Olahraga

Putusan Premier League soal 115 dakwaan Manchester City: sanksi apa yang mungkin, dan apakah akan banding?

×

Putusan Premier League soal 115 dakwaan Manchester City: sanksi apa yang mungkin, dan apakah akan banding?

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Manchester City charges: What punishment could club face after Premier League verdict and will they appeal?

jurnalistik.co.id – Putusan Premier League untuk 115 dakwaan Manchester City telah keluar. Klub dinyatakan bersalah atas mayoritas pelanggaran aturan finansial, dan langkah banding diperkirakan akan menjadi jalan berikutnya—sementara kepastian mengenai bentuk sanksinya masih menggantung.

Keputusan itu muncul lebih dari dua tahun setelah persidangan dimulai. Premier League menerima tuduhan pada 1.329 hari sebelum putusan ini diketahui, dan jeda waktu yang panjang tersebut kini berujung pada vonis panel independen. Menariknya, kabar putusan tidak datang dari Premier League atau pihak Manchester City, melainkan dari laporan Athletic yang membongkar cerita tersebut.

Menurut informasi yang kemudian disampaikan, berkas putusan dikirim minggu ini kepada eksekutif klub. Mereka harus menandatangani perjanjian kerahasiaan (non-disclosure agreement) agar bisa mengakses detail kasus. Meski prosedur tampak “watertight”, ketika “lingkaran kepercayaan” diperluas ke lebih banyak pihak, peluang informasi bocor tetap meningkat. Di sisi lain, Premier League tetap bungkam di ruang publik.

Dari kacamata Manchester City, mereka juga tidak secara gamblang mengonfirmasi status bersalah dalam pernyataan resmi. Klub hanya menyatakan bahwa dari sudut pandangnya, “process remains ongoing”, sembari mengisyaratkan banding akan ditempuh. Rentetan situasi ini memperkuat kesan bahwa saga panjang tersebut belum benar-benar mencapai akhir.

Skema sanksi: dari potongan poin hingga kemungkinan lain

Karena dakwaan dinilai serius, potensi sanksi berupa pengurangan poin kini dipandang hampir tak terelakkan. Namun, kapan dan bagaimana hukuman itu diterapkan akan menjadi penentu besar, bukan hanya bagi Manchester City, melainkan juga bagi lanskap kompetisi Premier League secara keseluruhan.

Pertanyaan berikutnya adalah apakah sanksi diumumkan tahun ini, dan apakah prosesnya akan berlangsung cepat atau terseret menunggu hasil banding. Dalam situasi seperti ini, semua opsi pada akhirnya bisa “masuk meja” dalam sidang sanksi lanjutan—mulai dari denda, pengurangan poin, hingga kemungkinan demosi. Hal tersebut menandai perbedaan dengan kasus Chelsea pada awal musim ini, saat klub memilih melaporkan sendiri dan mengakui kesalahan sehingga bisa bernegosiasi untuk mencapai kesepakatan sanksi.

Manchester City sendiri, dalam pandangan BBC Sport, kemungkinan kecil memilih jalur kesepakatan. Klub selama bertahun-tahun konsisten menyangkal tuduhan. Panel independen juga harus menelaah ratusan halaman bukti sebelum menetapkan bentuk hukuman, sehingga proses keputusan sanksi dapat memakan waktu.

Dalam catatan preseden, Everton pernah didenda potongan enam poin yang kemudian diturunkan menjadi dua poin dalam rangkaian kasus berbeda terkait profit and sustainability rules (PSR). Nottingham Forest juga mendapat pengurangan empat poin—kasus-kasus tersebut dipandang sebagai pelanggaran yang lebih minor dibanding beban dakwaan yang dihadapi Manchester City.

Bahkan bila dibatasi pada PSR, Manchester City menghadapi tujuh dakwaan terpisah di Premier League saja, ditambah lima dakwaan terkait kompetisi UEFA. Tambahan rincian yang dibahas mencakup dugaan pendapatan sponsor yang “inflated” dialirkan melalui akun perusahaan untuk memenuhi standar financial fair play, pembayaran kepada pemain dan manajer, serta kegagalan mematuhi proses investigasi. Kombinasi faktor itu membuat diskusi soal besarnya potensi hukuman kian besar, sekaligus memunculkan “asterisk” terhadap rentang 2009 hingga 2018 di kompetisi.

Jika tak ada keputusan hukuman pada musim ini, dampaknya berpotensi menimbulkan tanda tanya bagi integritas liga. BBC Sport menyoroti kemungkinan sanksi tidak bisa dengan mudah diberlakukan secara retrospektif pada musim yang sedang berjalan. Contoh yang digambarkan adalah posisi Coventry yang saat ini berada di urutan ketiga dari bawah: bila mereka berakhir di posisi itu, tersingkir—padahal mereka kemungkinan akan bertahan apabila hukuman City sudah datang pada musim ini—maka ketidakpastian semacam itu menjadi masalah besar bagi kompetisi.

Dalam konteks jadwal, tim asuhan Enzo Maresca bertandang ke Liverpool pada 11 Oktober saat Premier League kembali setelah jeda internasional. Peluang mereka untuk melebar enam poin di puncak klasemen juga disebut, tetapi pertanyaan apakah angka-angka itu akan tetap bermakna muncul seiring vonis dan ancaman sanksi yang belum jelas.

Empat kemungkinan skenario setelah putusan

Skenario satu: tidak ada keputusan sanksi pada musim ini

Dalam skenario ini, keputusan sanksi bisa tidak diumumkan musim ini. Walaupun menentukan sanksi sering kali lebih cepat daripada memastikan kesalahan, kepastian belum tentu terjadi. Karena dakwaan yang dibantah, sidang sanksi yang dipimpin panel independen dapat berlangsung dalam hitungan bulan, dan hasilnya bahkan mungkin tidak dipublikasikan sampai proses banding selesai.

Jika jalur ini terjadi, maka seluruh opsi sanksi—mulai dari denda hingga pengurangan poin dan demosi—tetap mungkin diputuskan pada sidang tersebut. Pertanyaannya kemudian adalah bagaimana Premier League menjaga kejelasan persaingan bagi klub-klub lain selama masa menunggu.

Skenario dua: sanksi diterapkan musim ini, tetapi Manchester City banding

Skenario kedua merujuk pada mekanisme yang lazim: bila hukuman berupa potongan poin dijatuhkan, penerapannya biasanya dilakukan segera, dengan status tetap bisa ditinjau lewat banding. Potongan itu bahkan bisa sebesar hingga pada praktiknya menyerupai skenario degradasi.

Untuk bentuk hukuman lain, BBC Sport menilai penerapan mid-season bisa menimbulkan pertanyaan. Misalnya bila keanggotaan di liga dicabut, tidak jelas bagaimana penerapannya di tengah musim. Denda besar juga disebut sebagai kemungkinan, meski dinilai tidak terlalu masuk akal bila dibandingkan dengan pendekatan berupa potongan poin pada klub lain.

Dari sisi prosedur, biasanya liga meminta proses dipercepat dari perusahaan arbitrase independen yang menangani perkara disiplin. Namun kompleksitas kasus ini menunjukkan tidak selalu mudah untuk menyingkat waktunya. Meski peluangnya kecil, ada kemungkinan hukuman baru masuk tabel liga setelah banding selesai—yang tentu berpotensi memicu protes dari klub yang terdampak musim ini.

Skenario tiga: banding didengar cepat dan putusan penuh diumumkan segera

Untuk menjaga integritas Premier League, skenario ketiga membutuhkan proses banding yang lebih singkat agar seluruh klub tahu “apa yang dipertaruhkan” sejak dini. Sebagai pembanding, BBC Sport mengingat kasus sebelumnya: pengurangan poin West Bromwich Albion terkait profit and sustainability rules tidak diumumkan sampai 24 April. Dampaknya adalah mereka kembali terjebak ke pertarungan degradasi saat merasa peluangnya sudah aman, sekaligus memberi harapan bagi klub-klub di zona bawah.

Premier League tidak menginginkan proses menyeret hingga bulan-bulan akhir musim. Namun, pada kasus ini tidak ada jaminan. Dalam skenario yang sama, Manchester City juga memiliki peluang menang dalam banding—seperti yang pernah mereka lakukan atas hukuman UEFA pada Juli 2020. Jika itu terjadi, kegembiraan di Etihad Stadium mungkin muncul, tetapi konflik tidak otomatis selesai begitu saja.

Skenario empat: bahkan setelah kasus selesai, persoalan belum benar-benar berakhir

BBC Sport juga menyoroti bahwa fokus dapat melebar dari sanksi ke potensi gugatan kompensasi. Sejumlah klub Premier League, menurut laporan, tengah mencari nasihat hukum terkait kompensasi dari Manchester City. Seorang sumber yang pernah memegang posisi eksekutif senior di dua klub Premier League memperkirakan klub-klub akan mengajukan klaim kompensasi secara individual.

Seorang pengacara lain juga menyampaikan bahwa proses bisa saja dikelola secara terpusat oleh liga. Premier League sendiri mengizinkan klub untuk melakukan tindakan hukum terhadap klub lain guna menuntut kompensasi, sehingga kemungkinan gugatan muncul sebagai efek lanjutan yang realistis.

Preseden yang disebut adalah kasus Everton yang pada Juni diwajibkan membayar Burnley £35m setelah melanggar PSR dalam periode tiga tahun. Burnley berargumen pelanggaran itu berdampak pada peluang mereka bertahan di Premier League, dan mereka menuntut kompensasi atas kerugian yang berkaitan dengan degradasi. Everton disebut sedang mengajukan banding, dengan sumber sebelumnya mengatakan mereka akan “robustly and thoroughly” membantah putusan tersebut.

Dalam ranah kompensasi, terdapat pula ketidakpastian terkait statute of limitations—batas waktu klaim. Arsenal, Manchester United, Liverpool, dan Tottenham Hotspur dilaporkan telah “preserved their rights to claim compensation” dua tahun lalu. Ini bukan hanya urusan klub-klub raksasa yang runner-up pada musim gelar City dua kali, tetapi juga menyangkut tim yang tertinggal dari tiket Liga Champions, gagal menembus kompetisi Eropa, atau bahkan terdegradasi.

Potensi tuntutan dapat mencakup klaim atas prize money tiap posisi Premier League, hingga kemungkinan hilangnya pendapatan komersial yang dialami rival. Kieran Maguire, profesor keuangan sepak bola di University of Liverpool, menilai hal ini bisa dianggap sebagai “denial of an opportunity” bagi pihak yang mengajukan komplain.

“The statute of limitations is not referenced” dalam buku pedoman Premier League yang lazim, kata Maguire, meskipun ia menambahkan bahwa hal tersebut berpotensi ditantang oleh City. Mengenai besaran kompensasi, BBC Sport menekankan bahwa peluang klaim bisa sangat besar pada bagian kualifikasi Liga Champions: “The Champions League in those days was worth a minimum of £30m,” dan “I think by the time we got to 2018, it was probably worth £60m or £70m, and that’s in prize money.”

Maguire juga menyebut bahwa klaim bisa meluas ke “loss of gate receipts” dan “loss of sponsor bonuses”. Ia menegaskan, klaim semacam itu “highly unlikely”, tetapi tetap “it’s certainly being discussed”. Ia menambahkan bahwa bonus pemain untuk kualifikasi Liga Champions umumnya berada di kisaran 25%.

Dengan begitu, putusan atas 115 dakwaan City bukan sekadar penutup fase sidang. Bagi Manchester City dan Premier League, ia membuka tahapan berikutnya yang lebih rumit: penentuan sanksi, dinamika banding, hingga potensi rangkaian tuntutan kompensasi yang bisa berlangsung setelah kasus disiplin dinyatakan selesai.