Olahraga

Pelajaran dari Premier League Setakat Ini Menjelang Jeda Internasional

×

Pelajaran dari Premier League Setakat Ini Menjelang Jeda Internasional

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: What we have learned from the Premier League so far as international break looms

jurnalistik.co.id – Liga Inggris memasuki jeda internasional yang hampir tiga pekan, setelah menyelesaikan lima pertandingan awal musim. BBC Sport menilai sejumlah pelajaran awal yang muncul menjelang jeda empat pertandingan internasional.

Musim ini membuka tanda tanya sejak awal bahwa tidak ada tim yang benar-benar kebal. Hasil-hasil di lima laga pertama memperlihatkan persaingan yang berubah cepat, sekaligus menegaskan betapa tipisnya margin di Premier League.

Arsenal, juara musim lalu, sempat terlihat seperti mesin yang nyaris tak tersentuh. Mereka bergerak dengan gaya yang membuat tim lawan sulit menemukan ritme, tetapi perjalanan itu terhenti saat Brighton memaksa mereka menelan kekalahan telak 3-0 di Amex Stadium.

Kemenangan Brighton pada akhir pekan itu mengakhiri peluang Arsenal untuk menyamai rekor klub delapan kemenangan beruntun di semua kompetisi jika mereka menang atas Brighton. Dalam sejarah liga, Arsenal juga mencatat keterkejutan karena mereka tidak pernah kalah dengan selisih lebih dari satu gol—apalagi tiga gol—sejak Oktober 2024.

Kekalahan 3-0 tersebut juga menjadi yang terberat Arsenal di liga sejak Mei 2023, ketika mereka juga kalah 3-0 dari lawan yang sama. Bagi Mikel Arteta, hasil ini diposisikan sebagai pelajaran besar, bukan noda yang menghapus capaian sebelumnya.

Arteta menyatakan, “That’s not going to take away what the team has done and the boys have done in the last six or seven weeks since coming back from the World Cup.” Ia menambahkan, “What we’ve done, the way we’ve competed and the amount of games we’ve won has been remarkable – but this is a big lesson for all of us to understand what it takes to win at this level.”

Di sisi lain, Manchester City justru memperlihatkan respons yang cepat di bawah Enzo Maresca. Banyak pengamat sempat mengaitkan transisi setelah kepergian Pep Guardiola dengan kemungkinan penurunan performa, apalagi Maresca memulai musim dengan kekalahan di Community Shield dari Arsenal.

Namun, City tidak memberikan ruang untuk keraguan. Mereka memenangkan seluruh lima pertandingan liga yang dijalani, dan total tujuh laga beruntun di semua kompetisi setelah kemenangan 5-3 atas Sunderland pada Minggu.

Kemenangan tersebut membuat City mengoleksi tiga poin lebih unggul daripada Arsenal saat memasuki jeda. Maresca menggambarkan laga dengan nada reflektif: “In the press conference before the game, I said I expect a very tough game.”

Ia melanjutkan, “Then we also conceded two or three goals but we have learned a lot in these eight weeks and this is good.” Pesan utamanya menekankan bahwa bahkan ketika pertandingan berjalan tidak sesuai skema sempurna, proses belajar tetap berjalan.

Nama lain yang terus mencuri perhatian datang dari Brighton dan Brentford. Brighton menumbangkan Arsenal 3-0 dan menempati posisi ketiga, hanya tertinggal dua poin dari Gunners.

Catatan pentingnya, Brighton selalu menang di kandang saat menghadapi juara Premier League yang sedang berjalan pada tiga musim terakhir. Pascal Gross bahkan menanggapi pertanyaan BBC Sport tentang peluang perebutan gelar dengan tawa, lalu menjawab “no”.

Setelah itu, Brentford berdiri tepat satu poin di bawah Brighton. Keith Andrews—terkait dengan Brentford—melanjutkan tren positif, apalagi banyak yang menilai The Bees akan kesulitan setelah kepergian Thomas Frank pada musim panas lalu.

Nyatanya, Brentford malah terlihat makin solid. Mereka tetap tak terkalahkan setelah lima pertandingan, berada di peringkat keempat, dan memasuki jeda dengan hasil paling menonjol berupa kemenangan kandang 3-0 atas Chelsea.

Selain itu, Leeds juga menunjukkan konsistensi yang membuat mereka berada di papan atas. Mereka mengoleksi sembilan poin dan tampil dalam posisi yang berpotensi mengarah ke jalur Liga Champions.

Di belakangnya, Liverpool dan Everton berada dekat posisi tersebut dengan jarak yang ketat berdasarkan selisih gol. Andoni Iraola punya tim yang ikut menjaga daya saing di area atas.

Berbeda dengan beberapa klub yang menguat, kondisi Manchester United di bawah Michael Carrick memunculkan kecemasan. Setelah penunjukan tersebut, Carrick mendapat waktu musim panas untuk membentuk tim, tetapi United hanya mampu meraih satu kemenangan di liga.

Dengan lima poin dari lima laga liga, mereka mencatat hasil bersama terendah pada tahap ini dalam sejarah Premier League. Saat jeda internasional tiba, United membawa hasil imbang 1-1 melawan Fulham, di mana mereka bahkan membutuhkan gol Matheus Cunha yang berbelok di menit akhir untuk menahan kekalahan.

Fulham sempat unggul lebih dulu berkat gol bunuh diri Lisandro Martinez. Gary Neville, mantan kapten United, menyampaikan penilaian keras saat laga berlangsung, “I’ve watched Manchester United since the age of five and that’s the worst 15 minutes I’ve ever seen.”

Neville melanjutkan, “Absolutely pathetic. I’ve never seen such a lack of effort.”

Dengan hampir tiga pekan jeda di depan, para pemilik klub memiliki waktu untuk “menyimpan” pertanyaan-pertanyaan tersebut sebelum United menghadapi Tottenham pada 10 Oktober.

Jeda juga menjadi momen untuk membaca tren lain: tim promosi tidak lagi otomatis menjadi korban. Pada 2024 dan 2025, tiga tim promosi langsung terlempar lagi, dan umumnya mengemas poin yang sangat rendah.

Pola itu sempat patah musim lalu, ketika Sunderland finis ketujuh untuk memastikan tiket Eropa dan Leeds berakhir di peringkat 14. Hanya Burnley yang terdegradasi, sementara yang lain menunjukkan bahwa adaptasi bisa terjadi.

Di awal musim ini, sinyal serupa mulai muncul. Hull City menempati posisi kedelapan setelah lima pertandingan dan menelan kekalahan pertama mereka dengan skor 2-1 dari Newcastle.

Ipswich berada di peringkat 11. Coventry, yang sempat kalah dalam empat laga pertama tanpa mencetak gol, akhirnya mengalahkan Nottingham Forest 1-0 dan saat ini hanya terperosok di zona degradasi berdasarkan selisih gol.

Pada saat yang sama, Tottenham memperlihatkan bahwa perubahan besar tidak selalu menghadirkan perbaikan cepat. Mereka finis 17 besar pada dua musim terakhir, dengan dua hasil terendah sejak era mereka bermain di divisi kedua pada 1977-78.

Harapan sempat meningkat karena belanja besar di musim panas, ketika Spurs menggelontorkan dana sebesar ÂŁ302m serta mendatangkan dua pemain pinjaman yang profilnya tinggi. Pertahanan dan lini tengah juga mengalami perombakan, termasuk penambahan winger baru.

Meski begitu, masalah lain mengemuka pada lini depan: Tottenham hanya menyisakan satu striker senior, Dominic Solanke, yang mencatat 12 gol Premier League dalam lebih dari dua tahun bersama klub. Joe Cole, pengulas TNT dan mantan internasional Inggris, mengkritik dengan nada tegas, “I feel they have overpaid for every player they bought this summer – you can’t rule them out from being in and around the relegation battle.”

Kekalahan 3-2 dari Aston Villa pada Sabtu membuat Tottenham berada di peringkat 19 saat jeda tiba, sekalipun mereka baru mencetak dua gol liga pertama mereka musim ini. Roberto de Zerbi menanggapi kondisi itu dengan kalimat yang menekankan kebutuhan sikap, “We have to put on the pitch something more than we are putting.”

Ia menambahkan, “Football is tactical but it is blood, it is fighting, it is first one on the ball. We will suffer until the next game.”

Sementara itu, Chelsea menjadi sorotan lain karena gaya permainan mereka yang menghibur meski tidak selalu stabil. Xabi Alonso mengambil peran di Stamford Bridge setelah sebelumnya memimpin Bayer Leverkusen menuju double Jerman yang bersejarah tanpa kekalahan pada 2023-24.

Perubahan skuat musim panas juga terasa besar, dengan Morgan Rogers—gelandang serang senilai £117m—serta kiper utama baru Emiliano Martinez yang didatangkan dari Aston Villa. Dalam lima pertandingan liga, Chelsea mencetak 22 gol, tetapi jumlah kebobolan juga ikut membuat cerita menjadi tidak seimbang.

Mereka berada di peringkat 10, bahkan belum termasuk kemenangan 6-3 atas Leeds di Carabao Cup. Bagi penonton netral, permainan seperti ini terasa menarik, namun untuk pendukung dan manajemen Chelsea, hasil-hasil tersebut jelas memunculkan pertanyaan.