jurnalistik.co.id – Harapan terakhir Asia untuk menembus babak 16 besar Piala Dunia 2026 pupus setelah Australia disingkirkan Mesir. Laga Australia vs Mesir di Stadion Dallas pada Sabtu (4/7/2026) dini hari WIB berakhir 1-1, lalu Australia kalah 2-4 lewat adu penalti.
Kemenangan Mesir sekaligus membuat Jepang menyusul langkah yang sama: dua wakil Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) pulang kampung lebih cepat, yakni di babak 32 besar. Hasil ini memastikan para wakil AFC hanya meraih tiga kemenangan dari 29 pertandingan yang dimainkan selama Piala Dunia 2026.
Angka tersebut dinilai memalukan bagi sembilan negara yang mewakili wilayah dengan lebih dari setengah populasi dunia. Dari turnamen ini, pencapaian terbaik yang mampu ditorehkan hanya sampai babak 32 besar melalui Jepang dan Australia.
Sementara itu, tujuh tim lainnya berakhir lebih getir. Mereka tersingkir dari babak ketiga terbaik dan finis sebagai juru kunci pada klasemen fase yang menentukan.
Kegagalan para wakil Asia kemudian disorot oleh mantan pelatih Timnas Vietnam, Philippe Troussier. Ia pernah menghadapi Indonesia saat masih menangani Vietnam, dan pada kesempatan tersebut gagal meraih kemenangan.
Dalam pandangannya, akar masalah utama justru tidak terletak pada organisasi permainan semata. Troussier menilai tim-tim Asia sebenarnya tampil rapih dan terstruktur sepanjang turnamen.
“Sepanjang turnamen ini, tim-tim Asia terorganisir dengan baik, disiplin, dan solid secara taktik,” kata Philippe Troussier, kepada Reuters.
Namun, Troussier melihat ada celah yang berulang ketika pertandingan memasuki fase penentuan. Menurutnya, perbedaan biasanya muncul karena kualitas individu yang belum cukup untuk membalikkan keadaan.
“Namun, mereka sering kali kurang memiliki kualitas individu yang dibutuhkan untuk mengubah jalannya pertandingan.”
Berita Terkait
Bagi pelatih asal Perancis tersebut, perhelatan Piala Dunia menuntut lebih dari sekadar kepatuhan taktis. Ia menekankan bahwa di level paling tinggi, kehadiran pemain dengan kemampuan spesifik menjadi pembeda dalam momen krusial.
“Di Piala Dunia, organisasi yang baik sangat penting, tetapi di level tertinggi Anda juga membutuhkan pemain yang dapat menciptakan sesuatu yang istimewa dalam satu momen,” jelasnya.
Dengan kata lain, evaluasi Troussier mengarah pada kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang tidak bisa diproduksi hanya lewat pola. Ketika situasi tidak berjalan sesuai rencana, tim yang punya “pemain pembeda” cenderung mampu menemukan jalan keluar.
Pandangan tersebut juga disandingkan dengan perbandingan terhadap benua lain, khususnya Afrika. Dalam artikel ini, wakil dari Asia disebut belum mampu menandingi tim-tim dari benua lain seperti Afrika.
Perbandingan itu tidak hanya dibaca dari performa pertandingan, tetapi juga dari faktor pendukung yang dimiliki sebagian tim Afrika. Disebutkan bahwa tim dari Afrika mendapatkan keuntungan dengan memanfaatkan diaspora Eropa.
Faktor tersebut dianggap tidak dimiliki oleh banyak negara Asia. Akibatnya, ketika menghadapi lawan yang memiliki variasi kualitas dan kedalaman pemain, wakil Asia dinilai kesulitan memberi perlawanan pada momen-momen penentu.
Rangkaian hasil di Piala Dunia 2026 pun kemudian membentuk gambaran menyeluruh tentang arah turnamen bagi AFC. Ketika dua wakil utama seperti Jepang dan Australia gugur di babak 32 besar, ruang untuk memperbaiki posisi di fase selanjutnya otomatis mengecil.
Dengan hanya tiga kemenangan dari 29 laga, capaian itu menggambarkan kesenjangan yang tampak konsisten, baik dari awal sampai proses eliminasi. Pada saat yang sama, dominasi Eropa dalam daftar besar partisipan 16 besar menjadi latar yang mempertegas kontras capaian antar-konfederasi.
Ujungnya, Piala Dunia 2026 meninggalkan pelajaran yang terasa pahit bagi sepak bola Asia. Evaluasi yang disampaikan Philippe Troussier menegaskan bahwa disiplin dan soliditas taktik saja tidak cukup tanpa kualitas individu yang mampu “mengubah jalannya pertandingan”.
Ketika turnamen sudah memasuki level tertinggi, detail kecil dan momen yang “istimewa” menjadi penentu. Dan justru pada aspek itulah, menurut Troussier, tim-tim Asia masih belum menemukan formula yang cukup efektif untuk bersaing dengan standar global.












