Peristiwa

Langit Pontianak Berubah Menguning Pekat, BMKG Akhirnya Angkat Bicara

×

Langit Pontianak Berubah Menguning Pekat, BMKG Akhirnya Angkat Bicara

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Heboh Langit Pontianak Menguning Pekat, BMKG Akhirnya Buka Suara

jurnalistik.co.id – BMKG akhirnya menanggapi kabar yang sempat viral terkait langit Kota Pontianak, Kalimantan Barat, yang berubah menjadi kuning pekat kecokelatan.

Dalam penjelasannya, BMKG mengaitkan perubahan warna langit tersebut dengan kondisi asap dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang masih berlangsung. Asap yang menyelimuti atmosfer juga turut berdampak pada kualitas pandangan di wilayah setempat.

Kabarnya, dari foto yang beredar, langit Pontianak terlihat berwarna kuning sebagai imbas asap karhutla. Selain warna, kondisi udara yang dipenuhi partikel juga membuat jarak pandang di ruang udara Kalbar berkurang.

Ahli Meteorologi dan Prakirawan Cuaca BMKG, Adinda Dara Vahada, menjelaskan bahwa fenomena itu berkaitan dengan keberadaan asap serta konsentrasi partikulat di atmosfer. Ia menyampaikan, “Berdasarkan pemantauan BMKG Kalimantan Barat, kondisi langit Pontianak yang terlihat kekuningan siang ini berkaitan dengan keberadaan asap dan tingginya konsentrasi partikulat di atmosfer,” kata Adinda.

Adinda menerangkan bahwa pengamatan dilakukan di Stasiun Meteorologi Maritim Dwikora Pontianak pada pukul 10.00 WIB. Dari hasil pantauan pada jam tersebut, kondisi udara tercatat kabur dengan jarak pandang sekitar 1 kilometer.

Temuan lapangan tersebut, lanjutnya, diperkuat oleh informasi dari citra satelit Himawari-9. Pada pukul 13.00 WIB, citra satelit itu mendeteksi adanya sebaran asap di wilayah Kalimantan Barat dengan pergerakan dominan ke arah barat laut hingga utara.

BMKG juga mendeteksi adanya kabut asap lintas wilayah. Adinda menyebut, “BMKG juga mendeteksi adanya kabut asap lintas batas dari Kalimantan Barat menuju Sarawak, Malaysia,” ucap dia.

Menurut Adinda, keberadaan asap di atmosfer memengaruhi proses hamburan cahaya matahari. Karena partikel-partikel tersebut, cahaya yang sampai ke permukaan menjadi lebih redup dan bergeser warna menjadi kekuningan hingga jingga.

Ia menjelaskan dampaknya terhadap suasana pencahayaan siang hari melalui pernyataan berikut, “Akibatnya, cahaya yang sampai ke permukaan dapat tampak lebih redup dan berwarna kekuningan hingga jingga, sehingga suasana pada siang hari dapat terlihat seperti menjelang sore. Kondisi ini juga sejalan dengan pemantauan PM2.5 di sejumlah wilayah Kalimantan Barat yang menunjukkan konsentrasi partikulat cukup tinggi,” jelas Adinda.

Paparan tersebut menegaskan bahwa perubahan visual langit tidak berdiri sendiri. Partikel polusi udara dan asap yang meningkat ikut mengubah cara cahaya menyebar di atmosfer, sehingga tampilan langit terlihat lebih pekat serta warna menjadi lebih dominan kuning.

Data jarak pandang di sejumlah titik Kalbar

Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani membagikan data kondisi jarak pandang di Kalimantan Barat pada Jumat, 28/8 pukul 17.00 WIB. Rinciannya meliputi Stasiun Klimatologi Mempawah sejauh 500 meter.

Untuk wilayah lain, Stasiun Meteorologi Dwikora Pontianak mencatat jarak pandang 1.500 meter. Di Stasiun Meteorologi Nanga Pinoh Melawi tercatat 3.000 meter, sedangkan Pos Meteorologi Paloh 2.000 meter.

Di sisi lain, Stasiun Meteorologi Pangsuma Kapuas Hulu mencatat jarak pandang 3.000 meter. Stasiun Meteorologi Rahadi Oesman Ketapang menunjukkan jarak pandang lebih jauh, yakni 6.000 meter.

Data juga memperlihatkan variasi kondisi antarwilayah. Stasiun Meteorologi Supadio berada pada jarak pandang 1.000 meter, sedangkan Stasiun Meteorologi Tebelian Sintang mencatat 2.500 meter.

Adapun Stasiun Meteorologi Singkawang tercatat memiliki jarak pandang 3.500 meter. Perbedaan angka tersebut menunjukkan bahwa tingkat gangguan asap dan partikulat dapat berbeda-beda di tiap lokasi pengamatan.

Dengan informasi tersebut, BMKG menegaskan bahwa langit kuning pekat di Pontianak merupakan bagian dari kondisi atmosfer yang dipengaruhi asap karhutla, termasuk konsentrasi partikulat yang tinggi. Dampaknya tidak hanya terlihat dari warna langit, tetapi juga terpantau melalui jarak pandang dan sebaran asap pada citra satelit.

BMKG menyampaikan penjelasan ini sebagai respons terhadap perhatian publik yang meningkat setelah fenomena di Pontianak menjadi perbincangan luas. Upaya pemantauan terus dilakukan untuk memetakan pergerakan asap dan perubahan kondisi udara di wilayah Kalbar.