jurnalistik.co.id – Setelah delapan hari bertugas menangani korban gempa di Posko Damer, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, dr Melinda Bella melaporkan kondisinya mulai menurun.
Pada Minggu pagi, 23 Agustus 2026, suara dokter Nusantara Sehat Kementerian Kesehatan itu terdengar serak ketika dihubungi. Ia menyampaikan bahwa keadaannya memburuk dari hari ke hari.
Melinda mengatakan ia mulai merasa tak enak badan sejak sekitar tiga hari sebelumnya. Keluhan itu berlanjut hingga suaranya makin hilang dan tubuhnya meriang.
“Sudah drop saya, hari ini paling parah,” ujarnya dengan nada lemah. Ia menggambarkan bahwa penurunan yang dirasakannya menjadi semakin terasa pada hari tersebut.
Meski sempat merasakan gejala yang sama pada hari-hari sebelumnya, Melinda tetap menjalankan pelayanan medis di posko. Ia berusaha terus memberikan penanganan meski tubuhnya tidak benar-benar pulih.
Dalam fase awal penanganan, sebelum bantuan medis datang, ia mengaku harus menangani pasien sendirian. Pada hari pertama bertugas, lebih dari 200 pasien sudah datang untuk mendapatkan pemeriksaan dan perawatan, sementara peralatan medis yang tersedia masih terbatas.
Seiring berjalannya waktu, jumlah korban yang membutuhkan layanan bertambah. Memasuki hari ke-8, ratusan pasien korban gempa telah dibawa ke Posko Medis Damer dan kemudian ditangani di posko darurat.
Menurut informasi yang disampaikan Melinda, posko darurat tersebut berada di Damer, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Di sana, pelayanan medis dilakukan oleh tim medis yang menangani pasien-pasien yang datang dengan kebutuhan berbeda-beda.
Dalam kondisi kesehatannya yang terus menurun, Melinda menyatakan kemungkinan besar ia akan menyerahkan penanganan kepada dokter lain pada hari itu. Rencananya, tugas di posko tidak lagi dikerjakan sendirian seperti pada hari-hari awal.
Berita Terkait
- Kebakaran Menghanguskan 120 Rumah di Desa Adat Sade, KDMP Disiapkan sebagai Penampungan Warga Suku Sasak
- Balita 2 Tahun di Nagekeo Meninggal Setelah Sakit Saat Mengungsi Pascagempa M 7,7 Flores, Pernah Ditangani di 2 RS
- Mohammad Jumhur: Kabut Asap Karhutla Riau Berasal dari Jambi, Opsi Libur Sekolah Disiapkan
Ia mengaitkan beban kerja selama delapan hari itu dengan situasi bencana yang melanda NTT. Gempa dengan magnitudo 7,7 turut menambah kepadatan situasi darurat di wilayah terdampak, termasuk di Manggarai Timur.
Di tengah meningkatnya kebutuhan layanan medis, pernyataan Melinda menunjukkan bagaimana ritme penanganan di lapangan bisa berpengaruh langsung pada kondisi tenaga kesehatan. Meski begitu, ia tetap berupaya menjaga kelangsungan pelayanan hingga memasuki hari ke-8 dan saat penanganan mulai dialihkan kepada dokter lain.
Melinda juga menceritakan bahwa penurunannya tidak muncul secara tiba-tiba, melainkan berkembang setelah ia beberapa hari berada di tengah aktivitas posko. Ketika pekerjaan semakin padat, ia merasakan tubuhnya makin tidak mampu mengikuti ritme layanan, mulai dari kondisi umum hingga kemampuan berbicara.
Dalam beberapa hari pertama, ia menuturkan tantangan terbesar datang dari keterbatasan sarana yang masih tersedia. Ia harus menyesuaikan diri dengan kondisi tersebut sembari tetap melayani kebutuhan pemeriksaan dan perawatan. Ia menyebut pada awal penugasan, pasien yang datang telah mencapai jumlah yang sangat ramai.
Ketika bantuan medis dan alur penanganan mulai berputar di posko, beban yang ia tanggung pun ikut berubah. Seiring hari bergulir, korban yang membutuhkan layanan bertambah dan penanganan di posko darurat dilakukan untuk pasien-pasien dengan kondisi yang berbeda-beda. Situasi itu membuat koordinasi di lapangan ikut memengaruhi tenaga yang bertugas.
Menjelang hari kedelapan, Melinda menegaskan bahwa pengalihan penanganan menjadi langkah yang perlu dilakukan agar pelayanan tetap berjalan. Ia menilai, dengan kondisi yang terus memburuk—termasuk suara yang semakin hilang dan tubuh yang meriang—hari tersebut menjadi waktu yang tepat untuk menyerahkan pemeriksaan kepada dokter lain.
Melinda menggambarkan bahwa perubahan yang ia rasakan turut memengaruhi cara ia bekerja di posko. Ketika suaranya mulai serak dan kemudian makin hilang, ia tetap berupaya mengikuti kebutuhan pemeriksaan, sambil merasakan bahwa tubuhnya tidak lagi dapat berfungsi dengan ritme yang sama seperti pada hari-hari awal penugasan.
Ia menuturkan bahwa pada awal keterlibatannya, beban pelayanan terasa menumpuk karena ia harus menangani pasien yang datang dalam jumlah besar, sementara dukungan sarana yang tersedia belum sepenuhnya memadai. Saat alur penanganan mulai bergeser setelah bantuan medis dan pengaturan layanan terbentuk, pekerjaan menjadi lebih kompleks seiring bertambahnya korban dan beragamnya kebutuhan medis yang ditangani di posko darurat.
Menjelang hari ke-8, Melinda menilai penurunan kondisi kesehatannya sudah tidak dapat ditunda. Ia memutuskan untuk mengalihkan penanganan kepada dokter lain agar pelayanan tetap berjalan, dengan pertimbangan bahwa hari tersebut memperlihatkan titik terberat dari rangkaian gejala yang berkembang bertahap selama beberapa hari di tengah aktivitas posko.












