jurnalistik.co.id – Kepolisian Resor Sikka melakukan evakuasi terhadap seorang warga lanjut usia yang mengalami cedera setelah tertimpa reruntuhan bangunan rumah saat gempa mengguncang Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Korban bernama Yohanis Riba (75), warga Pulau Palue, Kabupaten Sikka. Setelah terkena reruntuhan, kaki Yohanis mengalami pembengkakan.
Laporan dan koordinasi evakuasi
Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno mengatakan, pihaknya menerima laporan dari warga mengenai kondisi korban pada Minggu, 23/8/2026, sekitar pukul 13.00 Wita.
Menurut Bambang, begitu laporan diterima, timnya langsung berkoordinasi untuk menyiapkan bantuan evakuasi.
“Begitu mendapat laporan, kami langsung berkoordinasi dengan pilot helikopter BKO Baharkam Mabes Polri untuk melakukan evakuasi,” kata Bambang, Minggu malam.
Evakuasi melalui udara
Bambang menjelaskan, proses evakuasi dilakukan melalui jalur udara karena dibutuhkan penanganan medis yang lebih memadai, terutama untuk korban dengan kondisi tertentu.
Helikopter polisi kemudian diberangkatkan menuju Palue sekitar pukul 16.30 Wita untuk mengevakuasi Yohanis.
Proses evakuasi dipimpin langsung oleh Kapolres Sikka AKBP Bambang Supeno.
Korban tiba di bandara dan dirawat
Setelah penerbangan, helikopter tiba di Bandara Frans Seda, Maumere, sekitar pukul 17.30 Wita.
Berita Terkait
Selanjutnya, Yohanis langsung dibawa ke Rumah Sakit TC Hillers Maumere agar mendapatkan pemeriksaan serta perawatan medis lanjutan.
Langkah cepat tersebut, kata Bambang, merupakan bagian dari upaya kepolisian membantu warga terdampak gempa, khususnya yang membutuhkan pertolongan segera.
“Kami berupaya memberikan pertolongan secepat mungkin kepada warga yang membutuhkan, terutama di wilayah kepulauan yang aksesnya cukup sulit,” ujar Bambang.
Gempa M 7,7 dan tantangan akses di pulau
Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Guncangan tersebut menyebabkan kerusakan di sejumlah wilayah dan membuat ribuan warga mengungsi.
Dalam situasi seperti itu, akses transportasi dan layanan kesehatan menjadi tantangan utama, terlebih di wilayah kepulauan seperti Palue.
Bambang menempatkan evakuasi lewat helikopter sebagai opsi paling cepat agar korban yang mengalami cedera dapat segera ditangani di fasilitas kesehatan.
Peristiwa ini menegaskan pentingnya respons cepat dalam penanganan korban pascagempa, terutama ketika jarak, kondisi geografis, dan keterbatasan akses memperlambat upaya pertolongan.
Kepolisian Resor Sikka bersama dukungan penerbangan helikopter berupaya memastikan korban yang membutuhkan penanganan medis segera tidak tertunda.
Sejak laporan masuk, Kapolres menilai penanganan harus segera dilakukan karena korban merupakan warga lanjut usia dan mengalami cedera yang membutuhkan perhatian medis. Kondisi pembengkakan pada kaki Yohanis menjadi pertimbangan agar bantuan tidak hanya bersifat pertolongan awal, tetapi juga berlanjut ke pemeriksaan lanjutan di fasilitas kesehatan.
Koordinasi evakuasi itu dilakukan dengan cepat, termasuk pengaturan penerbangan dari helikopter polisi yang mendapat arahan untuk menuju lokasi di Palue. Langkah tersebut ditempuh agar proses pemindahan berjalan lebih efisien dibanding menunggu jalur darat yang berpotensi memakan waktu, terutama ketika situasi pascagempa masih berdampak pada aktivitas warga.
Dalam pelaksanaan di lapangan, evakuasi melalui udara dipilih untuk memperpendek jarak tempuh dan mempercepat penanganan medis. Setelah helikopter diberangkatkan pada sore hari, korban kemudian dibawa menuju Bandara Frans Seda, Maumere, sebelum akhirnya mendapatkan perawatan di Rumah Sakit TC Hillers Maumere, sesuai kebutuhan medis yang lebih memadai.
Peristiwa ini juga menunjukkan bahwa respons kepolisian tidak berhenti pada pendataan, melainkan bergerak pada upaya pertolongan nyata bagi warga terdampak gempa. Dengan memanfaatkan dukungan transportasi helikopter, pihak kepolisian berupaya memastikan korban yang membutuhkan pertolongan segera tidak mengalami keterlambatan, terutama mengingat wilayah kepulauan kerap memiliki akses yang sulit dan butuh penanganan terkoordinasi.












