Otomotif

BAIC Indonesia Belum Bangun Pabrik Sendiri, Produksi Masih Mengandalkan Fasilitas Handal

×

BAIC Indonesia Belum Bangun Pabrik Sendiri, Produksi Masih Mengandalkan Fasilitas Handal

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BAIC Masih Andalkan Pabrik Handal, Kapan Bangun Pabrik Sendiri?

jurnalistik.co.id – BAIC Indonesia masih menahan rencana membangun pabrik sendiri dalam waktu dekat. Perusahaan memilih menata langkah produksi melalui fasilitas yang sudah berjalan sambil menyesuaikan arah bisnis dengan perkembangan penjualan.

Dhani Yahya, Chief Operating Officer PT JIO Distribusi Indonesia, mengatakan rencana tersebut memang sudah ada, tetapi waktu realisasinya tidak bisa ditetapkan secara kaku. “Ya betul kami punya rencana, untuk arah ke sana pasti ada. Tapi kami lihat volume kami seberapa besar,” ujarnya di Bandung pada 18/8/2026.

Dengan pertimbangan itu, BAIC Indonesia saat ini tetap menggunakan fasilitas perakitan di dalam negeri milik PT Handal Indonesia Motor (HIM). Kendaraan yang dipasarkan di Tanah Air diproduksi melalui skema perakitan tersebut, bukan melalui pabrik milik BAIC sendiri.

Dhani menekankan, ketergantungan pada fasilitas HIM tidak dimaknai sebagai sikap pasif. Perusahaan juga melakukan investasi agar proses produksi di fasilitas yang digunakan tetap mengikuti standar pabrikan.

“Jadi tentunya bukan berarti, yang sekarang pun kita harus benar-benar proper mengikuti global standard manufacturing yang baik,” kata Dhani. Ia menjelaskan bahwa BAIC terus menambah investasi sesuai kebutuhan produksi yang berkembang dari waktu ke waktu.

Salah satu fokus investasi yang sedang disiapkan berkaitan dengan proses perakitan baterai untuk kendaraan listrik. Langkah ini ditempatkan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kandungan lokal pada produk-produk BAIC.

“Ada beberapa yang kami invest ,” ungkap Dhani. Pernyataan tersebut menegaskan bahwa rencana peningkatan kandungan lokal tidak hanya berhenti pada sisi perakitan kendaraan, tetapi juga menyasar rantai pasokan terkait komponen utama.

Untuk tahap awal, target TKDN bagi BAIC T1 ketika mulai dirakit di Indonesia berada di angka 40 persen. Setelah fase awal berjalan, perusahaan menargetkan peningkatan TKDN menjadi 60 persen dengan dukungan investasi baru pada lini perakitan baterai.

Perkiraan investasi baru untuk lini perakitan baterai mencapai Rp 65 miliar. Dengan skema bertahap tersebut, BAIC mencoba menjaga kesinambungan produksi sekaligus mempercepat proses lokalisasi.

Saat ini, hampir seluruh model BAIC yang dipasarkan di Indonesia telah dirakit secara lokal melalui fasilitas HIM. Namun, BAIC T1 masih menjadi pengecualian karena didatangkan sebagai unit utuh dari China.

Dhani menyebut bahwa T1 masih didatangkan secara Completely Built Up (CBU). Rencananya, T1 mulai dirakit secara lokal pada Desember 2026 atau Januari 2027, tetap dengan proses perakitan di fasilitas HIM dan target TKDN awal 40 persen.

Untuk transisi dari impor menuju perakitan lokal, BAIC menyiapkan pasokan bertahap. Pada tahap awal, sebanyak 120 unit T1 telah dimasukkan ke Indonesia, dan jumlahnya dapat bertambah sesuai kebutuhan pasar.

“Kami bertahap ya, kami sudah masukan sekarang 120 unit, nanti kita lihat kalau memang ada keperluan lain kita bisa masukkan lagi, sampai memang kita katakanlah, mulai produksi,” ujar Dhani. Ia memperkirakan total unit T1 yang dapat dikapalkan ke Indonesia hingga bulan berikutnya mencapai sekitar 220 unit.

Di sisi produk, BAIC T1 menawarkan jarak tempuh hingga 425 kilometer dalam sekali pengisian daya. Mobil listrik ini juga dibekali fitur Vehicle-to-Vehicle (V2V) Charging yang memungkinkan pemindahan daya ke perangkat lain atau kendaraan yang kompatibel.

Secara keseluruhan, pendekatan yang dipilih BAIC Indonesia menggambarkan strategi bertahap: memaksimalkan kapasitas perakitan yang sudah tersedia, sambil menyiapkan peningkatan kandungan lokal melalui investasi pada lini yang lebih spesifik. Dengan demikian, pembangunan pabrik sendiri tidak dikesankan sebagai keputusan instan, melainkan langkah yang menunggu skala penjualan dan kesiapan implementasi produksi.