jurnalistik.co.id – Jo Boydell mengundurkan diri dari posisi CEO Travelodge setelah rangkaian persoalan keamanan yang mengemuka pasca kasus pelecehan seksual di sebuah hotel di Maidenhead. Keputusan ini muncul saat perusahaan tengah menuntaskan peninjauan independen mengenai langkah-langkah keamanan yang dinilai perlu diperketat.
Serangan terjadi pada Desember 2022. Seorang perempuan yang menginap di hotel Maidenhead dilaporkan menjadi korban pelecehan seksual setelah seorang pria diduga berbohong kepada staf untuk memperoleh kartu akses ke kamar korban.
Kyran Smith dijatuhi hukuman penjara lebih dari tujuh tahun atas serangan tersebut. Sejak kasus itu, menurut laporan, sejumlah orang juga menghubungi BBC dengan cerita mengenai dugaan kekurangan pengamanan di sejumlah hotel Travelodge.
Boydell mendapat sorotan karena dinilai lambat merespons persoalan keamanan. Dalam wawancara, ia menyatakan bahwa ia baru mengetahui adanya pelecehan tersebut bertahun-tahun setelah kejadian, meski kemudian terungkap bahwa korban sempat mengirim email kepadanya tidak lama setelah serangan terjadi.
Boydell mengatakan saat ditanyai mengenai email korban, yang dikirim pada Januari 2023, satu bulan setelah serangan, bahwa pesan itu “handled on my behalf” dan ia menyebut telah terjadi “serious failures”. Pernyataan tersebut muncul di tengah ketidakpuasan publik terkait penanganan internal dan koordinasi keamanan.
Pengalaman korban lain dan kasus akses kunci yang salah
Awal bulan ini, seorang korban kekerasan dalam rumah tangga menyampaikan pengalamannya kepada BBC. Ia menceritakan bahwa ia diserang di kamar hotel setelah staf resepsionis Travelodge memberikan kunci kepada orang yang ternyata pelakunya.
Korban tersebut menggambarkan bahwa dirinya “failed” oleh rantai hotel tersebut. Ia juga menyebut kejadian itu sebagai salah satu “most traumatic nights of my life”, terutama setelah pria tersebut menendang pintu hingga terlepas dari engselnya.
Dalam kesaksiannya, perempuan itu mengatakan ia turun ke bawah “shaking, crying and begging for help” karena merasa ada pihak yang seharusnya melindunginya, dengan kutipan “I thought someone would protect me.” Namun, menurut laporan, ia justru ditawari kamar lain.
Kasus lain juga disorot. Di Skotlandia, sebuah pasangan terbangun dan mendapati seorang pria tanpa baju di kamar hotel mereka setelah kartu akses secara keliru diberikan ke pintu yang bukan milik mereka.
Berita Terkait
Pada April, sebuah kelompok tamu juga mengemukakan bahwa mereka menerima kunci untuk kamar milik orang lain sebanyak dua kali dalam satu pekan di cabang Travelodge di Newham, London bagian timur. Dalam situasi tersebut, akses yang keliru membuka kemungkinan orang tak berwenang masuk ke ruang tamu yang sedang digunakan.
Seorang bernama John Nowell, yang merupakan bagian dari rombongan tamu dalam satu grup perusahaan, mengatakan kartu aksesnya memungkinkan ia masuk ke kamar ketika penghuni sedang berada di tengah mandi. Cerita semacam itu, menurut pemberitaan, menambah tekanan agar perusahaan meninjau kembali prosedur akses kamar.
Respons pemerintah dan rencana perbaikan keamanan
Persoalan keamanan Travelodge juga mendapat perhatian pemerintah. Pada Maret, saat menjabat sebagai Perdana Menteri, Sir Keir Starmer menulis kepada Boydell dan mendesak agar ia “seriously engage” dengan pemerintah terkait keamanan di hotel-hotel Travelodge.
Peninjauan independen atas keamanan di jaringan hotel tersebut sedang berlangsung dan dipimpin oleh barrister Paul Greaney KC. Di saat yang sama, Travelodge menyatakan sejumlah langkah perbaikan telah dirancang untuk menutup celah yang ditemukan.
Perusahaan menyebut adanya kemitraan “with a leading Violence Against Women and Girls expert” untuk melatih sebagian pimpinan senior. Selain pelatihan, Travelodge juga menyatakan sedang meninjau kebijakan yang sudah ada.
Travelodge juga menyampaikan bahwa setiap penggantian atau penambahan kartu kunci untuk kamar kini memerlukan izin eksplisit dari tamu yang menempati kamar tersebut. Dengan cara itu, perusahaan berupaya mengurangi risiko akses diberikan kepada pihak yang tidak berhak.
Rantai hotel ini menambahkan bahwa pihaknya telah melakukan pengecekan di semua kamar di seluruh Inggris Raya untuk memastikan pintu berbasis kartu memiliki pengaman tambahan berupa secondary deadbolt. Langkah ini diarahkan agar meski terjadi kekeliruan akses, pintu tetap memiliki pengamanan berlapis.
Boydell resmi mundur pada 17 Agustus. Dalam penugasan sementara, ia digantikan oleh chief financial officer Ray Reidy.
Ray Reidy menyampaikan dalam pernyataan bahwa pihaknya “We remain focused on the safety and well-being of our guests and will continue taking the actions necessary to strengthen the business.” Ia juga menyebut perusahaan akan “continue to engage proactively and constructively with government and the wider hospitality industry on the issue of safety and security.”
Dengan peninjauan independen yang berjalan dan langkah-langkah operasional yang diumumkan, perusahaan menempatkan keamanan tamu sebagai fokus utama penanganan. Keputusan Boydell untuk mundur menandai fase baru saat Travelodge berupaya memulihkan kepercayaan publik setelah kasus-kasus yang menyoroti risiko akses kamar dan respons sistem keamanan.












