Pendidikan

Tiga Bentuk Khianat: Pedoman Islam Hadapi Pengkhianat

×

Tiga Bentuk Khianat: Pedoman Islam Hadapi Pengkhianat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 3 Macam Khianat, Begini Cara Islam Menghadapi Pengkhianat

jurnalistik.co.id – Khianat adalah perbuatan tercela yang merusak kepercayaan dan mencerminkan akhlak yang jauh dari nilai amanah. Dalam ajaran Islam, tindakan ini juga diberi penegasan tegas melalui Al-Qur’an dan hadis.

Kepercayaan merupakan sesuatu yang seharusnya dijaga, karena ia menjadi fondasi hubungan antarmanusia. Ketika seseorang mengkhianati amanah, dampak yang muncul tidak hanya pada relasi sosial, tetapi juga pada bobot moral dirinya di hadapan Allah SWT.

Dalam kehidupan sehari-hari, pengkhianatan dapat hadir dalam beragam wujud. Mulai dari mengingkari janji, menyalahgunakan kepercayaan, hingga mengambil hak pihak lain dengan cara yang tidak jujur.

Secara istilah, khianat dipahami sebagai tindakan tidak menepati amanah, baik yang berkaitan dengan janji, sumpah, maupun tanggung jawab yang dipercayakan. Mohammad Ridwan dalam buku Wawasan Keislaman: Penguatan Diskursus Keislaman Kontemporer menjelaskan bahwa khianat berarti tidak menepati amanah, dan istilah ini juga digunakan untuk menggambarkan seseorang yang mengambil hak orang lain.

Islam tidak menempatkan masalah ini sebagai persoalan kecil yang bisa dinormalisasi. Sebaliknya, larangan khianat ditegaskan lewat firman Allah SWT yang langsung ditujukan kepada orang-orang beriman.

Allah SWT berfirman dalam QS Al-Anfal: 27: โ€œูŠูฐู“ุงูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ู†ูŽ ุงูฐู…ูŽู†ููˆู’ุง ู„ูŽุง ุชูŽุฎููˆู’ู†ููˆุง ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ูŽ ูˆูŽุงู„ุฑู‘ูŽุณููˆู’ู„ูŽ ูˆูŽุชูŽุฎููˆู’ู†ููˆู’ู“ุง ุงูŽู…ูฐู†ูฐุชููƒูู…ู’ ูˆูŽุงูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุชูŽุนู’ู„ูŽู…ููˆู’ู†ูŽโ€

Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu mengkhianati Allah dan Rasul (Muhammad) dan (juga) janganlah kamu mengkhianati amanat-amanat yang dipercayakan kepadamu, sedang kamu mengetahui. (QS Al-Anfal: 27).

Khianat dikaitkan dengan tanda kemunafikan

Selain larangan Al-Qur’an, Rasulullah SAW juga mengaitkan perilaku khianat dengan salah satu tanda kemunafikan. Ini menunjukkan bahwa pengkhianatan bukan sekadar kesalahan etika, melainkan indikator karakter yang bermasalah.

Dalam hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah RA, beliau bersabda: โ€œุขูŠูŽุฉู ุงู„ู’ู…ูู†ูŽุงููู‚ู ุซูŽู„ูŽุงุซูŒ: ุฅูุฐูŽุง ุญูŽุฏู‘ูŽุซูŽ ูƒูŽุฐูŽุจูŽุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ูˆูŽุนูŽุฏูŽ ุฃูŽุฎู’ู„ูŽููŽุŒ ูˆูŽุฅูุฐูŽุง ุงุคู’ุชูู…ูู†ูŽ ุฎูŽุงู†ูŽโ€

Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: apabila berbicara, ia berdusta; apabila berjanji, ia mengingkari; dan apabila dipercaya, ia berkhianat. (HR Bukhari dan Muslim).

Dari susunan hadis tersebut, khianat ditempatkan sebagai bagian dari pola yang menyeluruh. Ketika seseorang berulang kali mengingkari janji dan merusak amanah, maka ia sedang mempertontonkan ketidaksesuaian antara ucapan dan perilaku.

Ujian hidup dan konsekuensi menjaga amanah

Islam juga mengingatkan bahwa kehidupan dunia tidak lepas dari ujian, termasuk dalam bentuk harta dan anak. Dalam konteks ini, amanah dipandang sebagai ukuran kesungguhan iman seseorang ketika menghadapi godaan.

Allah SWT mengingatkan bahwa harta dan anak merupakan bagian dari ujian kehidupan. Sebagaimana firman-Nya dalam QS Al-Anfal ayat 28, โ€œharta dan anak-anak hanyalah cobaan, sedangkan pahala besar berada di sisi Allah SWT.โ€

Dengan demikian, pengendalian diri menjadi kunci agar seseorang tidak tergelincir pada pengkhianatan. Ketika amanah dijaga, hubungan sosial tetap berjalan di atas kejujuran, sedangkan ketika khianat dilakukan, kerusakan yang terjadi lebih sulit diperbaiki.

Pada akhirnya, ajaran Islam menempatkan khianat sebagai perbuatan yang dibenci. Oleh karena itu, setiap muslim perlu membangun kebiasaan menepati tanggung jawab, menjaga kepercayaan, dan memastikan janji tidak pernah diingkari.

Jika kepercayaan adalah jembatan yang menyatukan, maka amanah adalah pondasi yang membuat jembatan itu kokoh. Rasulullah SAW telah memberi rambu jelas melalui hadis, dan Al-Qur’an telah mempertegas larangan lewat QS Al-Anfal: 27 dan QS Al-Anfal: 28.

Larangan khianat dalam ayat yang disebutkan menegaskan bahwa amanah tidak cukup dipahami sebatas aturan sosial. Sikap seorang beriman juga diuji lewat konsistensi antara kesadaran hati, ucapan, dan tindakan.

Hadis tentang tanda kemunafikan memperlihatkan bahwa pengkhianatan berdiri sebagai bagian dari pola yang berulang. Ketika seseorang tidak mampu menjaga amanah, itu menunjukkan bahwa komitmen yang ia bangun sebelumnya tidak benar-benar sejalan dengan perilakunya.

Karena itu, menepati janji dan menjaga kepercayaan menjadi kebiasaan yang perlu dilatih dalam aktivitas harian. Dari tanggung jawab yang kecil hingga urusan yang lebih besar, amanah yang terjaga membuat hubungan sosial tetap berjalan di atas kejujuran.