jurnalistik.co.id – Motor listrik kerap diposisikan sebagai opsi sesekali, sementara motor bensin dipilih untuk rutinitas harian. Namun, bila target utamanya menekan ongkos perjalanan, penggunaan motor listrik justru semestinya dibuat menjadi kebiasaan harian.
Gagasan itu disampaikan oleh Hendro Sutono, pengamat Energi Baru Terbarukan (EBT) sekaligus pegiat kendaraan listrik. Ia menilai, logika efisiensi akan lebih masuk akal ketika motor listrik ditempatkan sebagai kendaraan utama untuk aktivitas harian.
Dengan cara tersebut, motor listrik tidak lagi menjadi “cadangan” yang dibiarkan terparkir, melainkan menjadi alat mobilitas yang konsisten dipakai. Sementara itu, motor bensin bisa diletakkan sebagai kendaraan pendukung untuk perjalanan yang lebih jauh.
Rute komuter dan jangkauan harian
Hendro menautkan sarannya pada karakter mobilitas masyarakat perkotaan. Ia menyebut, jarak tempuh komuter harian di kota-kota besar Indonesia umumnya berkisar antara 20 hingga 50 kilometer per hari.
“Angka ini sebetulnya berada jauh di bawah kapasitas nyata mayoritas motor listrik yang beredar di pasaran saat ini,” kata Hendro kepada Kompas.com, Kamis (20/8/2026).
Menurut Hendro, kemampuan jelajah yang dibutuhkan untuk operasi harian pada kenyataannya masih berada dalam rentang motor listrik yang tersedia. Ia menekankan bahwa jarak tempuh harian tersebut tidak perlu menjadi alasan untuk menahan motor listrik agar tidak digunakan setiap hari.
Ia juga mengutip karakteristik motor listrik modern yang sudah dipasarkan saat ini. “Kebanyakan motor listrik modern dengan mudah menempuh jarak 60 hingga 100 kilometer dalam satu kali pengisian daya penuh,” ujarnya.
Artinya, dari sisi kemampuan jangkau, motor listrik dapat menuntaskan rutinitas harian tanpa harus dibayangi kekhawatiran kehabisan baterai di tengah perjalanan. Hendro memandang, jarak yang umum dilalui komuter harian justru lebih kecil daripada kemampuan jarak yang sanggup dicapai pada satu kali pengisian.
Berita Terkait
Jangan jadi cadangan: efisiensi butuh konsistensi
Hendro menilai penggunaan motor listrik hanya sesekali membuat manfaat ekonominya tidak maksimal. Baginya, pembelian motor listrik bukan sekadar mengganti jenis kendaraan, melainkan investasi pada teknologi yang memerlukan penggantian biaya lewat penghematan pemakaian.
Ia menegaskan bahwa menempatkan kendaraan ramah lingkungan sebagai opsi yang dipakai secara jarang justru memutarbalikkan tujuan efisiensi. “Menempatkan kendaraan ramah lingkungan ini sebagai cadangan yang hanya dipakai sesekali justru membalikkan logika efisiensi finansial secara masif,” kata Hendro.
“Investasi pada teknologi baru membawa konsekuensi biaya pembelian awal yang perlu ditutup oleh penghematan harian,” ujarnya.
Dengan kata lain, manfaat biaya yang lebih rendah dari motor listrik baru terasa ketika penggunaannya benar-benar menggantikan perjalanan yang sebelumnya dilakukan dengan motor bensin. Bila motor listrik hanya digunakan sesekali, penghematan yang semestinya datang dari rutinitas harian tidak terakumulasi secara optimal.
Hendro juga menggarisbawahi bahwa nilai penghematan bersumber dari seberapa banyak kilometer yang ditempuh secara konsisten. “Penghematan terbesar justru hadir dari seberapa banyak kilometer yang berhasil ditempuhnya secara konsisten setiap hari,” ujarnya.
Pola semacam itu, menurutnya, sejalan dengan kebutuhan mobilitas harian di perkotaan. Jika motor listrik dipakai sebagai kendaraan utama untuk aktivitas sehari-hari, maka teknologi tersebut bisa bekerja sesuai arah efisiensi yang diincar.
Dalam konteks kebijakan yang lebih luas, peluncuran program Motor Listrik Nasional (Molinas) oleh Presiden RI Prabowo Subianto juga menunjukkan dorongan agar kendaraan listrik tidak hanya menjadi pilihan alternatif sesaat, melainkan bagian yang lebih nyata dalam kehidupan mobilitas masyarakat.
Meski begitu, pada level pengguna, kuncinya tetap pada pola pemakaian. Hendro menilai, agar tujuan hemat biaya tercapai, motor listrik perlu diletakkan sebagai pilihan utama dalam mobilitas harian—bukan sekadar kendaraan cadangan.












