jurnalistik.co.id – Harga bahan bakar minyak di Amerika Serikat terus menunjukkan tren naik yang nyata sejak pecahnya konflik di Timur Tengah. Kenaikannya tidak seragam, melainkan bergerak dengan besaran berbeda antarnegara bagian.
Menurut data AAA Fuel Price, perbandingan dilakukan dengan menjadikan harga pada 18 Februari 2026 sebagai titik awal sebelum perang, lalu dibandingkan dengan harga pada 20 Agustus 2026. Rangkaian tersebut memperlihatkan persentase kenaikan untuk seluruh 50 negara bagian di AS.
Hasilnya, lonjakan terbesar justru banyak terkonsentrasi di wilayah yang menjadi basis dukungan Presiden AS Donald Trump saat ia memenangkan Pemilihan Presiden 2024. Pola ini tampak ketika beberapa negara bagian mengalami lonjakan persentase yang lebih tinggi dibanding rata-rata nasional.
Iowa mencatat peningkatan persentase tertinggi. Harga bensin di negara bagian itu melonjak 69,1%, dari US$2,45 per galon menjadi US$4,14 per galon.
Oklahoma menyusul dengan kenaikan 68,8%. Di sisi lain, Colorado, Minnesota, dan Wyoming juga mengalami kenaikan yang sangat besar, masing-masing lebih dari 60%.
Rentang kenaikan tersebut juga terlihat pada kelompok sepuluh besar. Montana, New Mexico, North Dakota, South Dakota, dan Kansas melengkapi peringkat teratas dengan kenaikan masing-masing lebih dari 57%.
Lonjakan persentase yang tinggi ini juga dijelaskan oleh kondisi awal harga sebelum perang. Sejumlah negara bagian yang berada di daftar kenaikan terbesar pada awalnya memiliki harga bensin yang relatif rendah, sehingga ketika harga minyak mentah naik, perubahan persentasenya terlihat semakin tajam.
Oklahoma menjadi contoh yang sering disebut dalam konteks ini. Negara bagian itu memiliki harga dasar terendah di AS, yakni US$2,29 per galon, sebelum kemudian naik hampir 69%.
Secara nasional, kenaikan rata-rata mencapai sekitar US$1,25 per galon. Jika dihitung dengan asumsi kurs Rp17.685 per US$, angka tersebut setara kira-kira Rp22.106 per galon, atau sekitar 44% dibanding harga pra-perang.
Dengan selisih sekitar US$1,25 untuk setiap galon, tambahan biaya juga dapat terasa langsung saat mengisi tangki. Angka ini berujung pada perkiraan tambahan sekitar US$15 untuk pengisian penuh 12 galon.
Efek lanjutan juga diproyeksikan berdasarkan frekuensi konsumsi. Dengan estimasi konsumsi bahan bakar sekitar 450 galon per kendaraan setiap tahun, dan merujuk data Federal Highway Administration, kenaikan sebesar US$1,25 per galon berpotensi menambah sekitar US$560 untuk biaya bahan bakar tahunan.
Berita Terkait
Kenaikan ini muncul setelah gangguan besar pada pasokan minyak global. Gangguan tersebut terkait dengan Perang Iran yang menutup Selat Hormuz, sehingga memukul pasar minyak hingga sekitar 10 juta barel per hari keluar dari pasokan.
Ketika pasokan berkurang dan distribusi menjadi lebih terhambat, harga minyak mentah terdorong naik dengan cepat. Dampaknya tidak berhenti di titik pengisian bensin saja, karena minyak mentah menjadi bahan dasar bagi beragam produk.
Satu barel minyak mentah dapat memasok ribuan produk dalam satu hari. Mulai dari industri plastik hingga obat-obatan, kenaikan harga minyak mentah berpotensi merembet pada perekonomian secara lebih luas.
Meski demikian, tidak semua negara bagian mengalami lonjakan persentase yang sama. Negara bagian yang mencatat kenaikan terkecil umumnya adalah wilayah yang sejak awal membayar paling mahal untuk bahan bakar.
Faktor pajak turut berperan dalam pembentukan harga dasar yang lebih tinggi. Selain itu, kebijakan bahan bakar terkait iklim juga disebut membantu menjaga harga tetap relatif tinggi, termasuk program penetapan harga karbon di California dan Washington.
Di California, terdapat pula karakteristik tambahan yang memengaruhi komposisi bahan bakar. Negara bagian ini menggunakan campuran bahan bakar yang diwajibkan oleh regulasi setempat, sehingga pasokan bensin dari luar wilayah tidak mudah untuk langsung menggantikan campuran yang dipersyaratkan.
Hawaii menghadapi kendala yang berbeda. Sebagai gugusan pulau tanpa akses jalur pipa, bahan bakar harus didatangkan dari luar, yang pada akhirnya menambah biaya logistik untuk setiap galon.
Akibat kombinasi faktor-faktor tersebut, California mencatat kenaikan terendah sebesar 21,8%. Hawaii berada di angka 23,4%, sedangkan Washington naik 25,7%.
Namun, kendati persentasenya lebih kecil, ketiga negara bagian itu tetap termasuk yang paling mahal. Harga bensin di California tercatat US$5,59 per galon, Hawaii US$5,43 per galon, dan Washington US$5,24 per galon.
Dengan demikian, perbedaan besar antara kenaikan persentase dan harga akhir dapat dipahami melalui posisi awal masing-masing wilayah. Saat harga awal sudah tinggi, lonjakan persentase cenderung terlihat lebih landai, tetapi level harga akhirnya tetap tinggi.
Gejolak di pasar minyak global akhirnya tercermin pada biaya hidup sehari-hari, dari pengisian tangki hingga perencanaan anggaran tahunan. Pola kenaikan yang bervariasi antarnegara bagian memperlihatkan bahwa dampak gangguan pasokan tidak hanya bersifat nasional, melainkan juga dipengaruhi struktur harga dan kebijakan lokal.












