jurnalistik.co.id – Emma Williams dari Llanrug, North Wales, meminta wisatawan tidak “scrimp” soal asuransi perjalanan setelah putrinya, Greta (12), mengalami cedera serius dalam insiden kecelakaan bus saat liburan di Turki. Ia mengatakan, perjalanan keluarga yang seharusnya menjadi momen pertama berlibur ke luar negeri berubah menjadi pengalaman yang panjang dan melelahkan.
Williams menuturkan, Greta menghadapi masa pemulihan sekitar enam bulan untuk kembali pulih sepenuhnya setelah bus terbalik dan menimpa putrinya ketika mereka berada di Alanya, Turki, pada bulan Juli. Menurutnya, kejadian itu terjadi ketika bus kehilangan kendali saat menyalip kendaraan lain di lokasi perjalanan mereka.
Ia juga menegaskan bahwa biaya perawatan dan pemulangan tidak hanya soal uang, tetapi menyangkut rasa aman. “It's worth paying that little bit extra [for insurance] even if you don't need it. It's for your peace of mind more than anything,” kata Williams.
Kronologi kecelakaan selama liburan
Insiden itu terjadi saat keluarga Williams menikmati liburan di Eftalia Ocean Hotel dan mengikuti sejumlah paket tur. Dalam perjalanan mereka selama 10 hari, pada 22 Juli, tujuh hari setelah tiba, mereka berkunang-kunang di Green Canyon dengan aktivitas berenang sebelum melanjutkan rencana mengunjungi air terjun dan kebun binatang.
Dalam salah satu perpindahan menuju lokasi air terjun, keluarga tersebut naik bus yang juga ditumpangi dua keluarga wisatawan Inggris lainnya. Williams mengatakan, ketika sopir melakukan manuver menyalip, ia “lost control and went downhill”.
Williams menggambarkan bus kemudian “flipped a few times” dan hampir menghantam pohon. Ia menyebut ada jurang besar di lokasi yang berbahaya, yang membuat situasinya nyaris jatuh ke area lebih dalam.
Menurut Williams, jendela bus tidak memakai kaca. Greta, yang berada di bagian dalam, terseret posisinya hingga tubuhnya sebagian berada di luar dan kemudian bus mendarat di sisi yang membuat bagian panggul serta pinggulnya terdampak.
Williams menjelaskan, “Half of the bus was actually on her pelvis and hips, but her legs and body were inside the bus.” Ia menambahkan bahwa pasangan Williams, Len, juga berada di luar jendela dan berusaha menyelamatkan putrinya yang masih kecil.
Ia menceritakan momen setelah bus terbalik saat para penumpang bergegas menolong untuk membalik kendaraan. “Everybody rushed to Greta's aid to flip the bus. I know you're not meant to do things like that really, but it was just human instinct to flip the bus over. She was a 12-year-old child stuck underneath.”
Williams juga menuturkan reaksi putri keduanya, Eiry-ana yang berusia delapan tahun, yang berteriak karena mengira kakaknya meninggal. “My eight-year-old was screaming and she thought Greta was dead, she was panicking. It was just horrific.”
Greta berhasil dibebaskan dalam waktu sekitar lima menit setelah bus terbalik. Setelah itu, ia dan sopir bus dilarikan menggunakan ambulans ke Ozel Manavgat Eslem Hastenesi hospital.
Cedera, perawatan medis, dan pemulangan ke Inggris
Williams mengatakan Greta menjalani CT scan dan rontgen di rumah sakit. Ia menggambarkan pengalaman itu sebagai situasi yang sangat menakutkan: “It was extremely scary for her.”
Ia menjelaskan bahwa tim medis harus memotong pakaian Greta. Menurutnya, Greta kemudian harus berbaring dengan papan kayu selama 24 jam tanpa banyak digerakkan.
Berita Terkait
Setelah delapan hari menjalani perawatan, Greta dipindahkan kembali ke Inggris untuk melanjutkan terapi. Williams menyebut pemulangan melalui air ambulance ditanggung oleh polis asuransi perjalanan mereka yang bernilai £106.
Ia menuturkan, “They [the pilots and medics] told me it cost €50,000 just for the flight.” Williams mengatakan mendengar angka tersebut membuatnya semakin terkejut, karena “£106 paid for that.” Ia juga menambahkan bahwa dalam situasi darurat, segalanya bisa terjadi.
Williams mengatakan Jet2 yang menjual paket liburan mereka turut membantu dengan mewajibkan perubahan penerbangan Len dan Eiry-ana agar kembali ke Inggris tanpa tambahan biaya. Greta kemudian dirawat di The Grange University Hospital di Cwmbran dan menjalani fisioterapi.
Williams menyatakan keluarga akan mengetahui pada 2 September apakah Greta sudah bisa kembali bersekolah. Ia menegaskan keputusan itu bergantung pada asesmen medis yang harus dilakukan terlebih dahulu.
Menurutnya, saat ini Greta menjalani pembatasan ketat berupa bedrest. “It's strict bedrest at the minute,” ujarnya, dan ia menambahkan bahwa Greta belum diizinkan banyak bergerak atau berjalan dalam durasi panjang.
Meski demikian, Williams menilai dukungan dari lingkungan sekitar membantu pemulihan. “Her friends have been fantastic.”
Dampak psikologis dan nasihat soal asuransi perjalanan
Williams mengatakan Greta sangat takut ketika kejadian berlangsung dan hanya ingin mendapatkan kepastian dari ibunya. Ia menyebut keluarga berupaya menjaga situasi tetap positif meskipun keadaan saat itu sangat sulit.
Ia juga memuji ketangguhan Greta. “She was phenomenally strong. I'm so proud of how she coped.”
Namun, ia menekankan bahwa bekas kejadian ini akan terus terasa. “This is something that's going to haunt us forever,” tambahnya. Ia menyebut proses pemulihan tidak bisa dipercepat, dan keluarga perlu kembali merasakan rutinitas yang normal terlebih dulu.
Williams menilai dampak insiden semakin terasa karena mereka berada di negara asing. “You can see the accident has impacted them, and being in a foreign country has escalated their fears.”
Ia menuturkan mereka pada awalnya berusaha mengisi liburan dengan pengalaman dan kenangan sebanyak mungkin agar tetap terasa menyenangkan. Namun, setelah kejadian itu, kedua putrinya tidak lagi ingin pergi berlibur.
Ia menyatakan rencana berikutnya adalah mencoba mengajak mereka ke tempat lain, kemungkinan besar tanpa mengikuti tur atau aktivitas serupa, agar ketakutan mereka perlahan berkurang. “They don't want to go on holiday ever again. We're going to try and take them somewhere – probably not on an excursion – to ease their mind.”
Williams juga menyampaikan bahwa kecelakaan tersebut merupakan peristiwa “satu kali” yang sulit diprediksi. “It was a one-off freak accident, and these things don't generally happen.”
Menanggapi kejadian itu, Graeme Buck dari Association of British Travel Agents mengatakan asuransi perjalanan adalah salah satu kebutuhan yang harus dipersiapkan saat bepergian ke luar negeri. Ia menyebut, meski mayoritas liburan berjalan tanpa masalah, kecelakaan dan peristiwa tak terduga bisa terjadi, termasuk biaya perawatan medis dan biaya untuk kembali pulang.
“Cheap isn't always the best, and it's important not to choose a policy based on price alone,” kata Buck. Ia menambahkan wisatawan perlu mengecek apa yang tercakup dalam polis dan memastikan perlindungan komprehensif sesuai rencana perjalanan, termasuk aktivitas tertentu seperti winter sports.












