Internasional

Cetak biru rudal jelajah Storm Shadow dari Inggris berpotensi membantu Ukraina, namun kebutuhan mendesak Zelensky adalah perlindungan udara

×

Cetak biru rudal jelajah Storm Shadow dari Inggris berpotensi membantu Ukraina, namun kebutuhan mendesak Zelensky adalah perlindungan udara

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: UK missiles offer may help Ukraine - but they are not what Zelensky needs most

jurnalistik.co.id – Perdana Menteri Inggris Andy Burnham berencana menyerahkan cetak biru rudal jelajah Storm Shadow kepada Ukraina, menyusul langkah serupa dari Prancis. Rencana ini dimaksudkan agar Ukraina bisa merakit rudal tersebut secara mandiri di dalam negeri.

Menurut laporan BBC, penyerahan cetak biru ini juga diposisikan sebagai sinyal bahwa sejumlah negara Barat bersedia berbagi keahlian untuk memperkuat pertahanan Ukraina. Namun, pada praktiknya, perubahan itu tidak otomatis mengubah jalannya perang secara drastis.

Storm Shadow bukanlah sistem baru. Rudal jelajah buatan Inggris dan Prancis tersebut sebelumnya telah disuplai ke Kyiv, termasuk dalam bentuk rudal Scalp. Keduanya diketahui telah digunakan untuk menyerang target militer di dalam wilayah Rusia.

Walau cetak biru bisa membantu, produksi di Ukraina tetap menghadapi hambatan besar. BBC menyebut Storm Shadow dikembangkan pada era 1990-an dan memiliki biaya sekitar ÂŁ1 juta per unit.

Lebih dari itu, rudal jenis ini bergantung pada rantai pasok global yang kompleks. BBC juga menggarisbawahi bahwa selama masa damai, produksi dilakukan pada tingkat relatif rendah—sekitar ratusan unit, bukan ribuan—sehingga upaya meniru pola produksi seperti itu tidak serta-merta mudah ditransfer.

Di sisi komponennya, bahkan dengan cetak biru, Ukraina mungkin tetap kesulitan memperoleh bagian-bagian yang diperlukan. Waktu yang dibutuhkan untuk membangun rudal jelajah dari nol bisa berlangsung berbulan-bulan, dan dalam beberapa skenario bahkan sampai bertahun-tahun.

Penilaian ini sejalan dengan pandangan bahwa menyalin model produksi persenjataan ala Barat pada masa damai bukanlah resep yang bisa langsung menentukan kemenangan perang. BBC menyatakan bahwa bahkan negara-negara NATO pun kini telah menyadari batas pendekatan tersebut.

Dari perspektif strategi pengadaan, Inggris disebut tidak lagi membeli Storm Shadow untuk kebutuhan sendiri. Sebagai gantinya, lewat Project Brakestop, Inggris tengah mengembangkan rudal jelajah jarak jauh versi mereka sendiri yang bebas dari komponen asing.

Program tersebut juga disebut menawarkan biaya yang kurang dari setengah harga Storm Shadow. BBC menambahkan bahwa Inggris menargetkan rudal baru siap pada akhir tahun, serta berharap dapat menyediakannya bagi Ukraina.

Transparansi berbagi informasi pertahanan juga disorot melalui komentar seorang analis militer. Douglas Barrie, Senior Fellow untuk Military Aerospace di IISS, mengatakan: “The decision to share UK classified information on the MBDA SCALP missiles with Ukraine, as France and Ukraine work toward local assembly lines in Ukraine, is notable. Any impact, however, will in part depend on how quickly Ukrainian assembled SCALP cruise missiles can be introduced into service. “Given that Ukraine has already operated both Storm Shadow and SCALP, familiarity with the missile may help speed the overall process, but this will also be dependent on the extent and pace at which local assembly can be established.”

Menurut uraian BBC, kemampuan Ukraina dalam beradaptasi tidak bisa dilepaskan dari perubahan fase sejak awal perang. Pada periode awal, angkatan bersenjata Ukraina bertumpu pada persenjataan era Perang Dingin buatan Soviet, sementara pasokan dari Barat datang lebih lambat sehingga memberi ruang bagi penyesuaian.

Kondisi itu berangsur berubah. Saat ini, Ukraina disebut memproduksi sekitar 70% perlengkapan militernya sendiri. BBC menilai faktor kunci ada pada perkembangan teknologi drone secara cepat.

Di garis depan, Ukraina mengembangkan drone serang sekali jalan tipe First Person View (FPV). Pada saat yang sama, mereka juga memiliki drone jarak jauh yang mampu menyerang jauh ke wilayah Rusia, bahkan melampaui jangkauan Storm Shadow.

BBC menyebut Kyiv menargetkan membangun 10 juta drone pada akhir tahun ini. Produksi tersebut juga digambarkan lebih murah karena memanfaatkan komponen massal dari Tiongkok.

Sebaliknya, BBC menuliskan bahwa drone yang setara dari negara-negara sekutu NATO bisa dua kali lebih mahal, terutama karena upaya menghindari komponen dari Tiongkok. Dari sini terlihat bahwa kemampuan produksi massal menjadi pembeda dalam kebutuhan perang jangka panjang.

Masalah paling mendesak: perlindungan udara

Sekalipun demikian, BBC menegaskan masih ada jenis persenjataan yang Ukraina butuhkan tetapi sulit diproduksi sendiri dalam waktu singkat. Dua contoh yang disebutkan adalah pesawat tempur dan—yang paling mendesak—interceptor untuk menghadang rudal balistik Rusia.

Dalam konteks pertahanan udara, BBC menilai Patriot sebagai senjata paling efektif. Namun, persediaannya digambarkan nyaris habis, sehingga rudal balistik Rusia kini lebih mudah menembus pertahanan udara Ukraina.

BBC juga mengaitkan menyusutnya ketersediaan Patriot dengan kebutuhan militer Amerika Serikat di konflik Iran. Selain isu pasokan, biaya Patriot disebut sekitar ÂŁ3 juta per rudal, sementara laju produksi dinilai masih lambat.

Rencana yang disebut muncul dari AS adalah menggandakan produksi dari sekitar 600 Patriot per tahun menjadi 2.000. BBC menambahkan bahwa peningkatan tersebut memerlukan beberapa tahun.

Di level politik, Presiden Donald Trump disebut pernah memberi sinyal pada bulan lalu bersedia berbagi teknologi Patriot kepada Ukraina, tetapi kemudian menarik kembali sikap tersebut. BBC juga menegaskan bahwa sekalipun persetujuan datang, waktu yang dibutuhkan agar Ukraina bisa memproduksi Patriot sendiri kemungkinan minimal sekitar satu tahun.

Ukraina diketahui juga menjalankan program mengembangkan interceptor mereka sendiri dengan dukungan Eropa, yang dikenal sebagai Project Freya. Namun, BBC menyoroti tantangan teknologi besar untuk membangun rudal berkecepatan tinggi yang mampu menembak sasaran ketika target bergerak pada kecepatan ribuan mil per jam.

Hambatan lain yang ditekankan adalah biaya dan durasi. BBC menyebut proses semacam itu sering kali memakan waktu lama dan tidak dapat dikerjakan dengan cepat.

Meski demikian, Ukraina dan pabrikan pertahanan mereka juga disebut cepat belajar. Salah satu perusahaan, Fire Point, disebut tengah mengembangkan rudal balistik mereka sendiri dengan harapan siap digunakan untuk menyerang pada tahun depan.

Namun, BBC menempatkan tantangan itu dalam konteks tempo produksi Rusia. Rusia disebut telah meningkatkan produksi rudal balistik hingga sekitar 100 rudal per bulan.

Dengan mempertimbangkan semua faktor tersebut, langkah membagi cetak biru rudal jelajah tetap dipandang akan disambut. Akan tetapi, menurut BBC, tindakan itu bukan solusi instan bagi masalah pertahanan paling mendesak Ukraina, dan tidak langsung mengubah kemampuan Kyiv untuk menyerang Rusia dengan cara-cara baru secara signifikan.