jurnalistik.co.id – Leeds tampil meyakinkan saat menjamu Newcastle dengan skor 4-1 di Elland Road, dan Dominic Calvert-Lewin menjadi nama yang paling sulit diabaikan. Ia terlibat langsung dalam dua gol Leeds, lalu ditarik keluar pada akhir laga sebelum tuan rumah memberi penghormatan berdiri.
Catatan itu menambah panjang ārekam jejakā striker berusia 29 tahun tersebut melawan Newcastle. Dalam pertemuan dengan tim yang sebelumnya sempat terkait dalam beberapa tahun terakhir, Calvert-Lewin kini sudah mencetak delapan gol menghadapi klub itu.
Farke menegaskan kualitas Calvert-Lewin
Setelah pertandingan, manajer Leeds Daniel Farke terang-terangan mendukung penampilan Calvert-Lewin sebagai alasan kuat untuk kembali dilirik oleh tim nasional Inggris. Ia menilai sang pemain bukan sekadar berbahaya, tetapi juga menyulitkan setiap bek yang menghadapinya.
Farke mengungkapkan, āHe’s a handful and tough for each and every defender,ā lalu menambahkan bahwa Calvert-Lewin berada pada level kebugaran yang tinggi. Menurut Farke, pemain itu bermain dengan kepercayaan diri serta ritme yang bagus, dan tetap mendapat keuntungan dari kekuatan tim yang bekerja untuknya. Ia juga menyebut, āDominic is a crucial player and if he shows this type of form, he’s definitely one of the best strikers in this league. It’s the best league in the world and that more or less sums up what I think about him as a player.ā
Di laga tersebut, Leeds dan Calvert-Lewin menghadirkan masalah nyata bagi Newcastle: satu gol dan satu assist menjadi kontribusi yang membuat malam di Elland Road terasa āpastiā bagi tuan rumah. Bagi pendukung Leeds, momen ketika Calvert-Lewin diganti menjadi bagian dari rangkaian tepuk tangan panjang yang pantas ia dapatkan.
Calvert-Lewin memang sedang menunjukkan tren tajam. Ia mencetak tiga gol dalam empat pertandingan terakhir, sekaligus menegaskan posisinya sebagai striker Inggris teratas di Premier League. Menjelang agenda tim nasional, pelatih kepala Inggris Thomas Tuchel disebut akan mengumumkan skuad pada Jumat untuk pertandingan Nations League melawan Spanyol dan Republik Ceko.
Dalam beberapa bulan terakhir, Calvert-Lewin telah masuk dalam pemikiran Tuchel. Ia sebelumnya dipanggil oleh tim nasional pada bulan Maret setelah tampil menarik saat musim debutnya bersama Leeds. Namun, setelah tampil bersama Inggris saat melawan Uruguay pada jendela internasional tersebut, ia pada akhirnya tidak terpilih untuk berlaga di Piala Dunia pada musim panasāsementara Ivan Toney dan Ollie Watkins menjadi perjalanan bersama sebagai deputi dari kapten Harry Kane.
Konstelasi itu membuat klaim āpeluang recallā semakin terdengar relevan. Sementara Toney dan Watkins disebut tengah bermain di Arab Saudi, Calvert-Lewin justru mengambil langkah untuk memperlihatkan konsistensi di tanah Inggris.
Berita Terkait
Selain dampak langsung dalam skor akhir, pencapaiannya di kandang juga menarik. Ia menjadi pemain Leeds kedua yang mencetak gol dalam lima penampilan Premier League beruntun di Elland Road, mengikuti jejak Mark Viduka yang terjadi antara Maret hingga Agustus 2003.
Ada pula momen spesifik yang sempat menimbulkan kebingungan di benak Calvert-Lewin. Saat menyundul untuk gol kedua Leeds melawan Newcastle, sundulannya pada akhirnya dianugerahkan kepada Jayden Bogle karena bola sempat mendapat sentuhan terakhir dari rekan setimnya.
Penampilan Calvert-Lewin juga mendapat perhatian dari mantan bek Inggris, Jamie Carragher. Ia terkesan dengan tampilan yang disebut āalmost perfectā dan mengatakan kepada Sky Sports, āMaybe sometimes composure has let him down in his career, but not here,ā sebelum menambahkan, āHe was unplayable.ā Carragher melanjutkan, āIt was right for him and Everton to make a fresh start. As an Evertonian you are probably thinking why didn’t we keep him.ā Ia kemudian menegaskan, āSometimes a move rejuvenates a player. He is the type of player you think as an ex-centre-back, I am glad I am not playing now.ā
Malam pahit bagi Newcastle
Kemenangan Leeds tidak berdiri sendiri, karena pertandingan ini juga menggambarkan kemunduran Newcastle. Tidak ada tim yang ingin menghadapi Calvert-Lewin dan Leeds yang agresif di Elland Road pada musim ini.
Statistik liga menambah konteks: hanya Arsenal (52), Manchester City (50), Manchester United (45), dan Bournemouth (37) yang meraih poin Premier League 2026 lebih banyak daripada Leeds (35). Leeds sendiri menderita satu kekalahan saja dalam 13 pertandingan liga terakhir, sedangkan Newcastle justru mengalami āimplosionā yang mengejutkan setelah fase awal yang menjanjikan.
Di bawah Matthias Jaissle, Newcastle sempat tak terkalahkan dalam lima pertandingan pertama di semua kompetisi setelah banyak perubahan di musim panas. Namun, kenyataan di Elland Road berbeda: tim itu menghadapi lebih banyak tembakan dibanding tim lain di Premier League, sementara mereka tetap kesulitan menghadirkan eksekusi serangan ketika harus berhadapan dengan tekanan Leeds.
Menjelang pertandingan, Newcastle memang sempat klinis di awal musim dengan hanya delapan usaha mengarah ke gawang saat melawan Liverpool, Tottenham Hotspur, dan Bournemouth sebelum lawatan ke Elland Road. Tetapi pada laga ini, penguasaan ritme dan agresivitas Leeds membuat Newcastle tidak mampu menyamai ābiteā yang ditampilkan tuan rumah, sehingga mereka terjatuh.
Jaissle menyampaikan kekecewaannya dalam konferensi pers usai pertandingan. Ia mengatakan tidak ingin menunjuk pemain tertentu, tetapi menegaskan bahwa Newcastle tidak menyamai level intensitas, perilaku duel, dan aspek fisik sebagai sebuah tim. Ia menambahkan bahwa hal itu perlu dibawa ke lapangan pada setiap pertandingan dan menyebutnya ānon-negotiable,ā sebagai fondasi dasar sepak bola. āThese are young lads. The learning curve needs to be fast,ā katanya, menekankan bahwa kurva belajar harus cepat.
Bagi Leeds dan Calvert-Lewin, laga ini menjadi malam yang berkesanābukan hanya karena skor besar 4-1, tetapi juga karena munculnya sinyal kuat bahwa performa mereka sedang membentuk narasi besar: peluang kembali untuk Inggris, terutama ketika keputusan skuad Nations League akan segera diumumkan.












