jurnalistik.co.id – Harga perak bergerak lemah sepanjang pekan ini, menyusul perubahan nada kebijakan moneter Amerika Serikat yang dinilai makin hawkish. Tekanan tersebut terlihat dari penurunan harga di pasar selama beberapa sesi terakhir.
Dalam perdagangan pada Jumat (28/8/2026), harga perak ditutup di level US$66,35 per troy ons. Angka itu turun 4,19% dibandingkan perdagangan sehari sebelumnya, menandai bahwa sentimen negatif langsung merembes ke pergerakan komoditas.
Secara keseluruhan, perak juga mencatat pelemahan sepanjang pekan dengan penurunan 3,79% secara point-to-point (ptp). Dengan kata lain, koreksi tidak hanya terjadi pada satu hari, tetapi berlanjut hingga periode penutupan pekan.
Katalis utama datang dari pernyataan bank sentral AS. Federal Reserve (The Fed) kembali mengejutkan pasar global setelah Ketua The Fed Kevin Warsh memunculkan sikap hawkish untuk pertama kalinya pada periode kepemimpinannya, khususnya dalam pidato di Jackson Hole.
Warsh menegaskan bahwa risiko inflasi masih menjadi persoalan yang serius. Pernyataan ini memperkuat kecemasan pasar bahwa pengendalian harga belum berada dalam kondisi yang sepenuhnya aman.
Melansir The Wall Street Journal (WSJ), Warsh menyebut The Fed mungkin perlu “berusaha lebih keras” untuk mengendalikan inflasi. Kalimat tersebut kemudian dibaca sebagai sinyal bahwa bank sentral belum selesai dengan langkah-langkah pengetatan, setidaknya dari perspektif pelaku pasar.
Reaksi pasar muncul karena komentar tersebut menggeser ekspektasi terhadap arah suku bunga ke depan. Dalam pembacaan pelaku pasar, nada yang lebih hawkish berarti peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan The Fed September mendatang makin terbuka.
Pasar kini mulai memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga di jadwal terdekat. Peluang kenaikan suku bunga AS pada bulan September diproyeksikan sebesar 58%, sedangkan sebelum komentar Warsh peluang tersebut berada di level 36%.
Pergeseran ekspektasi ini menunjukkan bahwa pesan Warsh tidak hanya memengaruhi pandangan untuk satu pertemuan, melainkan juga merembet ke skenario periode berikutnya. Hal tersebut tercermin dari proyeksi lanjutan yang dihitung oleh alat CME FedWatch.
Menurut CME FedWatch, peluang kenaikan suku bunga pada bulan Desember bahkan diperkirakan mencapai 89%. Angka ini menggambarkan bahwa pasar memberi bobot besar pada kemungkinan kebijakan yang lebih ketat dalam rentang waktu beberapa bulan ke depan.
Berita Terkait
Dalam narasi yang lebih luas, komentar Warsh juga menekankan adanya pekerjaan rumah kebijakan jika inflasi inti tidak kembali ke target. Pasar menilai bahwa pernyataan terdekatnya mengisyaratkan ruang bagi kenaikan suku bunga untuk meredakan tekanan harga, sesuai dengan indikator inflasi inti yang disebut dalam konteks target 2%.
Sejumlah pelaku pasar lantas menarik kesimpulan bahwa kebijakan yang cenderung hawkish berpotensi mendorong imbal hasil instrumen berbasis dolar menjadi lebih menarik. Pada kondisi seperti ini, logam mulia kerap kehilangan daya tarik, terutama karena tidak memberikan imbal hasil seperti aset berbunga.
Seperti halnya emas, perak juga cenderung tertekan ketika suku bunga berada dalam lingkungan yang lebih tinggi. Logika yang digunakan pasar adalah bahwa perak, sebagai logam, tidak menawarkan imbal hasil, sehingga ketika peluang kenaikan suku bunga membesar, minat terhadap komoditas non-bunga dapat berkurang.
Akibatnya, pelemahan perak pekan ini dipahami sebagai efek lanjutan dari ekspektasi kebijakan The Fed. Perubahan persepsi terhadap suku bunga mengubah cara pelaku pasar menilai posisi aset, termasuk logam mulia yang umumnya sensitif terhadap arah kebijakan moneter.
Dengan penutupan Jumat di US$66,35 per troy ons, perak mencatat penurunan tajam dalam satu hari. Namun, dampaknya tidak berhenti pada sesi tersebut karena akumulasi pergerakan pekan menunjukkan penurunan 3,79% secara ptp.
Di tengah dinamika tersebut, perhatian pasar tetap tertuju pada pertemuan The Fed berikutnya. Penyesuaian probabilitas yang tercatat dari CME FedWatch memperlihatkan bahwa para pelaku pasar menunggu konfirmasi lebih lanjut apakah komunikasi hawkish Warsh akan benar-benar berujung pada kenaikan suku bunga.
Secara tidak langsung, kondisi ini juga menjadi pengingat bahwa komoditas berbasis logam mulia bisa mengalami koreksi ketika pasar mengubah ekspektasi imbal hasil dan biaya peluang. Ketika suku bunga diperkirakan naik, tekanan pada instrumen yang tidak menghasilkan pendapatan dapat meningkat.
Dalam konteks pekan ini, jalur pergerakan perak menguat pada satu tema besar: tone hawkish dari The Fed yang dinilai lebih tegas. Dengan Warsh yang memandang inflasi sebagai risiko serius serta menyampaikan The Fed mungkin perlu “berusaha lebih keras”, pasar merespons dengan mengoreksi peluang kenaikan suku bunga.
Bagi perak, koreksi tersebut akhirnya tercermin pada angka-angka pergerakan yang terukur. Penurunan 4,19% pada Jumat (28/8/2026) dan pelemahan 3,79% sepanjang pekan memperlihatkan bahwa sentimen pasar bergerak cepat, menyusul perubahan persepsi terhadap kebijakan moneter AS.
Ke depan, reaksi lanjutan diperkirakan akan sangat bergantung pada perkembangan ekspektasi pasar atas inflasi inti dan keputusan kebijakan The Fed. Selama probabilitas kenaikan suku bunga tetap tinggi, tekanan terhadap perak berpotensi terus menjadi tantangan, terutama karena logam mulia tidak menawarkan imbal hasil di tengah lingkungan suku bunga yang lebih ketat.












