jurnalistik.co.id – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan masyarakat agar lebih waspada terhadap risiko kesehatan yang ditimbulkan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla), khususnya bagi anak.
Dalam pernyataan resminya, IDAI menekankan bahwa bahaya tidak berhenti pada persoalan lingkungan, karena paparan asap turut berhubungan dengan kondisi kesehatan anak dan kelompok rentan.
IDAI menyebutkan paparan asap karhutla terutama berkaitan dengan partikel halus PM2.5. Pada kondisi tersebut, anak dinilai menjadi salah satu kelompok paling rentan terhadap efek buruk paparan.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso, menyampaikan bahwa karhutla tidak hanya menjadi bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan yang berdampak langsung.
“Karhutla bukan sekadar bencana lingkungan, tetapi juga darurat kesehatan anak dan kelompok rentan. Asap karhutla mengandung partikel halus PM2.5 yang sangat berbahaya bagi saluran pernapasan anak dan kelompok rentan,” kata Piprim dalam keterangan tertulis, dikutip Minggu (27/09).
IDAI juga menyoroti bahwa paparan asap dapat mengganggu saluran pernapasan anak. Hal ini menjadi perhatian karena saluran pernapasan pada anak lebih mudah terdampak saat kualitas udara menurun.
Dalam keterangan yang sama, Ketua UKK Respirologi IDAI, Dr. Wahyuni Indawati, mengingatkan perlunya kewaspadaan terhadap dampak PM2.5 dari asap karhutla pada anak.
Fokus perhatian diarahkan terutama pada anak di bawah lima tahun, mengingat kelompok usia tersebut berada pada fase perkembangan yang memerlukan perlindungan lebih ketat dari pajanan polutan.
Selain aspek risiko, IDAI juga menyebut adanya perbedaan tingkat bahaya PM2.5 dari asap karhutla dibandingkan PM2.5 dari sumber lain. Perbedaan ini dipandang penting untuk dipahami agar langkah perlindungan dapat disesuaikan dengan kondisi paparan.
“PM2.5 dari asap kebakaran hutan dapat hingga 10 kali lebih berbahaya bagi pernapasan anak dibanding PM2.5 dari sumber lain karena komposisi kimianya memiliki potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi,” ujarnya.
Berita Terkait
Menurut IDAI, pernyataan tersebut menegaskan bahwa PM2.5 bukan sekadar partikel dalam udara, melainkan membawa dampak potensial yang lebih besar ketika berasal dari asap karhutla. Dengan demikian, pengendalian paparan pada periode asap menjadi bagian penting dari upaya kesehatan anak.
Di sisi lain, IDAI menggarisbawahi bahwa penanganan tidak cukup berhenti pada langkah umum. Diperlukan kewaspadaan yang konsisten karena paparan asap dapat berlangsung dalam rentang waktu tertentu, sehingga risiko berpotensi terus menyertai aktivitas anak.
Dalam konteks itu, IDAI menyebut telah menghadirkan delapan rekomendasi terkait perlindungan kesehatan anak saat terjadi karhutla. Rekomendasi tersebut disusun sebagai panduan agar orang tua dan pengasuh dapat mengambil langkah yang lebih tepat ketika asap memenuhi wilayah.
IDAI memandang, pengetahuan yang benar tentang kandungan asap dan kerentanan anak membantu keluarga menilai urgensi perlindungan. Kepekaan anak terhadap gangguan pernapasan menjadi alasan utama mengapa peringatan ini perlu ditindaklanjuti.
Dengan adanya penjelasan mengenai PM2.5 dan karakter bahayanya, IDAI mendorong masyarakat untuk tidak menyepelekan kondisi kualitas udara saat karhutla terjadi. Anak yang terpapar asap dalam jangka waktu tertentu dapat menghadapi gangguan yang memerlukan perhatian sejak awal.
Karena itu, pesan IDAI berfokus pada pencegahan paparan sedini mungkin serta kewaspadaan terhadap tanda-tanda gangguan pada saluran pernapasan. Penguatan perhatian pada kelompok anak di bawah lima tahun juga menjadi bagian yang ditekankan dalam pernyataan respirologi IDAI.
Ketika asap karhutla menyebar, keluarga perlu memastikan perlindungan anak dilakukan secara serius, sejalan dengan penegasan bahwa asap mengandung partikel halus PM2.5 yang berbahaya bagi saluran pernapasan.
IDAI juga mengingatkan bahwa risiko yang dibawa asap karhutla tidak lepas dari sifat kimia PM2.5 yang berbeda dibandingkan sumber lain, sebagaimana disebutkan melalui pernyataan tentang potensi oksidasi dan pro-inflamasi yang lebih tinggi.
Dengan latar tersebut, delapan rekomendasi IDAI diharapkan menjadi rujukan saat situasi asap terjadi. Panduan itu diarahkan untuk membantu orang tua memahami prioritas perlindungan kesehatan anak agar dampak paparan tidak membesar.
Secara keseluruhan, IDAI menegaskan karhutla sebagai isu yang juga berkaitan langsung dengan darurat kesehatan anak. Asap yang mengandung PM2.5 dinilai membawa risiko nyata pada pernapasan, sehingga kewaspadaan dan penerapan rekomendasi menjadi langkah yang relevan untuk perlindungan.












