Pendidikan

Kajian Ilmiah Ungkap Cara Peristiwa Nabi Musa Membelah Laut Merah Terjadi

×

Kajian Ilmiah Ungkap Cara Peristiwa Nabi Musa Membelah Laut Merah Terjadi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Kisah Nabi Musa Belah Laut Merah Terungkap Lewat Kajian Sains

jurnalistik.co.id – Peristiwa Nabi Musa yang digambarkan membelah Laut Merah selama ini kerap diperlakukan sebagai kisah spiritual sekaligus teka-teki besar. Kini, sejumlah kajian menyoroti kemungkinan mekanisme alam yang dapat membuat fenomena itu terjadi secara nyata.

Dalam kerangka pembacaan ilmiah, perhatian tidak berhenti pada sisi keimanan, melainkan juga pada pertanyaan bagaimana kondisi cuaca, geografi, dan waktu bisa bertemu. Kajian berbasis pemodelan komputer lalu mengarah pada gagasan bahwa kejadian tersebut dapat dijelaskan melalui kombinasi anomali cuaca ekstrem, kondisi geologi, serta ketepatan momentum waktu.

Riset yang dibahas mengaitkan momen penting dengan hembusan angin badai berkekuatan sekitar 100 km/jam dari arah tertentu. Dengan daya dorong itu, jalur selebar sekitar 5 kilometer disebut terbuka di perairan dangkal.

Saat angin melemah, massa air digambarkan akan kembali bergerak dengan deras. Perubahan dari “pembukaan jalur” menuju “air menerjang” itu digambarkan menyerupai pola kejadian yang berpotensi menimbulkan gelombang, sehingga pergerakan pasukan yang berada di jalur tersebut ikut menentukan nasibnya.

Secara naratif, bangsa Israel yang dipimpin Musa disebut terjebak di antara kejaran pasukan Firaun dan hamparan laut yang menghadang setelah mereka keluar dari Mesir. Di sinilah tradisi sejarah kerap menempatkan peristiwa itu pada lokasi tertentu, yang kemudian diuji ulang dengan pendekatan modern.

Teluk Aqaba vs Teluk Suez

Dalam tradisi yang beredar, peristiwa itu dikaitkan dengan Teluk Aqaba yang dikenal memiliki kedalaman ekstrem hingga 1.850 meter. Namun, riset arkeologi dan oseanografi modern justru mengarah pada lokasi lain yang dinilai lebih masuk akal, yaitu Teluk Suez.

Teluk Suez disebut sebagai perairan sempit yang memisahkan daratan Mesir dan Semenanjung Sinai. Yang ditekankan dari sisi fisiknya adalah kedalaman rata-rata hanya sekitar 20 hingga 30 meter, dengan dasar laut yang relatif datar.

Pengamatan semacam ini juga dibandingkan dengan peristiwa historis yang lebih baru, yakni pada 1789 ketika Napoleon Bonaparte memimpin pasukan berkuda menyeberangi Teluk Suez saat air surut. Meski jalur itu sempat dapat dilalui, pasukan Napoleon disebut hampir tersapu maut saat air pasang setinggi 3 meter datang tiba-tiba dan menerjang kembali.

Perbandingan tersebut dipakai untuk menekankan bahwa perubahan tingkat air pada teluk sempit dapat terjadi cepat, sehingga skenario peristiwa besar menjadi lebih mungkin dibaca lewat dinamika pasang surut dan kondisi setempat.

Pengetahuan pasang surut dan peran angin

Di antara penjelasan yang dikutip, Dr. Bruce Parker—mantan kepala ilmuwan di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA)—menyatakan bahwa Nabi Musa kemungkinan memanfaatkan pengetahuannya mengenai siklus pasang surut. Parker menilai konteks tempat tinggal Musa di padang gurun membuatnya mengenali lokasi kafilah yang biasa menyeberang saat air surut.

Parker juga mengemukakan kemampuan untuk membaca pola langit serta metode kuno dalam memprediksi pasang surut. Ia menuliskan, “Musa pernah tinggal di padang gurun sekitar wilayah itu, ia tahu lokasi kafilah menyeberang saat air surut. Ia juga paham langit malam serta metode kuno untuk memprediksi pasang surut, berdasarkan posisi bulan dan fase purnamanya,” ungkap Parker dalam tulisannya di Wall Street Journal.

Menurut penjelasan itu, pasukan Firaun yang terbiasa hidup di sekitar Sungai Nil tidak memiliki fenomena pasang surut seperti yang terjadi di wilayah pesisir tersebut. Karena ketidaktahuan atas risiko perubahan air, mereka disebut terjebak ketika laut kembali menggenang dengan kecepatan tinggi.

Teori tentang faktor fisik lain kemudian diperkuat melalui perhitungan matematis. Profesor Nathan Paldor, pakar oseanografi dari Hebrew University of Jerusalem, menyebut hembusan angin barat laut yang bertiup semalaman dengan kecepatan 65–70 km/jam dapat mendorong sekaligus menurunkan permukaan air laut hingga sekitar 3 meter.

Dari penurunan permukaan itu, sebuah “punggungan” di bawah laut disebut terbuka sehingga manusia dapat berjalan melewatinya. Dengan kata lain, jalur yang memungkinkan perpindahan tidak hanya dipahami sebagai akibat satu kejadian tunggal, melainkan hasil kerja bersama beberapa variabel lingkungan.

Sains dan keimanan dipandang bisa berjalan beriringan

Meski penjelasan-penjelasan sains tersebut terdengar rasional, Carl Drews menegaskan bahwa pendekatan ilmiah tidak perlu dilihat sebagai ancaman bagi keimanan spiritual. Sebagai ilmuwan sekaligus umat beragama, ia meyakini keduanya dapat berjalan beriringan untuk menguak makna di balik peristiwa alam.

Drews menempatkan fenomena ini pada perpaduan antara keperkasaan alam dan ketepatan momentum waktu, bukan pada penghapusan nilai religius dari peristiwa itu sendiri. Dengan demikian, kajian ilmiah tidak diarahkan untuk menggantikan keyakinan, melainkan untuk menjelaskan bagaimana kondisi fisik memungkinkan sebuah peristiwa besar terjadi pada waktu dan tempat yang tepat.

Pada akhirnya, rangkaian gagasan itu bermuara pada satu kesimpulan: peristiwa yang diingat sebagai mukjizat juga dapat dibaca melalui bahasa sains, selama fakta-fakta yang menopangnya—arah dan kekuatan angin, perubahan ketinggian air, serta karakter kedalaman wilayah—tetap merujuk pada data dan hitungan. Bagi sebagian orang, cara baca ini menambah lapisan pemahaman; bagi yang lain, ia menjadi jembatan agar misteri tetap bisa didekati tanpa menghilangkan dimensi spiritualnya.