jurnalistik.co.id – Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, memperingatkan Iran akan menghadapi “the single greatest financial offensive ever” dari Washington. Ia juga menilai perang antara AS dan Israel dengan Iran “entering its endgame”, sambil menegaskan pendekatan ekonomi sebagai bagian dari tekanan lanjutan.
Menurut Bessent, Amerika Serikat akan memutus “all economic ties” dengan Iran lewat langkah yang ia sebut “an economic D-Day”. Ia menambahkan bahwa negara yang memilih bermitra secara finansial dengan Teheran juga akan ikut “be isolated”, sehingga hubungan ekonomi mereka akan terkena konsekuensi serupa.
Ancaman tersebut disampaikan Bessent dalam sebuah opini yang dimuat Financial Times. Dalam tulisan itu, ia tidak menjabarkan secara rinci bentuk kebijakan maupun instrumen yang akan dipakai untuk menekan Iran, namun ia menyatakan targetnya adalah memutus “every economic lifeline that sustains the tyrannical regime until Tehran stands alone”.
Bessent disebut akan merinci detailnya dalam konferensi pers di AS pada pukul 13:00 waktu setempat (18:00 BST) pada Senin. Pernyataan ini muncul setelah serangkaian perubahan sikap dan perpanjangan tenggat dari administrasi Donald Trump terkait sejumlah ancaman sebelumnya terhadap Iran.
Respons Iran dan peringatan terkait ekspor minyak
Iran menolak komentar Bessent dan menyatakan pihaknya akan menutup seluruh ekspor minyak dari wilayah tersebut “if the war continues”, sebagaimana dilaporkan Reuters. Pernyataan itu memperlihatkan bahwa Teheran menyiapkan langkah ekonomi dan logistik untuk merespons eskalasi tekanan dari AS.
Selain itu, rezim Iran juga mengeluarkan peringatan baru kepada pelayaran agar tidak melewati Selat Hormuz tanpa izin mereka. Peringatan ini hadir di tengah dinamika konflik yang telah mengubah arus perdagangan energi di kawasan tersebut.
Dari sisi perdagangan global, sekitar satu perlima minyak dan gas dunia biasanya melewati Selat Hormuz, yaitu jalur perairan di selatan Iran. Namun arus tersebut “effectively blocked” oleh Iran sejak konflik dimulai pada akhir Februari, sehingga pengaruhnya terasa jauh melampaui kawasan regional.
Jejak ancaman AS dan dampak ekonominya
Berita Terkait
Dalam perang AS dengan Iran, pemerintah AS telah mengeluarkan sejumlah ancaman berulang. Pada April, Trump pernah menyatakan “a whole civilisation will die tonight” apabila Iran tidak menyetujui kesepakatan untuk mengakhiri perang dan membuka kembali Selat Hormuz.
AS kemudian “climbed down” dari posisi keras itu setelah Pakistan berperan sebagai mediator dan menyerukan lebih banyak diplomasi. Perubahan pendekatan itu terjadi sebelum munculnya peringatan terbaru yang menempatkan tekanan ekonomi sebagai pendorong utama.
Tekanan perang dan kebijakan terkait sanksi juga menimbulkan dampak ekonomi di AS dan di berbagai negara. Kenaikan harga minyak ikut memicu kekhawatiran soal biaya hidup, termasuk lonjakan harga bahan bakar yang membuat biaya energi rumah tangga dan transportasi menjadi lebih mahal.
Di AS, harga bensin disebut telah melampaui $4 per galon. Kondisi tersebut turut memperkuat perhatian pemilih terhadap isu keterjangkauan menjelang pemilihan paruh waktu pada November.
Lebih lanjut, Bessent sebelumnya mengumumkan pemerintah AS akan ikut campur di pasar obligasi dengan membeli kembali lebih banyak utang pemerintah. Ia mengklaim langkah itu bertujuan meningkatkan permintaan obligasi dan menurunkan biaya pinjaman, tetapi efek pengumuman tersebut disebut tidak bertahan lama karena biaya pinjaman jangka panjang kembali naik sehari kemudian.
Konteks sanksi dan pergeseran diplomasi nuklir
Iran sudah menghadapi sanksi ekonomi yang ketat dari AS. Pada 2015, mantan Presiden AS Barack Obama bersama beberapa sekutu menyepakati kesepakatan dengan Iran yang meringankan banyak sanksi dengan imbalan Iran membatasi program nuklir.
Namun, Trump keluar dari kesepakatan itu pada 2018 dengan menyebut “defective at its core”, lalu AS “reimposed all US sanctions on Iran”. Pada masa pemerintahan Joe Biden, disebut ada upaya untuk mengembalikan kesepakatan era Obama, tetapi upaya tersebut tidak pernah terwujud.
Pada April tahun ini, administrasi Trump juga meluncurkan gelombang sanksi terhadap bank dan perusahaan asing yang melakukan bisnis dengan Teheran. Langkah tersebut diambil setelah menjadi jelas bahwa operasi militer tidak membuat rezim Iran menyerah, sehingga tekanan ekonomi kembali dipilih sebagai jalur utama.
Dengan peringatan Bessent yang menekankan “the single greatest financial offensive ever”, langkah AS tampak diarahkan untuk memperketat jalur ekonomi Iran. Sementara itu, peringatan Iran terkait Selat Hormuz dan ekspor minyak menunjukkan bahwa kedua pihak sama-sama menyiapkan konsekuensi yang dapat segera berdampak pada arus energi global.












