Pendidikan

Tak Semua Teman Baik: Adab Berteman dalam Islam dan Kriteria Memilih Sahabat

×

Tak Semua Teman Baik: Adab Berteman dalam Islam dan Kriteria Memilih Sahabat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Salah Memilih Teman Bisa Jadi Petaka, Ini Adab Berteman dalam Islam

jurnalistik.co.id – Dalam pandangan Islam, pertemanan bukan sekadar kedekatan sosial, melainkan juga bagian dari hablum minannas—hubungan baik antarsesama—yang dapat menjadi jalan meraih pahala bila dijalani dengan adab yang benar.

Karena itu, tidak semua hubungan pertemanan otomatis bernilai kebaikan. Islam mengingatkan agar seorang Muslim memikirkan cara berteman dan memilih sahabat, bukan hanya mengejar rasa nyaman.

Salah memilih teman bisa membawa seseorang pada masalah dan petaka. Fenomena itu kerap tampak dalam berbagai persoalan sosial, termasuk sorotan kasus yang melibatkan selebritas setelah hubungan pertemanan berujung pada saling lapor kepada kepolisian.

Melihat kenyataan tersebut, pertanyaan yang patut dijawab adalah bagaimana Islam mengatur pertemanan, serta kriteria apa yang seharusnya diperhatikan ketika seseorang memilih teman.

Dalam Islam, hubungan pertemanan layak diletakkan pada niat yang jelas: didasari karena Allah Ta’ala. Bila landasan ini terjaga, relasi yang dibangun tidak berhenti pada kebersamaan sesaat, tetapi ikut memperkuat ukhuwah Islamiyah.

Rasulullah Muhammad memberi teladan dalam menjalin relasi dengan para sahabat. Beliau senantiasa menjaga perkataan, menghormati perasaan orang lain, serta mengedepankan akhlak mulia ketika berinteraksi.

Teladan tersebut dapat menjadi ukuran praktis dalam kehidupan sehari-hari. Saat seseorang berteman, ia perlu menempatkan adab sebagai pijakan, sehingga hubungan tidak berubah menjadi sumber luka, apalagi permusuhan.

Salah satu titik berat ajaran Islam ada pada karakter. Rasulullah SAW bersabda: أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا “Orang Mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik akhlaknya.” (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi).

Hadis tersebut menunjukkan bahwa akhlak memiliki kedudukan penting dalam kehidupan seorang Muslim. Akhlak tidak hanya terlihat saat seseorang sendirian, melainkan juga saat berbicara dan bersikap kepada teman.

Karena itu, dalam pergaulan, hendaknya perkataan diarahkan pada yang baik. Ucapan yang lembut dan terukur menjadi bentuk perhatian agar pertemanan tidak menyakiti perasaan atau meninggalkan luka batin.

Islam juga menekankan keseimbangan dalam mengekspresikan kedekatan. Berteman bukan berarti membiarkan semuanya berjalan tanpa batas, melainkan mengelola hubungan dengan saling menghormati.

Saling menasihati dalam kebaikan

Adab berteman lainnya yang tidak boleh ditinggalkan adalah saling menasihati dalam kebaikan. Seorang Muslim tidak cukup hadir hanya ketika suasana menyenangkan, tetapi juga menjaga saudara melalui pengingat yang baik ketika ada kekeliruan.

Dalam kerangka iman, teman tidak semestinya menjadi pihak yang menutup mata. Sebaliknya, pertemanan yang bernilai justru mampu menumbuhkan kesadaran, mengarahkan kepada hal yang benar, dan mencegah seseorang terus berada dalam kesalahan.

Allah Ta’ala berfirman dalam konteks ini, sehingga nasihat dalam kebaikan bukan sekadar kebiasaan sosial, melainkan bagian dari tanggung jawab sebagai sesama manusia dan sesama beriman.

Jika praktik saling mengingatkan dipelihara, hubungan pertemanan akan terasa lebih bermakna. Ia menjadi ruang tumbuh, bukan hanya tempat berbagi cerita, sebab orientasinya diarahkan pada kebaikan.

Adab sebagai kriteria memilih teman

Dari cara pandang tersebut, kriteria memilih teman dalam Islam sejatinya tidak berhenti pada kesamaan minat atau kedekatan di luar. Yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang menghadirkan akhlak, menjaga lisan, menghormati perasaan, serta siap memberi nasihat ketika diperlukan.

Kriteria itu membuat pertemanan tidak mudah terseret pada perilaku yang merusak. Saat adab diprioritaskan, risiko “petaka” yang bermula dari salah langkah pergaulan dapat diminimalkan.

Gambaran tentang bahaya salah memilih teman juga menunjukkan bahwa hubungan yang dibangun tanpa adab bisa berujung pada konflik. Karena itu, kehati-hatian dalam memilih sahabat menjadi langkah preventif yang selaras dengan ajaran Islam.

Widaningsih menyoroti isu ini dalam tulisannya pada Senin, 28 September 2026 pukul 05:15 WIB, dengan penekanan bahwa pertemanan dalam Islam harus dipandu oleh tuntunan Nabi SAW dan dilandasi kesadaran kepada Allah Ta’ala.

Pada akhirnya, pertemanan yang baik bukan hanya tentang siapa yang menemani, tetapi bagaimana hubungan itu dibangun. Ketika akhlak dijaga, lisan dirawat, dan nasihat dalam kebaikan hadir, pertemanan dapat menjadi sebab pahala serta penguat ukhuwah Islamiyah.