jurnalistik.co.id – Marc Marquez kembali menyinggung kedekatan sekaligus jarak yang pernah mewarnai rivalitasnya dengan Valentino Rossi di MotoGP. Ia mengingat dinamika yang sempat memanas, hingga muncul pula wacana pensiun ketika kariernya berada di titik paling berat.
Menurut Marquez, hubungan dua pembalap itu tidak bisa dipulihkan hanya dengan kemauan satu pihak. Masalah yang melibatkan keduanya, membuat proses perbaikannya jauh lebih rumit dari yang dibayangkan.
“Mustahil menemukan solusi. Ada hal-hal yang tidak bergantung pada satu orang saja. Dibutuhkan dua orang,” ujar Marquez.
Bagi Marquez, soal rivalitas tidak berhenti pada persaingan di lintasan. Ia menilai, untuk menyelesaikan ketegangan yang pernah terjadi perlu keselarasan dari dua pihak, bukan sekadar satu langkah simbolik.
Rivalitas, tapi tetap ada rasa hormat
Meski pernah bersaing dengan intensitas tinggi, Marquez menegaskan ia tetap menghargai apa yang telah dicapai Rossi selama berkarier di MotoGP. Ia juga menempatkan keduanya dalam posisi yang saling memengaruhi perkembangan ajang, tanpa harus menyamakan kebutuhan personal masing-masing.
“Untuk kehidupan pribadi saya, saya tidak membutuhkannya dan dia juga tidak membutuhkan saya. Tetapi saya menghormati apa yang dia capai,” kata Marquez.
Ia kemudian menambahkan bahwa kontribusi keduanya punya arti bagi dunia balap motor. “Kami berdua memberikan banyak hal untuk MotoGP dan dunia balap motor. Kami adalah dua orang yang sangat berbeda,” lanjutnya.
Dalam pandangannya, pengaruh Rossi tidak luntur hanya karena pernah terjadi ketegangan di arena balap. Rossi, bagi Marquez, tetap bagian dari sejarah penting MotoGP yang ikut membentuk standar persaingan di kelas utama.
Persaingan keduanya mencapai puncak pada musim 2015. Saat itu, perebutan gelar berlangsung sangat ketat, tetapi akhirnya dibayangi berbagai kontroversi.
Marquez juga menyebut pencapaian Rossi sebagai sesuatu yang tidak ia kecilkan. Bahkan dalam konteks jumlah gelar juara dunia, Marquez menyamai jumlah gelar yang dimiliki Valentino Rossi.
Berita Terkait
Masa cedera panjang dan pertimbangan mengakhiri karier
Di luar cerita tentang rivalitas, Marquez juga menceritakan periode ketika ia hampir mengakhiri karier lebih cepat. Cedera parah yang dialami di MotoGP Jerez 2020 menjadi titik terberat dalam perjalanannya.
Setelah cedera tersebut, Marquez harus menjalani pemulihan panjang hingga harus kehilangan banyak waktu di lintasan. Ia menggambarkan beban yang tidak hanya datang dari fisik, tetapi juga dari mental.
“Saya mengalami cedera dalam waktu yang lama, empat tahun, dari 2020 hingga 2024. Secara mental itu sangat berat,” kata Marquez.
Ia bahkan sempat mempertanyakan arti perjuangannya untuk kembali balapan. “Saya sangat menderita, untuk apa?” ujarnya sebagai refleksi atas masa-masa sulit itu.
Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa perjalanan Marquez bukan hanya soal kembali ke performa, tetapi juga soal menemukan kembali alasan untuk bertahan. Dalam periode panjang itu, ia belajar menghadapi keterbatasan sekaligus meredam keraguan.
Keputusan pindah ke Ducati
Setelah melewati fase yang paling menekan, Marquez akhirnya mengambil keputusan besar. Ia meninggalkan Honda dan bergabung dengan Ducati sebagai langkah yang ia anggap sebagai titik balik.
Perubahan tim tersebut bukan sekadar pergantian seragam, melainkan bagian dari upaya untuk membangun kembali arah kariernya. Dengan memilih Ducati, Marquez berusaha keluar dari fase sulit yang sempat membuatnya mempertanyakan masa depannya di lintasan.
Rangkaian pengalaman—rivalitas dengan Rossi yang pernah memanas, serta perjalanan cedera panjang setelah Jerez 2020—membentuk cara pandang Marquez tentang persaingan. Ia tetap mengakui peran besar Rossi, sementara ia juga menegaskan pentingnya menghadapi tantangan yang datang dari dalam diri dan kondisi karier.
Pada akhirnya, cerita Marquez menunjukkan bahwa MotoGP tidak hanya menuntut performa terbaik, tetapi juga keberanian untuk bertahan ketika keadaan tidak berpihak. Ia menutup refleksinya dengan gambaran bahwa hubungan, kerja keras, dan keputusan sulit sama-sama menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang pembalap.












