jurnalistik.co.id – JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, dari seluruh wilayah di Indonesia, hanya pertumbuhan ekonomi di Pulau Kalimantan dan Sulawesi yang mengalami perlambatan pada kuartal III-2026. Kondisi itu terjadi di tengah kebakaran hutan dan lahan atau karhutla yang intensif di dua pulau tersebut sejak awal tahun ini. Temuan ini menempatkan Kalimantan dan Sulawesi sebagai dua wilayah yang lajunya tidak sekencang periode sebelumnya.
Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS, M. Edy Mahmud, menjelaskan bahwa ekonomi Kalimantan tumbuh 3,96% pada kuartal III-2026. Capaian itu lebih lambat dibandingkan pertumbuhan pada kuartal III-2025 yang sebesar 4,68%.
Dengan kata lain, meski masih mencatat ekspansi, kecepatannya menurun dibandingkan tahun lalu. Dalam konferensi pers BPS pada Kamis (5/11/2026), Edy menekankan bahwa sumber pertumbuhan Kalimantan datang dari industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian.
Di dalam kawasan Kalimantan, kontribusi pertumbuhan tertinggi datang dari Kalimantan Timur. Sementara itu, Kalimantan Tengah tercatat sebagai penyumbang terendah.
Pola ini menunjukkan bahwa kinerja ekonomi di pulau tersebut tidak bergerak seragam, melainkan masih bergantung pada kekuatan masing-masing daerah. Meski karhutla menjadi latar yang berat, struktur perekonomian Kalimantan tetap bertumpu pada sektor-sektor utama yang selama ini menopang aktivitas produksi dan distribusi barang.
Hal serupa juga terlihat di Sulawesi. Produk Domestik Bruto (PDB) wilayah ini tumbuh 5,68% pada kuartal ketiga tahun ini, melambat dari periode yang sama tahun lalu yang mencapai 5,84%.
Secara persentase, perlambatan di Sulawesi tidak sedalam Kalimantan, namun arahnya tetap sama. BPS menyebut sumber pertumbuhan Sulawesi berasal dari sektor pengolahan, konstruksi, dan perdagangan.
Untuk Sulawesi, kontributor pertumbuhan ekonomi tertinggi berasal dari Sulawesi Selatan. Adapun kontribusi terendah tercatat dari Gorontalo.
Berita Terkait
Rincian ini memperlihatkan bahwa motor ekonomi Sulawesi masih terkonsentrasi pada wilayah-wilayah tertentu, sementara daerah lain bergerak dengan porsi yang lebih kecil. Dalam konteks kuartal III-2026, pembacaan BPS memperlihatkan adanya ketahanan, tetapi lajunya belum cukup kuat untuk menghindari perlambatan dibandingkan tahun sebelumnya.
Jika dilihat lebih luas, data tersebut memberi sinyal bahwa karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan juga berpotensi memengaruhi ritme ekonomi daerah. Kalimantan dan Sulawesi sama-sama masih tumbuh, namun kecepatannya menurun pada saat banyak wilayah lain di Indonesia tidak mengalami perlambatan serupa.
Artinya, tekanan yang terjadi di dua pulau itu cukup spesifik dan patut dicermati karena berlangsung bersamaan dengan aktivitas ekonomi yang tetap harus berjalan. Meski begitu, angka-angka BPS juga menunjukkan bahwa fondasi ekonomi di kedua wilayah tersebut belum kehilangan tenaga sepenuhnya.
Kalimatannya, Kalimantan masih ditopang industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian. Sulawesi tetap bergerak berkat pengolahan, konstruksi, dan perdagangan.
Dengan kontribusi tertinggi masing-masing berasal dari Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan, sementara daerah seperti Kalimantan Tengah dan Gorontalo menjadi penopang yang lebih kecil, perlambatan pada kuartal III-2026 tampak sebagai penyesuaian yang terjadi di tengah tekanan, bukan kejatuhan aktivitas secara menyeluruh.
Di saat yang sama, laporan BPS menegaskan bahwa dinamika ekonomi daerah masih sangat dipengaruhi oleh kondisi sektoral dan wilayah. Kalimantan dan Sulawesi memang tetap mencatat pertumbuhan, tetapi laju yang melambat menunjukkan tantangan yang tidak bisa diabaikan. Bagi pembaca ekonomi, data ini penting karena memberi gambaran bahwa pengaruh karhutla dapat terasa hingga ke indikator makro, terutama ketika ia berlangsung intensif dan memanjang sejak awal tahun.
Dalam paparan tersebut, BPS membandingkan laju pertumbuhan pada kuartal III-2026 dengan kinerja pada kuartal III-2025, sehingga gambaran perlambatan dapat dibaca sebagai perubahan kecepatan. Dengan kata lain, indikator tetap menunjukkan pertumbuhan, tetapi laju ekspansinya tidak sekuat periode sebelumnya.
Dari sisi sebaran, kontribusi tertinggi masih bertumpu pada Kalimantan Timur dan Sulawesi Selatan, sementara Kalimantan Tengah serta Gorontalo tercatat sebagai penopang dengan porsi lebih kecil. Karena itu, meski karhutla menjadi faktor yang membayangi, respons tiap wilayah tidak seragam; dinamika sektoral dan karakter daerah turut menentukan seberapa besar perlambatan terlihat pada perhitungan PDB.












