jurnalistik.co.id – Di tengah ketatnya persaingan masuk perguruan tinggi di China, sebagian pelajar kini menemukan “konselor” baru yang lebih mudah diakses: chatbot berbasis kecerdasan buatan (AI). Tren ini menguat saat gelombang pelaksanaan gaokao, ujian masuk perguruan tinggi nasional yang dikenal sebagai salah satu yang paling kompetitif di dunia.
Hasil gaokao kemudian menjadi penentu utama apakah seorang siswa bisa diterima di universitas impiannya, sebagaimana disampaikan Harvard University Press. Bagi banyak keluarga di China, capaian ujian itu bahkan dipandang ikut menentukan arah karier di masa depan, sehingga strategi memilih kampus dan jurusan tidak kalah penting dibanding persiapan menghadapi ujian.
Penetapan pilihan di China juga memiliki alur yang berbeda dengan kebiasaan di Indonesia. Jika di Indonesia siswa umumnya menetapkan kampus dan program studi sebelum ujian, proses gaokao justru berlangsung lebih dahulu. Setelah siswa mengikuti ujian dan mengetahui nilai serta peringkat di provinsi masing-masing, barulah mereka menyusun daftar kampus dan jurusan yang ingin dipilih.
Karena itulah, tahap menentukan tujuan akademik setelah menerima hasil ujian menjadi titik keputusan krusial. Pada fase inilah chatbot AI mulai dipakai banyak pelajar sebagai alat bantu menyusun langkah berikutnya.
Chatbot AI menggantikan peran konsultan pendidikan
Sebelum tren ini muncul, industri konsultan pendidikan berkembang untuk membantu calon mahasiswa menyusun strategi masuk perguruan tinggi. Layanan tersebut biasanya berangkat dari nilai gaokao, data penerimaan universitas pada tahun-tahun sebelumnya, sampai pertimbangan peluang diterima pada program studi tertentu.
Namun belakangan, peran konsultan mulai banyak dialihkan ke chatbot AI yang tersedia secara gratis. Di China, layanan semacam ini ditawarkan oleh sejumlah perusahaan teknologi besar, termasuk Alibaba, ByteDance, Baidu, dan Tencent, sehingga aksesnya jauh lebih luas dan cepat.
Popularitasnya meningkat dalam waktu singkat. Tencent menyatakan chatbot AI miliknya, Yuanbao, telah menjawab lebih dari 200 juta pertanyaan seputar penerimaan mahasiswa baru hingga 10 Juli 2026. Sementara itu, Alibaba menyebut chatbot Qwen buatannya telah menghasilkan 23 juta laporan rekomendasi kampus dan jurusan bagi peserta gaokao pada tahun ini.
Baidu juga mengklaim fitur konsultasi kuliahnya telah digunakan sekitar 15 juta orang. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa pencarian informasi dan penyusunan rencana akademik pasca-gaokao makin bergeser dari layanan berbayar menuju solusi berbasis percakapan dengan AI.
Contoh pengalaman pelajar: dari data nilai sampai daftar rekomendasi
Berita Terkait
Salah satu pengguna yang disebut memanfaatkan AI untuk menentukan pilihan adalah Guo Xinyan, siswi berusia 18 tahun dari Provinsi Shandong. Setelah mengetahui nilai gaokao, ia memasukkan berbagai informasi ke chatbot Qwen milik Alibaba.
Data yang dimasukkan mencakup nilai ujian, peringkatnya di provinsi, jurusan yang diminati, anggaran biaya kuliah, hingga kota tempat ia ingin belajar. Tak lama kemudian, AI menghasilkan laporan berisi puluhan rekomendasi kampus dan jurusan yang dinilai sesuai dengan profilnya.
Guo mengatakan, “Saya dan keluarga saya tidak memiliki pengalaman dengan pendaftaran perguruan tinggi, jadi kami harus mengandalkan media sosial dan AI,” dalam keterangan yang disampaikan kepada Rest of World. Pernyataan itu menggambarkan bagaimana AI dipakai bukan hanya untuk mencari informasi, tetapi juga sebagai pegangan ketika keluarga belum memiliki pengalaman pendaftaran.
Orang tuanya pun turut memakai chatbot Doubao milik ByteDance untuk mencari rekomendasi jurusan dengan prospek kerja terbaik. Dengan demikian, proses pengambilan keputusan berlangsung melalui dua lapis dukungan: input kebutuhan calon mahasiswa ke chatbot, lalu penguatan pertimbangan dari keluarga.
Bagaimana AI menilai pilihan kampus dan jurusan
Di balik layanan rekomendasi, chatbot yang digunakan pelajar bekerja dengan menganalisis berbagai jenis data sekaligus. Sistem itu tidak hanya mengandalkan nilai gaokao, tetapi juga mempertimbangkan skor penerimaan universitas pada tahun-tahun sebelumnya.
Selain data akademik, AI juga memasukkan faktor minat karier. Preferensi ini dipadukan dengan hasil tes kepribadian MBTI, yang dipakai untuk membantu memetakan kecocokan antara pilihan jurusan dan gaya atau arah minat individu.
Chatbot juga memperhatikan aspek biaya kuliah, termasuk anggaran yang disiapkan. Dari sisi non-akademik, sistem turut menilai preferensi lokasi dan iklim tempat tinggal, sehingga rekomendasi yang muncul tidak berhenti pada “kampus apa yang mungkin”, tetapi juga “lingkungan seperti apa” yang diinginkan.
Dalam praktiknya, rangkaian pertimbangan tersebut berujung pada laporan rekomendasi yang mencakup kampus dan jurusan. Bagi pengguna, bentuk laporannya memberi gambaran pilihan yang bisa langsung dibandingkan, terutama pada fase ketika siswa baru menerima hasil dan perlu menyusun daftar final.
Meski chatbot tidak menggantikan seluruh proses seleksi penerimaan mahasiswa, tren penggunaannya memperlihatkan bahwa pelajar kini menganggap tahap setelah ujian sebagai arena strategi. Di situ, AI diposisikan sebagai alat bantu yang menjembatani data besar—nilai, peringkat, riwayat penerimaan, minat karier, kepribadian, biaya, sampai preferensi lokasi—agar keputusan pilihan kampus dan jurusan dapat disusun lebih cepat.
Dengan akses yang relatif gratis dan cepat, chatbot AI seperti Yuanbao, Qwen, dan layanan konsultasi sejenis dari Baidu maupun Doubao tampak menjadi “konselor digital” yang semakin populer di kalangan peserta gaokao. Di saat persiapan ujian menentukan pintu masuk, langkah berikutnya—menentukan tujuan—kian dibantu oleh sistem yang mampu mengolah banyak data sekaligus.












