jurnalistik.co.id – Gempa yang mengguncang Nusa Tenggara Timur membuat banyak warga memilih bertahan di posko maupun tempat pengungsian yang dibangun secara mandiri. Dalam laporan dari sejumlah wilayah terdampak, kebutuhan dasar para pengungsi masih belum sepenuhnya terpenuhi.
Kekurangan yang paling sering disebut meliputi bahan pangan, air bersih, obat-obatan, serta kebutuhan penunjang seperti tenda dan fasilitas sanitasi. Hingga Selasa (18/8/2026), sejumlah pengungsi masih menghadapi kendala untuk mengakses bantuan dan layanan dasar.
Magnitudo 7,7 menjadi pemicu munculnya pengungsian di beberapa kabupaten. Meski bantuan mulai berjalan, situasi lapangan menunjukkan kebutuhan setiap daerah tidak selalu sama, bergantung pada kondisi akses dan ketersediaan pasokan.
Sikka: akses terganggu, bantuan pangan dan obat tetap dicari
Di Kabupaten Sikka, salah satu persoalan yang menonjol berasal dari terganggunya akses menuju Desa Egon Gahar, Kecamatan Mapitara. Ruas jalan Waigete–Galit di kawasan Kali Buwer tertutup longsoran tanah dan batu akibat gempa, sehingga pergerakan warga menjadi lebih sulit.
Hilarius Carvalho menjelaskan jalan tersebut merupakan akses vital untuk pelayanan kesehatan, pendidikan, aktivitas ekonomi, hingga jalur evakuasi pada kondisi darurat. “Kami sangat kesulitan kalau mau berobat ke Puskesmas Mapitara. Anak-anak dan bapak ibu guru yang mengajar di SMPN Mapitara dan SDI Galit serta sekolah di sekitarnya juga tidak bisa beraktivitas seperti biasa,” ujar Hilarius, Selasa (18/8/2026), dilansir dari Kompas.com.
Selain mempersulit perjalanan, warga juga membutuhkan pemenuhan kebutuhan dasar setelah gempa, terutama makanan dan obat-obatan. “Kami juga butuh bantuan obat-obatan dan makanan karena semenjak gempa kami belum mendapatkan sentuhan bantuan pemerintah. Padahal kami juga sebagai korban gempa,” tandasnya.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sikka, Margaretha M. Da Maga Bapa, menyebut alat berat sedang dipersiapkan menuju lokasi longsor. Ia juga menambahkan, distribusi bantuan untuk korban gempa di 21 kecamatan sudah dilakukan sejak Senin (17/8/2026) dan akan terus dilanjutkan.
Berita Terkait
Nagekeo dan Danga: sembako belum merata, air bersih jadi prioritas
Di Kabupaten Nagekeo, kebutuhan makanan menjadi persoalan yang dirasakan pengungsi, salah satunya di wilayah Dusun Marilewa, Desa Tendakinde, Kecamatan Wolowae. Sima mengungkapkan hingga Selasa (18/8/2026) pagi, bantuan dari pemerintah daerah berupa kebutuhan pokok belum diterima warga di lokasi pengungsian.
“Sudah datang data, tetapi sampai pagi ini belum ada uluran tangan dalam hal ini sembako,” kata Sima, dilansir dari Kompas.com. Akibatnya, warga terpaksa mengandalkan sisa makanan yang masih tersedia di masing-masing rumah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
“Kami spontanitas makan sisa yang ada di tiap rumah,” ujarnya. Sementara itu, bantuan dari pemerintah desa yang telah diterima warga berupa beras sebanyak 25 kilogram, telur, dan air minum.
Warga berharap pemerintah bersama TNI dan Polri segera menyalurkan bantuan yang lebih lengkap untuk mendukung aktivitas pengungsian. “Kami berharap melalui pemerintah, TNI dan Polri supaya bisa memberikan bantuan kepada kami untuk kebutuhan kami, seperti sembako, obat-obatan, makanan siap saji, air mineral, selimut, dan kelambu,” tutur Sima.
Di lokasi lain, RT 30, Kelurahan Danga, juga masih bertahan di dua tenda darurat yang dibangun secara mandiri. Ketua RT 30, Cindy Mitang, menyebut kebutuhan paling mendesak mencakup air bersih dan makanan, serta perhatian untuk bayi dan balita.
“Yang paling dibutuhkan di sini itu air bersih, makanan dan juga kebutuhan bayi balita,” ujar Ketua RT 30, Cindy Mitang, Selasa (18/8/2026), dilansir dari Tribunnews. RT 30 dihuni 215 jiwa yang terdiri atas 71 kepala keluarga (KK). Sebagian warga mengungsi ke wilayah perbukitan yang dianggap lebih aman, sementara lainnya bertahan di dua tenda darurat tersebut.
Rangkaian kebutuhan yang disampaikan dari berbagai tempat menunjukkan bahwa respons cepat saja belum cukup jika distribusi dan akses masih tersendat. Dalam konteks pengungsian pascagempa, pemenuhan pangan, air bersih, serta obat-obatan dan kebutuhan khusus kelompok rentan menjadi penentu agar keselamatan dan pemeliharaan kesehatan warga bisa dijaga hingga bantuan merata.












