jurnalistik.co.id – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mendorong diseminasi hasil riset kebumian yang berfokus pada mitigasi bencana gempa bumi dengan cara yang lebih dekat dengan keseharian masyarakat. Pendekatan yang dipilih memadukan riset dengan seni agar informasi tidak berhenti sebagai laporan ilmiah, tetapi benar-benar dipahami dan diingat sebagai pengetahuan kesiapsiagaan.
Langkah ini disampaikan Kepala Organisasi Riset Kebumian dan Maritim (ORKM) BRIN, Luki Subehi, dalam pembukaan pameran kolaborasi riset antara Institut Teknologi Bandung (ITB), BRIN, dan British Geological Survey (BGS). Pameran tersebut bertajuk “Setanah, Tak Diam” yang digelar di Selasar Sunaryo, Bandung beberapa waktu lalu.
Menurut Subehi, hasil riset perlu dijangkau tidak hanya oleh komunitas akademik, melainkan juga oleh pemangku kepentingan yang berperan dalam perencanaan kebijakan daerah. Upaya itu diharapkan mempertemukan dan menyatukan visi mitigasi kebencanaan agar arah penanganan risiko bisa berjalan lebih selaras.
Ia menyebut, “Ini merupakan salah satu bentuk diseminasi atau penyebaran informasi serta edukasi kepada masyarakat secara langsung, interaktif, dan terasa sangat dekat,” ungkapnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa edukasi kebencanaan tidak cukup dilakukan sekali, tetapi harus dibuat interaktif dan mudah diikuti oleh beragam kalangan.
Dalam penjelasannya, Luki Subehi juga menyoroti pentingnya menggali kearifan lokal yang telah tumbuh di masyarakat. Salah satu pintu masuk yang dianggap relevan adalah toponimi atau penamaan wilayah di Bandung, karena cara masyarakat menamai ruang sering kali menyimpan informasi tentang kondisi lingkungan di masa lalu.
Ia memberikan contoh daerah dengan awalan kata “ranca”, seperti Rancaekek. Kata tersebut, menurut penjelasan riset, bermakna rawa yang merujuk pada fakta bahwa kawasan itu dahulu merupakan bagian dari danau purba. Kondisi tanah yang dahulu terbentuk juga dikaitkan dengan karakter tanah lunak, menyerupai bubur, sehingga memberi gambaran tentang sifat material permukaan pada periode tertentu.
Berita Terkait
“Kondisi tersebut membuat kawasan tersebut berisiko mengalami pergerakan saat terjadi guncangan. Penamaan wilayah pada masa lalu dapat menjadi pengingat bagi masyarakat mengenai karakteristik lingkungan yang perlu diperhatikan,” papar Subehi. Dengan kata lain, penamaan lokasi diperlakukan sebagai jejak informasi yang dapat membantu masyarakat memahami mengapa suatu wilayah layak diperhatikan dalam konteks mitigasi.
BRIN memandang kearifan lokal seperti ini sebagai pengingat yang krusial, terutama karena jeda kejadian gempa bumi besar bisa sangat panjang. Kondisi tersebut berpotensi membuat peristiwa besar tidak lagi hadir dalam ingatan generasi yang sama, bahkan melampaui dua hingga tiga generasi. Ketika edukasi tidak dikelola secara berkelanjutan, pengetahuan dan memori kolektif mengenai kesiapsiagaan bencana dikhawatirkan memudar dan pada akhirnya hilang.
Di saat yang sama, karakter geografis Indonesia menjadi alasan lain agar edukasi kebencanaan terus diperkuat hingga tingkat tapak terbawah. Indonesia berada di kawasan sabuk vulkanik dan dikepung oleh jalur sesar aktif, sehingga risiko tidak bersifat abstrak, melainkan nyata dan dapat memengaruhi cara masyarakat menata ruang serta bersiap menghadapi guncangan.
Dengan dasar tersebut, Subehi mendorong agar masyarakat memahami tinggal di wilayah rawan bencana bukan berarti harus menyerah pada rasa takut. Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan justru perlu dijadikan landasan untuk menumbuhkan sikap yang lebih tenang dan terarah dalam menghadapi potensi bencana.
BRIN juga mengingatkan perlunya menurunkan pemahaman risiko ke masyarakat secara berkesinambungan. Pernyataan itu disampaikan melalui kalimat, “Kita harus menurunkannya ke masyarakat bahwa kita tinggal di kawasan yang memang rawan bencana. Namun, bukan berarti kita harus menjadi pesimis atau takut, melainkan kita harus hidup berdampingan dengan bencana,” bebernya.
Lebih jauh, BRIN menegaskan diseminasi hasil riset perlu dan wajib dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat dapat terus mengikuti perkembangan pengetahuan terkini. Edukasi yang dibawa diharapkan mampu menyentuh seluruh lapisan masyarakat tanpa terkecuali, mulai dari generasi muda hingga kalangan lanjut usia.
Tujuannya bukan semata-mata menambah pengetahuan, tetapi membantu masyarakat memahami bentuk-bentuk bencana beserta langkah-langkah persiapan yang dapat dilakukan. Dengan cara pandang tersebut, informasi mitigasi diharapkan berubah menjadi kebiasaan, sehingga ketika bencana terjadi, kesiapsiagaan tidak datang mendadak melainkan sudah menjadi bagian dari pemahaman warga.












