jurnalistik.co.id – SC Cambuur mengabarkan adanya sejumlah korban dari insiden kembang api yang terjadi saat pertandingan liga Eredivisie melawan Feyenoord pada Minggu. Klub asal Leeuwarden itu menyebut para suporternya mengalami luka bakar, gangguan pendengaran, serta cedera mata.
Menurut keterangan Cambuur, permainan sempat dihentikan sekitar 10 menit pada babak pertama. Gangguan itu terjadi setelah suporter tim tamu menyalakan flare berwarna merah dan melemparkan kembang api dari area tribun tandang di Kooi Stadion.
Kembang api tersebut, menurut pernyataan yang disampaikan Cambuur, dilempar menuju bagian yang berisi suporter tuan rumah. Cambuur menyatakan sudah ada lima pendukung yang terkonfirmasi mengalami cedera akibat kejadian tersebut.
Feyenoord kemudian merespons insiden itu melalui pernyataan resmi. Dalam rilisnya, klub berjuluk De Stadionclub menyatakan mereka “secara tegas menjauhkan diri dari peristiwa yang tidak dapat diterima” yang terjadi di pertandingan.
Masih dari pihak Feyenoord, permintaan maaf disampaikan menyusul pertandingan. Giovanni van Bronckhorst, yang menjadi pelatih kepala Feyenoord, menyampaikan permohonan maaf atas nama klub kepada SC Cambuur setelah laga berakhir.
SC Cambuur menegaskan bahwa tindakan menyalakan dan melontarkan kembang api tidak boleh terjadi di stadion sepak bola. Klub itu menyatakan, “jelas bahwa menyalakan dan menembakkan kembang api sama sekali tidak dapat diterima dan tidak punya tempat sama sekali di stadion sepak bola.”
Cambuur juga menyatakan akan bekerja sama dengan aparat berwenang agar pihak yang bertanggung jawab mendapatkan hukuman. Di sisi lain, Feyenoord menyebut mereka akan meminta rekaman kamera untuk membantu proses penelusuran insiden.
Insiden ini memunculkan kekhawatiran yang serupa dengan kejadian musim lalu di kasta tertinggi Belanda. Saat itu, pertandingan Ajax melawan Groningen sempat dihentikan setelah kembang api dan flare dinyalakan di belakang salah satu gawang di Johan Cruyff Arena.
Dengan konteks tersebut, manajemen Feyenoord menunjukkan sikap yang campur aduk terhadap hasil pertandingan. Robert Eenhoorn, general manager Feyenoord, mengatakan ia “tidak bisa merasa bahagia” meski timnya menang 5-2 di Leeuwarden.
Eenhoorn menambahkan bahwa rasa frustrasi terlalu besar untuk diabaikan. Ia juga menyebut persoalan seperti ini tidak hanya menimpa Feyenoord, melainkan merupakan isu yang selama bertahun-tahun tidak berhasil dihentikan.
Berita Terkait
“Masalah ini tentu tidak hanya memengaruhi Feyenoord dan sayangnya merupakan sesuatu yang belum mampu kami hentikan selama puluhan tahun,” kata Eenhoorn. Ia menegaskan pihaknya perlu duduk bersama dengan berbagai pemangku kepentingan untuk mencari solusi.
Dalam pernyataan lanjutannya, Feyenoord menyebut akan melakukan pertemuan dengan semua pihak terkait, termasuk klub-klub, KNVB, dan otoritas setempat. Tujuannya adalah menelaah cara kerja yang ada serta mencari pendekatan bersama untuk mencegah pengulangan kejadian serupa.
Sementara itu, walikota Leeuwarden, Foort van Oosten, juga mengecam insiden tersebut. Ia menyatakan bahwa pihaknya akan melakukan penyelidikan atas peristiwa di stadion.
KNVB, federasi sepak bola Belanda, menyatakan akan meninjau kembali protokol mereka terkait insiden gangguan. Evaluasi ini dilakukan mengingat kejadian yang melibatkan kembang api dan flare di laga profesional tetap terjadi meski ada aturan.
Meski para pendukung mengalami cedera, pertandingan akhirnya tetap dilanjutkan. Namun, pihak penyelenggara menyebut laga seharusnya tidak boleh diputuskan seperti itu jika ada pemain atau petugas pertandingan yang terkena langsung.
Jan Bluyssen, manajer urusan kompetisi sepak bola profesional KNVB, mengomentari situasi tersebut. Ia mengatakan, “itu tidak terasa benar,” sekaligus menilai protokol yang ada perlu ditelaah lebih jauh.
Bluyssen menyatakan bahwa KNVB perlu meneliti apakah protokol tersebut masih sesuai dan bagaimana perubahan yang mungkin diperlukan. Ia menegaskan kebutuhan untuk menyesuaikan mekanisme penanganan ketika situasi berbahaya terjadi di stadion.
Dari sisi jalannya pertandingan, penghentian sekitar 10 menit pada babak pertama terjadi sebagai respons terhadap insiden di tribune. Setelah situasi terkendali, laga kembali diproses hingga akhirnya Feyenoord tetap meraih kemenangan 5-2.
Meski demikian, narasi yang mendominasi bukan hanya skor, melainkan keselamatan suporter. Cambuur menekankan bahwa kembang api dan flare tidak dapat dibenarkan ketika dampaknya melukai penonton di stadion.
Dengan adanya klaim lima korban terkonfirmasi, pengumpulan bukti dan penelusuran pelaku menjadi fokus berikutnya. Feyenoord juga menempuh langkah permintaan rekaman kamera, sementara Cambuur menegaskan kerja sama dengan otoritas untuk penindakan.
Rangkaian respons tersebut memperlihatkan bahwa insiden di Kooi Stadion memicu pembahasan lebih luas. Bukan hanya mengenai satu pertandingan, melainkan tentang upaya pencegahan yang lebih efektif agar pelanggaran tidak terulang di arena sepak bola profesional.












