Peristiwa

Sahabat Kenang Ahmad Zaki, Relawan Gempa Flores yang Meninggal Saat Bertugas

×

Sahabat Kenang Ahmad Zaki, Relawan Gempa Flores yang Meninggal Saat Bertugas

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Cerita Sahabat Tentang Ahmad Zaki, Relawan Gempa yang Meninggal di Flores

jurnalistik.co.id – Ahmad Zaki meninggalkan kesan yang dalam di hati sahabat-sahabatnya setelah meninggal dunia saat menjalankan misi kemanusiaan untuk membantu korban gempa di Flores pada 15 Agustus 2026.

Kepulangan jenazahnya dari Labuan Bajo menuju Jakarta menjadi momen pertemuan sekaligus perpisahan yang tak mudah dilupakan bagi Andri Kurniawan (45), yang mendampingi proses tersebut pada Sabtu, 22 Agustus 2026.

Andri menuturkan, ia sudah mengenal Ahmad Zaki sejak 2018. Menurutnya, kedekatan itu tumbuh bukan hanya karena intensitas pertemanan, melainkan juga karena cara Ahmad membangun keberpihakan pada kemanusiaan.

“Memang orangnya punya jiwa kemanusiaan yang kuat sekali. Saya salah satu orang terdekat di dunia kemanusiaan dengan beliau. Bisa dikatakan beliau adalah guru kami,” kata Andri kepada Kompas.com, Sabtu (22/8/2026).

Dalam pandangan Andri, sejak awal hubungan mereka, Ahmad Zaki sudah tampil sebagai sosok yang penuh semangat ketika menjalankan misi kemanusiaan. Ia juga kerap mengajak teman-temannya untuk terlibat, sehingga kegiatan bantuan tidak berhenti pada niat, melainkan bergerak menjadi tindakan bersama.

Andri menambahkan, sifat dasar Ahmad Zaki memang suka membantu. Ia menyebut almarhum sering hadir bagi sahabat-sahabatnya, kerabat, maupun orang-orang yang membutuhkan.

Dedikasi dalam organisasi dan kegiatan kemanusiaan

Ahmad Zaki, yang disebut sebagai founder Yayasan Gerak Bareng, dikenal aktif membangun gerakan agar berdampak. Andri menyampaikan bahwa Ahmad telah mulai membentuk organisasi yang “bagus” dan memberi ruang bagi kontribusi yang lebih terarah kepada masyarakat.

“Dia sudah mulai membangun organisasi yang bagus, yang keren, yang memberikan dampak besar kepada masyarakat. Kemudian, secara koordinasi dan segala macam konsolidasi memang dia ahli komunikasi lah,” terang Andri.

Menurut Andri, selain terlibat dalam aktivitas organisasi, Ahmad juga dikenal berperan dalam koordinasi dan konsolidasi. Keahlian komunikasi itu, menurutnya, membantu tim berjalan rapi dari sisi pengaturan dan penyelarasan kebutuhan di lapangan.

Andri juga menyebut Ahmad Zaki membuka usaha warung makan dengan nama Dapur Bang Jeck yang berlokasi di Bogor. Dengan begitu, ia tidak hanya dikenal lewat kegiatan kemanusiaan, tetapi juga lewat usaha yang dijalankan di luar kegiatan lapangan.

Pendiri Yayasan Gerak Bareng itu disebut sebagai relawan asal Jakarta. Ia disebut punya perjalanan kemanusiaan yang membuat orang-orang di sekitarnya merasa terdorong untuk ikut bergerak.

Dalam beberapa tahun pergaulan, Andri melihat Ahmad bukan sekadar tokoh yang “hadir”, melainkan sosok yang mendorong keberlanjutan. Ia menganggap Ahmad Zaki sebagai figur yang menularkan semangat, sekaligus memberi teladan bahwa keterlibatan pada kemanusiaan harus dibangun dengan konsistensi.

Kronologi saat bertugas di Manggarai

Menurut informasi yang diberitakan sebelumnya, Ahmad Zaki bersama rekan-rekan relawan telah berada di Kabupaten Manggarai sejak Sabtu, 15 Agustus 2026. Mereka menggunakan Masjid Nurul Huda di Kampung Reo sebagai posko Relawan Gerak Bareng.

Pada Jumat siang, Ahmad Zaki dan rekan-rekannya meninggalkan posko untuk menuju tempat pengungsian korban gempa. Tim membawa sejumlah bantuan yang hendak disalurkan kepada para korban.

Ahmad Zaki saat itu bertugas sebagai pengemudi kendaraan. Kapolres Manggarai AKBP Levi Defriansyah menyebutkan, “Korban yang mengendarai kendaraan.”

Dalam perjalanan, Ahmad Zaki menghentikan laju kendaraan. Ia kemudian meminta bantuan rekannya untuk melepaskan jaket dan helm yang dikenakannya.

Tidak lama setelah permintaan itu, Ahmad Zaki kehilangan kesadaran. Rekan-rekannya kemudian membawa Ahmad ke posko media terdekat untuk menjalani pemeriksaan dokter.

Namun, dokter menyatakan Ahmad Zaki telah meninggal dunia. Informasi tersebut menjadi kabar yang mengguncang banyak pihak, terutama karena ia sedang menjalankan tugas bantuan bagi korban.

Kematian Ahmad Zaki terjadi saat upaya penyaluran bantuan masih berlangsung dan tim relawan berada di tengah rutinitas lapangan. Di mata sahabat-sahabatnya, hal itu justru mempertegas bahwa ia menempatkan kemanusiaan sebagai prioritas, bahkan di situasi yang menuntut ketahanan fisik.

Bagi Andri, sosok yang selama ini ia sebut sebagai “guru” bukan hanya meninggalkan kenangan, tetapi juga meninggalkan jejak kebiasaan untuk membantu. Cerita Andri menunjukkan bahwa perhatian pada sesama yang ditularkan Ahmad tidak berhenti pada satu kegiatan, melainkan menjadi cara pandang yang ikut hidup pada orang-orang di sekitarnya.

Kini, saat jenazahnya telah tiba dari Labuan Bajo ke Jakarta, Andri dan rekan-rekannya tetap menyimpan pengingat tentang sosok yang aktif menggerakkan organisasi, piawai dalam koordinasi, dan memiliki komitmen kuat pada misi kemanusiaan.