Peristiwa

Dibilang tak pantas jadi ibu, Marion McMillan kemudian kehilangan bayinya karena adopsi paksa

×

Dibilang tak pantas jadi ibu, Marion McMillan kemudian kehilangan bayinya karena adopsi paksa

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: I was told I was unworthy to be a mother. Then they stole my baby

jurnalistik.co.id – Marion McMillan mengisahkan bagaimana ia dibawa masuk ke pusaran kebijakan adopsi paksa ketika masih berusia 17 tahun. Ia termasuk sekitar 250.000 perempuan yang, menurut catatan BBC, dipaksa menyerahkan bayi mereka untuk adopsi dalam periode 1949 hingga 1976.

Dari pengalaman itu, ia menggambarkan ketercerabutan yang terjadi bukan sekadar pada masa kehamilan dan persalinan, tetapi hingga bayi akhirnya diambil. Dalam film dokumenter Stolen Babies, Marion bercerita bahwa ia merasa “tidak layak” menjadi seorang ibu sejak awal proses.

Marion berangkat dari kampung halamannya di bagian selatan-barat Skotlandia menuju Newcastle-upon-Tyne pada 1966. Ia dikirim oleh keluarganya ke rumah bersalin yang dijalankan Salvation Army, yang jaraknya lebih dari 150 mil, dan harus menjalani pemisahan dari anaknya dalam waktu yang panjang.

Selama sembilan bulan, Marion tinggal bersama bayi laki-lakinya. Ia menyebut bayi itu memiliki “gorgeous wee black hair”, sebelum akhirnya diambil dari pelukannya. Marion mengatakan ia memohon kepada staf agar diizinkan tetap memelihara bayinya, namun permohonan itu tidak digubris.

Ia mengutip apa yang ia sampaikan saat meminta pertolongan: “I said ‘please help me keep my baby, don’t let them take my baby, please’ and he was gone,”. Setelah itu, ia hanya bisa menghadapi kenyataan bahwa proses pengambilalihan berlangsung.

Kehamilan yang berujung perpisahan paksa

Marion tumbuh di Stranraer pada era 1960-an, ketika ia jatuh cinta pada seorang pria yang lebih tua dan telah bermigrasi dari Pakistan. Ia mengatakan hubungan itu tidak menjadi sesuatu yang ia pikirkan secara panjang, karena ia hanya bersama lelaki itu dalam waktu singkat, dan keluarganya tidak pernah tahu keadaan mereka.

Ketika ia akhirnya hamil di luar pernikahan, ia berharap pasangan itu mau menikahinya. Namun, menurut cerita Marion, sang kekasih memahami bahwa hubungan mereka tak akan diterima.

Marion menuturkan pesan yang ia terima dari kekasihnya, “Nobody will want you to go with a black man, Marion,”. Dalam percakapan terakhir mereka, ia bahkan menyebut arah yang dianggap memungkinkan oleh sang kekasih: emigrasi ke Hawaii karena ia percaya pernikahan campuran lebih mungkin diterima.

Marion menyatakan bahwa setelah percakapan itu ia tidak pernah melihat pria tersebut lagi: “Didn’t know what was ahead of me. The conveyor belt of ‘unwed mother’ took control, and that was when I lost control.” Ia pun harus menghadapi situasi yang, baginya, berjalan tanpa kendali dari pihaknya.

Marion melahirkan di Hopedene, sebuah tempat untuk ibu yang belum menikah. Ia menggambarkan kondisi yang keras dan perlakuan yang ia nilai dapat bersifat brutal. Ia menceritakan bahwa sejak melewati ambang tempat itu, ia diberitahu bahwa ia “tidak layak” menjadi ibu dan bayinya akan diambil untuk adopsi.

Ia mengutip apa yang ia terima, “Everything, from the minute you cross their threshold, is that you’re unworthy to be a mother and we’re taking your baby from you,”. Marion menambahkan, “It’s going for adoption. So you better get used to that, girl, because you’ve no money, you’ve no place to live, you’ve not got anybody to support you.”

Selama proses persalinan, Marion juga mengalami kekerasan. Ia mengatakan matron menampar wajahnya karena ia mencoba turun dari tempat tidur. Marion kemudian menggambarkan rasa takut yang ia rasakan saat menunggu kelahiran selesai dan peristiwa berikutnya terjadi: “I was absolutely terrified,” dan “Absolutely terrified that they’re taking my baby. They cannae take my baby away from me.”

Bayinya diambil saat usia sembilan bulan

Marion tidak diizinkan memegang bayinya pada hari yang sama dan baru bisa berhubungan pada hari berikutnya. Namun, kendali tetap berada di tangan sistem yang memutuskan nasib anaknya, hingga akhirnya bayi yang ia lahirkan justru dipilih oleh orang tua angkat.

Marion menuturkan bahwa ia memiliki waktu lebih lama dibanding sebagian gadis lain di rumah ibu dan bayi di Inggris Raya. Ia mengaitkan perlakuan yang ia terima dengan identitas yang, menurut cerita Marion, dikenali Salvation Army: “I was a Scotch girl with a half-caste, that’s what the Salvation Army recognised me to be,”.

Marion juga menceritakan penilaian yang disampaikannya terkait keberhasilan adopsi: “And of course you were told that half-caste is very rarely successful in adoption.” Bayinya diambil ketika usianya sembilan bulan, pada saat ia “picked out” oleh orang tua angkat.

Untuk menggambarkan penantian itu, Marion membandingkannya dengan vonis kematian: “I was a Scotch girl… [The matron] took him, and she was weeping with me, and she must have had another member of staff that took him then, and she was still holding me.” Dalam proses itu, permohonan Marion agar bayi tidak diambil tetap tidak diterima.

Setelah pemisahan, Marion tidak mudah kembali ke kehidupannya di Stranraer. Ia akhirnya tinggal di hostel perempuan di Glasgow, dan kemudian baru bisa bertemu kembali putranya pada 2004. Meski perjumpaan itu terjadi, Marion mengatakan pengalaman tersebut tetap meninggalkan luka panjang.

Ia menilai rasa sakit itu bukan hanya untuk dirinya: “It’s been painful for him, painful for me, painful for his [adoptive] parents, painful for everybody.” Ia menambahkan, “But it you take away the pain it’s been a gift from God because all the years I missed him.”

Film dokumenter itu juga memuat kisah perempuan lain dengan jalur yang serupa. Ann Keen, misalnya, mengisahkan bahwa ia berusia 17 tahun dan bekerja di pabrik gulungan tisu toilet di Ewloe, Flintshire, ketika seorang penjual mengajaknya pergi. Ann berkata, “That’s when it happened. In today’s terms it was without consent. You didn’t say that in the 60s,”.

Ia kemudian dikirim pergi agar “problem” tersebut dapat “dealt with”. Saat melahirkan di rumah sakit NHS di Swansea, Ann mengatakan ia tidak diberi obat pengurang nyeri. Ia mengutip, “I was told I wouldn’t have anything for pain because I would remember it, and I wouldn’t be a bad girl again.”

Ann juga menuturkan bahwa ia dipandang tidak memiliki moralitas sehingga dianggap tidak layak menerima bantuan. Ia menegaskan, “And I don’t believe, had I been married that that would have happened.”

Menurut Ann, putranya diambil saat bayi berusia delapan hari. Ia mengatakan ia diberi tahu bisa menghabiskan 10 hari bersama anaknya, tetapi pada hari kedelapan ia pergi ke ruang penitipan dan bayinya tidak ada. Ann mengutip ucapan bidan: “He’s waiting for his new mummy. You’ll never see him again.” Ia lalu menceritakan tindakan kekerasan di kamar mandi bergaya Victoria, termasuk ketika bidan berkata, “I’m getting rid of this milk, you won’t be needing it.”

Ann kemudian mengatakan titik itulah saat ia tahu semuanya hilang: “And that’s when I knew I’d lost everything,”. Di kemudian hari, Ann akhirnya bertemu kembali putranya, Mark Lloyd-Fox. Ia juga termasuk kelompok kecil ibu yang diundang ke Downing Street menjelang permintaan maaf dari pemerintah Inggris yang disampaikan Sir Keir Starmer.

Kisah lain datang dari Joan Chambers, yang pada usia 14 tahun di Sunderland menyadari kehamilannya. Joan mengatakan seorang guru mulai meminta ia berjalan-jalan di pedesaan, dan ia percaya guru tersebut karena “teachers are supposed to be trustworthy”. Ia menuturkan, “All I remember is the pain,” setelah kejadian pemerkosaan, dan “I didn’t understand what was happening.”

Lima minggu sebelum melahirkan, Joan harus memberi kesaksian di pengadilan. Bertahun-tahun kemudian, ia menemukan arsip yang menunjukkan hakim meminta juri untuk tidak mempercayai kesaksiannya. Joan mengutip ucapan hakim dalam dokumenter, “He’s got a good career ahead of him, so don’t let her being pregnant sway you.” Pria itu kemudian dibebaskan.

Joan melaporkan bahwa ia mengaku “blanked out” saat melahirkan dan tidak diberi obat pereda nyeri. Ia berkata, “The next thing I remember is like my legs were up in stirrups, a green cover over my legs, waiting for the doctor to come and stitch me. I had been torn to shreds, absolutely torn to shreds.” Bayinya diambil saat usia tiga minggu, sepekan sebelum Natal. Joan kemudian akhirnya bertemu kembali putranya pada usia 66 tahun, dengan penilaian, “It was amazing, but it was so sad,” dan “He’d never looked for me because he had a happy adoption.”

Permintaan maaf dan dorongan dukungan lanjutan

Dalam konteks pengakuan atas peran negara, Nicola Sturgeon menyebut Marion McMillan sebagai “one of the most ardent campaigners” ketika melakukan permintaan maaf resmi. Ia menyatakan, “It was always cruel, unjust and profoundly wrong.”

Pada bulan Juli, perdana menteri yang akan segera beralih jabatan, Sir Keir Starmer, juga menyampaikan permintaan maaf formal kepada para ibu yang terdampak, dengan kalimat, “The shame is not yours… the shame is ours.”

Salvation Army kemudian memperbarui permintaannya. Dalam pernyataan yang dipublikasikan pada hari Jumat, organisasi itu menyebut “profoundly sorry and deeply ashamed” karena perempuan muda rentan tidak mendapatkan bantuan yang mereka butuhkan di rumah ibu dan bayi. Para pemimpin teritorial, Paul dan Jenine Main, menambahkan bahwa mereka harus bertanggung jawab dan merefleksikan peran dalam masyarakat yang bekerja melawan perempuan hamil yang tidak menikah.

Marion menegaskan bahwa masih ada langkah yang perlu dilakukan. Ia meminta dukungan lebih besar bagi para korban: para ibu, anak-anak, dan orang tua angkat. Ia juga mengusulkan adanya pusat keunggulan adopsi di Skotlandia, yang memberi pelatihan dan dukungan menyeluruh bagi siapa pun yang terlibat dalam proses adopsi.