Peristiwa

Sinkhole di California Makin Dekat ke Hunian, Erosi Pantai Dipicu Gelombang Tinggi

×

Sinkhole di California Makin Dekat ke Hunian, Erosi Pantai Dipicu Gelombang Tinggi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Sinkhole Pelan-Pelan Lahap Rumah Warga, Kondisinya Sudah Parah

jurnalistik.co.id – Garis pantai California sedang menunjukkan tanda-tanda makin dekatnya bencana pesisir yang mengancam hunian. Gelombang tinggi memicu erosi yang bukan hanya menggerus pasir, tetapi juga membuat lubang amblesan (sinkhole) semakin merapat ke area tempat orang tinggal.

Di wilayah Malibu, Samudra Pasifik disebut ikut mendorong terbentuknya sinkhole di dekat kediaman aktor Nicolas Cage. Selain mengancam keamanan di sekitar lokasi, dampak di pesisir juga dilaporkan merusak sejumlah properti mewah yang berada di tepi pantai.

Peristiwa serupa turut mencuat di Dana Point. Di Beach Road, terjangan gelombang laut dilaporkan telah menghancurkan satu unit rumah warga.

Otoritas kota setempat kemudian mengambil langkah darurat dengan mengosongkan atau membatasi hunian di 16 rumah lainnya demi keselamatan. Kondisi ini menggambarkan seberapa cepat ancaman berubah menjadi masalah hunian nyata.

Kerusakan besar di California Selatan selama musim panas kali ini dipicu oleh serangkaian siklon dan badai di Samudra Pasifik Timur. Situasi tersebut makin diperparah oleh kemunculan fenomena cuaca El Niño.

Meskipun badai-badai tersebut tidak menghantam daratan California secara langsung, gelombang besar yang dihasilkan terus menerjang pesisir. Gelombang itu mengikis jutaan ton pasir pantai dan turut mengubah bentang garis pantai yang selama ini menjadi ikon kawasan.

Para ahli kemudian mengaitkan kondisi ini dengan potensi musim dingin yang lebih berbahaya. Mereka menilai gelombang yang jauh lebih dahsyat masih mungkin muncul dalam beberapa bulan mendatang.

Patrick Barnard, Direktur Penelitian di Center for Coastal Climate Resilience, University of California, Santa Cruz, mengatakan, “Segala kondisinya mengarah pada musim dingin yang sangat ekstrem dalam hal potensi bahaya,” sebagaimana dikutip dari Reuters.

Pemerintah California juga telah menetapkan status darurat lebih awal. Tujuannya untuk memobilisasi bantuan bencana serta menerjunkan tim tanggap darurat sebagai langkah antisipasi terhadap dampak lanjutan El Niño.

Fenomena yang mulai terdeteksi sejak Juni ini diperkirakan mencapai kekuatan puncak hingga akhir 2026, lalu berlanjut sampai awal 2027. Sementara itu, perubahan tinggi muka laut menjadi salah satu latar yang memperparah kerentanan pesisir.

Dalam satu abad terakhir, permukaan air laut di California Selatan mengalami kenaikan antara 8 hingga 12 inci, atau sekitar 20 cm hingga 30 cm. Ketika El Niño yang kuat berlangsung, muka laut diprakirakan dapat naik sementara lagi sebesar 6 hingga 12 inci.

Selain faktor kenaikan permukaan air laut, kondisi juga disebut diperburuk oleh gelombang Kelvin bawah laut. Michael Jacox, ahli oseanografi di National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA), menyebut gelombang Kelvin besar pertama dari siklus El Niño diperkirakan akan mencapai pesisir California pada awal Oktober.

Jacox juga menekankan bahwa dampaknya berisiko bertemu dengan sejumlah kejadian cuaca ekstrem musiman. Di antaranya, pasang laut ekstrem tahunan (king tides) serta badai hujan dahsyat atau “sungai atmosfer” (atmospheric rivers) yang kerap memicu banjir pesisir dan abrasi tebing.

Di lapangan, gambaran erosi itu terlihat pada Carlsbad, sebuah kota berpenduduk 112.000 jiwa sekitar 35 mil (56 km) di utara San Diego. Di sana, Pasir di Pantai Tamarack dilaporkan lenyap hampir dalam semalam.

Tamarack bukan sekadar bentang alam. Pantai ini disebut menjadi aset vital bagi perekonomian kota karena 14% anggaran operasionalnya berasal dari pajak sektor pariwisata dan perhotelan.

Adam Young, ahli geomorfologi pesisir dari Scripps Institution of Oceanography di UC San Diego, mengungkapkan bahwa saat berkunjung ia harus memanjat tumpukan batu bulat besar (cobblestones). Lokasinya sebelumnya merupakan hamparan pasir pantai yang luas.

Di bagian selatan lokasi yang sama, air laut bahkan dilaporkan telah menelan seluruh area pantai. Gelombang juga meluap sampai merendam area parkir kendaraan.

Young menilai upaya penguatan properti, penyuplai pasir buatan, atau pembentukan gundukan pelindung memang bisa dilakukan. Namun, akar persoalannya tidak berhenti pada faktor alam semata.

“Penting untuk diingat bahwa erosi di garis pantai sudah berlangsung selama ribuan tahun. Ini adalah proses alami. Masalah sebenarnya adalah kita membangun berbagai hal yang menghalangi proses tersebut, serta mendirikan bangunan di pantai dan kawasan rawan bencana, dan itulah yang memicu masalah ini,” pungkasnya.

Dengan pola gelombang yang makin agresif serta proyeksi ancaman musim dingin yang ekstrem, persoalan sinkhole dan erosi diperkirakan akan terus menjadi perhatian keselamatan. Bagi warga di dekat pesisir, perubahan lanskap yang terjadi secara cepat menuntut kewaspadaan agar dampak tidak meluas ke lebih banyak rumah.

Di tengah jadwal puncak El Niño yang berpotensi berlanjut hingga awal 2027, langkah antisipasi menjadi kunci. Bencana pesisir yang dipicu gelombang tinggi kini tidak lagi sekadar isu lingkungan, melainkan risiko langsung bagi hunian di garis terdepan pantai California.