jurnalistik.co.id – CEO Nvidia, Jensen Huang, menerima panggilan telepon langsung dari Donald Trump saat berada di panggung dalam sebuah diskusi panel di All-In Summit, Los Angeles.
Konteks pembicaraan itu menjadi sorotan karena Trump disebut memungkinkan dirinya untuk mengabaikan bahaya kecerdasan buatan (AI) sebagai “hoaks”.
Di sela sesi yang berlangsung pada hari Senin, Trump menyampaikan keberatan terhadap upaya yang diklaim bertujuan memperlambat laju pengembangan AI.
Ia menilai narasi tersebut memiliki muatan kepentingan politik, atau merupakan skema dari China.
Dalam kesempatan tersebut, Jensen Huang menyatakan kesepahamannya terhadap pandangan Trump.
Huang juga menyampaikan bahwa presiden AS itu telah memahami kompleksitas persoalan yang sedang diperdebatkan.
Pernyataan Trump muncul sebagai bagian dari kritiknya terhadap gagasan “perlambat” yang mengemuka dalam wacana seputar pengembangan AI.
Ia menggambarkan bahwa penolakan atau sikap meragukan AI tidak terjadi dalam ruang hampa, melainkan berkaitan dengan kepentingan pihak-pihak tertentu.
Trump menegaskan bahwa penolakannya terhadap AI “hanya menguntungkan banyak pihak yang tidak ingin hal itu terjadi,” kata Trump.
Ia menambahkan, “Dan itu bisa saja orang-orang politik. Bisa juga China.”
Respon Huang, pada gilirannya, menempatkan pembicaraan tersebut pada penilaian bahwa isu AI bukan sesuatu yang bisa disederhanakan menjadi satu narasi tunggal.
Menurut Huang, Trump memahami kompleksitas yang menyertai perdebatan tersebut, sehingga keduanya dapat menyelaraskan sudut pandang dalam percakapan di panggung.
Dalam laporan yang sama, percakapan itu digambarkan terjadi ketika Huang hadir sebagai pembicara utama dan melakukan diskusi terbuka di forum All-In Summit.
Berita Terkait
Telepon langsung dari Trump membuat momen itu berlangsung secara langsung di hadapan audiens, bukan melalui pernyataan terpisah atau rilis yang menunggu waktu rilis.
Selain menyentuh gagasan “perlambat”, Trump juga menyoroti bagaimana isu AI dapat dibingkai dalam kepentingan domestik dan dinamika geopolitik.
Ia menyebut upaya memperlambat pengembangan AI bisa bermotif politik, atau terkait skema yang dikaitkan dengan China.
Huang kemudian memilih untuk berangkat dari kesesuaian pandangan itu.
Ia tidak hanya menyatakan persetujuan, tetapi juga menggarisbawahi bahwa pemahaman Trump terhadap kompleksitas masalah menjadi landasan penyelarasan pandangan dalam obrolan yang berlangsung di forum tersebut.
Secara keseluruhan, pembicaraan di All-In Summit menampilkan dua hal yang saling berkelindan: kritik Trump terhadap narasi memperlambat pengembangan AI, serta respons Huang yang menerima sudut pandang tersebut.
Dengan menyebut bahaya AI sebagai “hoaks,” Trump mendorong audiens untuk memandang perdebatan itu melalui kacamata kepentingan pihak-pihak yang diuntungkan.
Di saat yang sama, penjelasan Huang menegaskan bahwa persoalan AI tidak sekadar soal slogan atau pernyataan normatif, melainkan isu yang menurutnya memiliki kompleksitas yang harus dipahami.
Langkah ini membuat percakapan telepon yang muncul di panggung diskusi panel itu terasa menjadi bagian dari debat yang lebih luas tentang bagaimana AI seharusnya diperlakukan, baik dalam kerangka kebijakan maupun penilaian atas risikonya.
Huang dan Trump, melalui percakapan tersebut, akhirnya menyepakati adanya cara pandang yang berbeda terhadap narasi mengenai AI.
Bagi Trump, penolakan dan narasi “perlambat” terkait kepentingan yang tidak ingin AI berkembang, sedangkan bagi Huang, presiden AS itu memahami kompleksitas masalah yang sedang dipersoalkan.
Dalam alur percakapan itu, momen telepon juga berfungsi sebagai penanda bahwa silang pendapat mengenai AI berlangsung cepat dan terlihat langsung oleh hadirin, sehingga reaksi kedua figur tidak berhenti pada level pernyataan tertulis.
Trump menempatkan gagasan “perlambat” sebagai sesuatu yang perlu dibaca secara lebih kritis: apakah ia lahir dari kepedulian terhadap risiko, atau justru diarahkan untuk kepentingan tertentu yang ingin perkembangan berjalan tidak pada kecepatan yang mereka inginkan.
Sementara itu, Huang menegaskan perlunya melihat isu AI sebagai rangkaian persoalan yang saling terkait, bukan sebagai narasi tunggal. Dengan kerangka seperti itu, keduanya dapat berbincang tanpa mengunci debat pada satu kubu pandang saja.












