jurnalistik.co.id – Umat Islam memasuki bulan Rabiul Akhir 1448 Hijriyah pada Ahad, 13 September 2026. Pada kalender Hijriyah, bulan ini termasuk bulan keempat dan berjumlah 29 hari.
Rabiul Akhir juga dikenal dengan sebutan Rabi’ al-Tsani (ربیع الثانی). Penamaan tersebut tidak lepas dari gambaran pergantian musim di Jazirah Arab, yang dalam penjelasan klasik kerap dihubungkan dengan kemunculan kembali fase musim semi.
Secara ringkas, makna Rabiul Akhir sering dipahami sebagai musim semi kedua—periode yang identik dengan menggeliatnya tumbuh-tumbuhan setelah fase sebelumnya. Dalam pembacaan kalender, perbedaan Rabiul Awal dan Rabiul Akhir juga berkaitan dengan basis perhitungan, di mana kalender Hijriyah mengikuti bulan (qomariyah), sedangkan kalender Masehi mengikuti peredaran matahari (syamsiyah).
Perbedaan itu berdampak pada pergeseran waktu: dalam satu tahun, jumlah hari menurut kalender bulan dapat berbeda sekitar 11 hari dibanding kalender matahari. Karena itu, bulan-bulan Hijriyah akan bergeser dari tahun ke tahun ketika dibandingkan dengan kalender Masehi.
Dalam sejumlah tradisi sejarah Islam, Rabiul Akhir juga disebut sebagai bulan peperangan. Alasannya, pada periode ini terdapat sejumlah peristiwa penting yang melibatkan kaum muslimin pada masa Nabi Muhammad SAW maupun masa-masa awal setelahnya.
Perang Buhran
Peristiwa pertama yang dikaitkan dengan Rabiul Akhir adalah Perang Buhran, yang juga disebut invasi Buhran. Disebutkan peristiwa ini terjadi pada tahun ke-3 Hijriyah (624 M), dipimpin langsung oleh Nabi Muhammad SAW di wilayah Buhran atau Bahran.
Wilayah Buhran disebut berada di Hijaz, di antara Madinah dan Mekkah. Nabi SAW membawa sekitar 300 orang pasukannya, dan dalam keterangan yang disampaikan, tidak terjadi adu kekuatan militer secara langsung. Perang ini juga dikenal dengan sebutan Ghazwah al-Fur dan Ghazwah Bani Sulaim, dengan informasi bahwa Nabi SAW meninggalkan Madinah selama 10 atau 11 hari untuk memimpin misi tersebut.
Perang Ghamar (Ekspedisi Ukkasyah)
Peristiwa berikutnya adalah Perang Ghamar, yang kerap dihubungkan dengan Ekspedisi Ukkasyah. Disebutkan, Nabi Muhammad SAW mengutus Ukkasyah ke wilayah Ghamar, dengan fokus pada sumber air milik Bani Asad.
Ekspedisi ini disebut terjadi pada tahun 6 Hijriyah, pada bulan Rabiul Awal atau Rabiul Akhir. Ukkasyah berangkat membawa 40 pasukan muslim. Setibanya di Ghamar, para penduduk diketahui melarikan diri, sehingga situasi ekspedisi berlangsung tanpa benturan yang disebutkan secara rinci dalam teks sumber.
Penaklukan Kabilah Bani Sulaim
Selanjutnya, terdapat penaklukan kabilah Bani Sulaim. Dalam keterangan yang dinyatakan, Rasulullah SAW mengirim Zaid bin Haritsah untuk memimpin pasukan muslimin guna melakukan penaklukan terhadap kabilah tersebut.
Rombongan Zaid menemukan perkampungan Bani Sulaim setelah mendapat petunjuk dari seorang perempuan. Ekspedisi ini disebut berlangsung pada Rabiul Akhir tahun ke-6 Hijriyah. Dalam penjelasan itu pula, disebutkan Jumum (Jamum) sebagai sumber air milik Bani Sulaim yang terletak di Mar Zhohron.
Rasulullah SAW juga pernah singgah di Jumum (Mar Zhohron) ketika hendak menaklukkan Kota Makkah pada tahun 8 Hijriyah bersama sekitar 10 ribu muslimin. Di tempat inilah, Abu Sufyan bin Harb disebut menyatakan masuk Islam. Disebutkan pula bahwa lokasi tersebut kini kurang lebih berjarak 18 Km dari Masjid Tan im, masjid yang dijadikan miqat untuk niat umrah di Mekkah.
Pengutusan Khalid bin Walid ke Bani Al-Harits
Berita Terkait
Peristiwa penting lain pada periode Rabiul Akhir adalah pengutusan Khalid bin Walid oleh Rasulullah SAW kepada Bani al-Harits ibn Ka’b. Dalam keterangan tersebut, Khalid diutus dalam misi penaklukan Bani Harits, yaitu salah satu suku Quraisy yang menetap di wilayah pinggiran Kota Mekkah.
Rasulullah SAW disebut memerintahkan Khalid untuk menyerukan Islam selama tiga hari terlebih dahulu sebelum memerangi mereka. Tercatat bahwa berkat perjuangan Khalid, Bani Harits kemudian masuk Islam. Peristiwa ini disebut berlangsung pada bulan Rabiul Akhir tahun 10 Hijriyah.
Penaklukan Damsyik (Damaskus)
Masuk pada fase setelah masa Rasulullah, bulan Rabiul Akhir juga dikaitkan dengan penaklukan Damsyik (Damaskus). Tercatat peristiwa ini terjadi pada tahun 14 Hijriyah (635 M), dengan keterangan bahwa pengepungan berlangsung selama 70 hari.
Peristiwa tersebut disebut dipimpin oleh Ubaidah bin Jarrah dan Khalid bin Walid. Dalam teks sumber, perang ini dikaitkan dengan masa kepemimpinan Khalifah Abu Bakar As-Siddiq, ketika akhirnya wilayah tersebut direbut oleh kaum muslimin.
Terjadinya Perang Jamal
Pada bulan Rabiul Akhir juga disebut terjadi peristiwa yang dikenal sebagai Perang Jamal. Perang ini melibatkan pasukan Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha yang berhadapan dengan pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib.
Disebutkan peristiwa berlangsung di Basra, Irak, pada tahun 656 M, dan dikenal pula sebagai tahun fitnah. Teks sumber menyebut bahwa perang terjadi setelah berbagai fitnah menimpa keduanya, sehingga Ummul Mukminin Aisyah ikut terseret dalam konflik peperangan melawan pasukan Khalifah Ali bin Abi Thalib, yang merupakan sepupu sekaligus menantu dari Nabi Muhammad SAW.
Perang ini dinamakan Perang Jamal karena dalam pertempuran tersebut Aisyah bertempur dengan menunggang unta yang dalam bahasa Arab disebut Jamal. Dalam penjelasan yang sama, perang saudara ini diposisikan sebagai tragedi kelam dalam sejarah Islam yang terjadi akibat ulah provokator.
Wafatnya Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani
Selain peristiwa-peristiwa sejarah, Rabiul Akhir juga disebut menjadi bulan yang memuat peristiwa keilmuan dan ketokohan, salah satunya wafatnya Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani. Dalam teks sumber, beliau wafat pada hari Sabtu bakda Magrib, pada tanggal 11 Rabiul Akhir, di Babul Azaj Baghdad, tahun 561 H (1166 M), pada usia 91 tahun.
Syaikh Abdul Qadir Al-Jilani disebut lahir pada bulan Ramadhan tahun 470 Hijriyah di Jilan, Persia. Beliau dikenal sebagai ulama ahli fiqih sekaligus memiliki kedalaman ilmu makrifat, serta diiringi banyak keutamaan dan karomah. Dalam keterangan tersebut, para wali, ulama, syaikh, dan ahli zuhud disebut menaruh hormat kepadanya.
Tentang Turunnya Surat Al-Hasyr
Dalam bagian penjelasan lain, teks sumber menyinggung peristiwa turunnya Surat Al-Hasyr yang banyak disebut terjadi pada Rabiul Akhir, namun terdapat perbedaan pandangan. Disebutkan, Imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa Surat Al-Anfal turun pada waktu Perang Badar, sedangkan Surat Al-Hasyr turun pada waktu Perang Bani Nadhir.
Imam Al-Hakim juga disebut mengetengahkan riwayat dari Sayyidah Aisyah bahwa peristiwa tersebut terjadi kira-kira enam bulan setelah Perang Badar. Dalam penjelasan itu, disebutkan segolongan kaum Yahudi Bani Nadhir bertempat tinggal dan berkebun kurma di wilayah Kota Madinah, lalu dikepung oleh Rasulullah SAW.
Setelah pengepungan, mereka diusir dari Madinah dan hanya diperbolehkan membawa harta kekayaan sekadarnya yang terpikul oleh unta mereka, sementara tidak dibenarkan membawa senjata. Disebutkan bahwa ayat 1 sampai 5 dari Surat Al-Hasyr turun berkenaan dengan peristiwa tersebut, dan Rasulullah SAW memutuskan untuk mengusir Bani Nadhir dari Kota Madinah.
Adapun pendapat para ulama tentang kapan perang Bani Nadhir berkecamuk juga disebut berbeda. Az-Zuhri rahimahullah menganggap perang terjadi enam bulan pascaperang Badar Kubra, sehingga dinilai berlangsung sebelum Perang Uhud. Ulama lain menyebut bahwa perang terjadi setelah Perang Uhud, tepatnya pada bulan Rabiul Awal tahun ke-4 Hijriyah.









