Teknologi

Japan.Nus dan Ehime Menyatakan Kesiapan Alih Teknologi Pengelolaan Limbah & Persampahan untuk Gorontalo

×

Japan.Nus dan Ehime Menyatakan Kesiapan Alih Teknologi Pengelolaan Limbah & Persampahan untuk Gorontalo

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Japan NUS dan Ehime Siap Alih Teknologi Kelola Limbah & Persampahan Gorontalo

jurnalistik.co.id – Gubernur Gorontalo Gusnar Ismail bersama rombongan meninjau percontohan teknologi pengelolaan air limbah di RS Pusat Otak Nasional Jakarta pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Peninjauan tersebut dilakukan dengan didampingi Direktur RS Ainun, Kepala Dinas PUPR, serta Kepala Bappeda Provinsi Gorontalo. Turut hadir Kanako Seki dari Janus dan pihak Ehime Prefektur.

Dalam agenda kunjungan ini, rombongan melihat langsung Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang menjadi bagian dari rencana alih teknologi untuk pengelolaan limbah dan persampahan di Gorontalo. Fokus kegiatan diarahkan pada penerapan sistem yang telah digunakan sebagai percontohan di lokasi tersebut.

IPAL RS Pusat Otak Nasional Jakarta diketahui menggunakan teknologi Septiptank Johkasu dari Jepang. Teknologi ini disebut dirancang sebagai sistem yang bebas pencemaran lingkungan, memaksimalkan kerja bakteri asli pengurai alami, serta tidak menimbulkan risiko korosi.

Selain itu, septiptank Johkasu juga disebut memiliki usia pakai yang lama dan tidak membutuhkan ruang instalasi yang besar. Karakteristik tersebut menjadi salah satu poin penting yang kemudian dipelajari bersama dalam peninjauan lapangan.

Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari pertemuan gagasan kerja sama antara Gubernur Gusnar Ismail dan Ehime Prefektur melalui pola city to city collaboration yang berlangsung di Jepang pada bulan Maret 2026. Setelah pertemuan tersebut, agenda peninjauan kembali dijalankan untuk memastikan kesesuaian teknologi dengan kebutuhan daerah.

Usai peninjauan, diagendakan pendalaman pembahasan secara lebih rinci. Pendalaman itu diarahkan pada efektivitas serta keunggulan teknologi septiptank Johkasu, termasuk peluang penerapannya di Gorontalo.

Direktur RSUD Ainun Habibie, dr Fitriyanto, menegaskan pentingnya rangkaian kegiatan ini. Ia menyampaikan kesepakatan untuk segera menindaklanjuti dengan mengagendakan peninjauan dari Tim Ehime ke RS Ainun Habibie di Gorontalo.

Dengan demikian, langkah lanjutan yang akan ditempuh berikutnya diarahkan pada proses verifikasi dan penyesuaian di lingkungan fasilitas kesehatan setempat. Harapannya, tahapan kerja sama alih teknologi ini dapat berjalan terukur, sesuai hasil pembahasan setelah kunjungan di Jakarta.

Dalam kunjungan lapangan tersebut, rombongan tidak hanya mengamati bentuk instalasi, tetapi juga mendalami bagaimana sistem pengolahan bekerja dalam kondisi nyata di fasilitas kesehatan. Pengamatan ini menjadi pijakan untuk menilai apakah teknologi yang dipakai dapat diterapkan secara konsisten di lingkungan Gorontalo.

Teknologi Septiptank Johkasu yang diperkenalkan dalam peninjauan dijelaskan menekankan aspek perlindungan lingkungan. Penekanan pada klaim “bebas pencemaran” serta penggunaan bakteri asli pengurai alami menjadi bahan diskusi untuk memahami manfaatnya bagi pengelolaan air limbah, khususnya dari sisi proses biologis.

Selain karakter tersebut, poin lain yang turut dicermati adalah pernyataan mengenai minimnya risiko korosi. Pembahasan mengenai ketahanan sistem dan bagaimana teknologi ini meminimalkan potensi kerusakan lingkungan instalasi diharapkan dapat memberi gambaran lebih jelas bagi kebutuhan operasional fasilitas kesehatan.

Rangkaian pembahasan juga diarahkan pada pertimbangan teknis yang berhubungan dengan skala ruang dan kesiapan lokasi. Septiptank Johkasu disebut tidak memerlukan ruang instalasi yang besar, sehingga pelajaran yang didapat dari penataan di RS Pusat Otak Nasional Jakarta dapat dibandingkan dengan kondisi di RSUD Ainun Habibie.

Usia pakai yang panjang yang disebut dalam penjelasan teknologi turut menjadi perhatian dalam pendalaman. Dengan melihat faktor durabilitas tersebut, diskusi selanjutnya berfokus pada kemampuan sistem untuk berjalan stabil dalam jangka waktu yang lebih lama, sejalan dengan target penerapan di daerah.

Setelah rangkaian peninjauan dan pendalaman, langkah berikutnya diarahkan pada proses verifikasi serta penyesuaian di fasilitas kesehatan setempat. Kesepakatan untuk menindaklanjuti dengan agenda peninjauan dari Tim Ehime ke RSUD Ainun Habibie di Gorontalo diposisikan sebagai tahapan penting agar penerapan alih teknologi dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan hasil pembahasan di Jakarta.