai musim dengan pukulan dari Community Shield oleh Arsenal, namun setelah itu mereka meraih kemenangan di semua lima pertandingan liga. Secara keseluruhan, mereka juga memperpanjang tren positif menjadi tujuh laga beruntun di semua kompetisi setelah kemenangan 5-3 atas Sunderland pada Minggu.
Kemenangan tersebut membawa City unggul tiga poin dari Arsenal. Maresca menilai laga-laga awal sebagai proses pembelajaran: “In the press conference before the game, I said I expect a very tough game.” Ia melanjutkan, “Then we also conceded two or three goals but we have learned a lot in these eight weeks and this is good.”
Brighton dan Brentford juga terus menarik perhatian karena kemampuan mempertahankan konsistensi. Brighton, yang menorehkan kemenangan 3-0 atas Arsenal, duduk di posisi ketiga dengan jarak hanya dua poin dari Gunners. Menurut catatan musim terakhir, Brighton bahkan berhasil menang kandang atas juara bertahan Premier League pada tiga musim beruntun.
Pascal Gross sempat menepis pembicaraan soal perebutan gelar ketika ditanya oleh BBC Sport apakah Albion berada di jalur juara, ia menjawab “no”. Sementara itu, Brentford berada satu poin di bawah Brighton, setelah tampil tak terkalahkan dalam lima laga pembuka dan menempati urutan keempat.
Tak hanya posisi, hasil Brentford juga terasa meyakinkan. Mereka masuk jeda internasional setelah kemenangan 3-0 kandang atas Chelsea, menguatkan sinyal bahwa perubahan susunan tim tidak mengganggu struktur permainan. Leeds yang dilatih Daniel Farke turut berada dalam pola serupa dengan sembilan poin dan peluang kuat untuk bercita-cita ke Liga Champions.
Berita Terkait
Di luar itu, Liverpool dan Everton berada tepat di bawah mereka berdasarkan selisih gol, dipengaruhi langsung dinamika awal musim yang ketat. Semua gambaran ini memperlihatkan bahwa klasemen awal tidak sekadar hasil sesaat, melainkan sudah memperlihatkan siapa yang siap menghadapi tuntutan kompetisi jangka panjang.
Kisah lain yang menonjol datang dari Manchester United. Mereka melakukan pergantian pelatih sementara melalui manuver yang mirip dengan musim yang lalu—namun kali ini dampaknya belum mampu mendongkrak performa. United pernah menunjuk Ole Gunnar Solskjaer pada 2019, dan kali ini pilihan jatuh pada Michael Carrick, dengan kondisi bahwa setelah masa musim panas menyiapkan tim, mereka baru meraih satu kemenangan di liga.
Dengan lima poin setelah lima laga, United mencatat jumlah poin terendah yang setara pada tahap yang sama di sejarah Premier League. Menjelang jeda internasional, mereka hanya mampu bermain 1-1 melawan Fulham, bahkan harus menahan kemenangan Fulham yang sempat mengarah berkat gol Matheus Cunha pada menit akhir—gol itu juga disebut sebagai defleksi. Setelah Lisandro Martinez mencetak gol bunuh diri yang membawa Fulham unggul, Gary Neville mengomentari jalannya laga di Sky Sports dengan mengatakan, “I’ve watched Manchester United since the age of five and that’s the worst 15 minutes I’ve ever seen.” Ia menambahkan, “Absolutely pathetic. I’ve never seen such a lack of effort.”
Jeda internasional memberi waktu hampir tiga minggu bagi klub untuk “mencerna” situasi tersebut sebelum menjamu Tottenham pada 10 Oktober. Tottenham sendiri juga menjadi bagian dari narasi awal musim yang belum menunjukkan perbaikan cepat, meski mereka menghabiskan investasi besar pada musim panas.
Tottenham finis 17th pada dua musim terakhir, sekaligus menjadi dua capaian terendah mereka sejak turun ke kasta kedua pada 1977-78. Ekspektasi sempat naik karena belanja besar—mereka dikabarkan menggelontorkan £302m, serta mendatangkan dua pemain dengan skema pinjaman berdampak tinggi. Namun, masalah di lini pertahanan dan tengah lapangan yang disusun ulang belum menjamin stabilitas, dan pilihan penyerang senior mereka yang tersisa, Dominic Solanke, baru mencetak 12 gol Premier League dalam lebih dari dua tahun di klub.
Joe Cole menilai situasinya tidak mudah: “I feel they have overpaid for every player they bought this summer – you can’t rule them out from being in and around the relegation battle.” Kekalahan 3-2 dari Aston Villa pada Sabtu menempatkan Tottenham di posisi ke-19 saat jeda dimulai, meski mereka sempat mencetak dua gol pertama kampanye liga. Roberto de Zerbi menegaskan cara pandang yang keras tentang kebutuhan memenangi duel sejak menit awal: “We have to put on the pitch something more than we are putting,” dan “Football is tactical but it is blood, it is fighting, it is first one on the ball. We will suffer until the next game.”
Terakhir, Chelsea menarik perhatian sebagai tim yang paling menghibur—meski tidak selalu nyaman bagi penggemarnya. Xabi Alonso disebut menjadi pusat perhatian, mengingat ia membawa Bayer Leverkusen meraih “unbeaten German double” pada 2023-24. Chelsea melakukan perubahan skuat dengan menghadirkan Morgan Rogers senilai £117m dan kiper Emiliano Martinez, keduanya datang dari Aston Villa.
Dalam lima laga liga, Chelsea mencetak 22 gol—namun kebobolan lebih banyak daripada yang mereka buat—dan mereka berada di peringkat 10. Bahkan kemenangan 6-3 atas Leeds di Carabao Cup belum ikut menghitung total itu. Alur permainan seperti ini menjelaskan mengapa, menurut ringkasan tersebut, pertandingan Chelsea terasa sangat menghibur bagi penonton netral, tetapi mungkin tidak sepenuhnya sejalan dengan harapan fans dan manajemen.











