Internasional

PBB Sampaikan Peringatan Keras: Dunia dalam Bahaya, Dampaknya Dirasakan Semua Orang

×

PBB Sampaikan Peringatan Keras: Dunia dalam Bahaya, Dampaknya Dirasakan Semua Orang

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: PBB Peringatkan Dunia Dalam Bahaya, Semua Orang Kena Dampaknya

jurnalistik.co.id – Peningkatan suhu Bumi terus berlangsung dan kini tercermin dalam catatan baru gas rumah kaca yang kembali mencetak rekor. Dalam laporan terbaru Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah PBB, konsentrasi berbagai gas menunjukkan angka yang tidak pernah terjadi sebelumnya pada 2025.

WMO menyebut konsentrasi karbon dioksida (CO2) di permukaan rata-rata mencapai 426,8 bagian per juta (parts per million/ppm). Untuk metana, angkanya berada pada level 1.948 bagian per miliar, sedangkan dinitrogen oksida (N2O) tercatat 339,1 bagian per miliar.

Perbandingan dengan periode pra-industri sebelum 1750 juga disajikan oleh WMO. Disebutkan, CO2 setara 153% dari tingkat pra-industri, metana 267%, dan dinitrogen oksida 126%.

“Satu tahun lagi, satu rekor baru”

Wakil Sekretaris Jenderal WMO, Ko Barrett, menilai pencapaian tersebut menunjukkan laju perubahan yang sulit dihentikan. Ia mengatakan, “Satu tahun lagi, satu rekor baru”.

Menurut Barrett, gas rumah kaca memerangkap panas dalam jumlah yang belum pernah terjadi sebelumnya di atmosfer. Kondisi itu, lanjutnya, bukan hanya memperkuat proses pemanasan, tetapi juga memberi energi bagi cuaca ekstrem sekaligus menimbulkan risiko bagi perekonomian dan masyarakat.

Barrett juga menekankan bahwa tren kenaikan suhu yang telah terjadi selama 11 tahun terakhir kemungkinan besar akan terus berlanjut. Ia menambahkan, “Karbon dioksida memiliki masa hidup yang sangat panjang, sehingga akan berdampak pada iklim global bukan hanya selama bertahun-tahun, melainkan hingga beberapa dekade dan bahkan berabad-abad”.

Dalam laporan yang sama, WMO mencatat kenaikan CO2 global rata-rata dari tahun 2024 ke 2025 sebesar 2,8 ppm. Angka tersebut dinilai lebih rendah dibanding lonjakan pada setahun sebelumnya yang mencapai 3,6 ppm.

Kenaikan masih dipacu emisi berbasis fosil

Pejabat ilmiah senior WMO, Oksana Tarasova, mengaitkan perbedaan laju kenaikan CO2 dengan dinamika penyerapan karbon di darat. Ia menyebut fenomena itu mencerminkan pemulihan penyerapan karbon termasuk adanya pengurangan emisi karbon dari kebakaran hutan pada 2025 setelah periode El Niño yang kuat pada 2023–2024.

Meski demikian, Tarasova menegaskan bahwa peningkatan 2024–2025 tetap terutama didorong oleh pembakaran bahan bakar fosil. Ia menyatakan, “Peningkatan tahunan sebesar 2,8 ppm masih menjadi penambahan karbon yang signifikan ke atmosfer akibat pembakaran bahan bakar fosil”.

WMO juga menjabarkan peran metana dalam pemanasan iklim. Metana memiliki masa hidup yang lebih pendek dibandingkan CO2, namun tetap menyumbang 16% dari efek pemanasan iklim yang ditimbulkan oleh gas rumah kaca.

Dari total pelepasan metana, sepertiga berasal dari sumber alami seperti lahan basah. Sisanya berasal dari sumber antropogenik, meliputi peternakan, pertanian padi, tempat pembuangan sampah, serta pembakaran biomassa.

Dengan rangkaian temuan tersebut, WMO menempatkan pesan utama pada urgensi pengendalian emisi. Data 2025 yang menunjukkan lonjakan gas rumah kaca—beserta penjelasan mengenai dampaknya terhadap cuaca ekstrem, ekonomi, dan masyarakat—membuat peringatan tentang bahaya yang kian nyata menjadi semakin relevan untuk semua orang.

WMO menegaskan bahwa angka-angka pada 2025 tidak hanya menggambarkan keadaan sesaat, melainkan sinyal akumulasi gas rumah kaca di atmosfer yang terus berlanjut. Rekor konsentrasi ini menjadi penanda bahwa perubahan pada sistem iklim bergerak mengikuti lintasan yang makin sulit dihentikan tanpa intervensi yang nyata dan terukur.

Penjelasan Ko Barrett juga menyoroti keterkaitan langsung antara konsentrasi gas dan dampak jangka panjang. Karena CO2 memiliki masa hidup yang sangat panjang, efeknya terhadap iklim tidak berhenti pada satu atau dua periode cuaca, tetapi terus membekas dalam jangka dekade hingga berabad-abad, sehingga konsekuensinya dapat dirasakan lintas generasi.

Di sisi lain, peran metana melengkapi gambaran bahwa pemanasan iklim dipengaruhi oleh lebih dari satu jenis gas. Meskipun masa hidup metana lebih singkat daripada CO2, kontribusinya terhadap efek pemanasan iklim tetap besar. WMO menyebut sebagian pelepasan metana berasal dari lahan basah secara alami, sementara sisanya bersumber dari aktivitas manusia seperti peternakan, pertanian padi, tempat pembuangan sampah, serta pembakaran biomassa.