jurnalistik.co.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menegaskan, ia menolak skema kerja sama bersama dengan China dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Penolakannya disampaikan dengan argumentasi bahwa kolaborasi tersebut dapat berujung pada “giving away secrets” kepada rival ekonomi utama AS.
Pernyataan Trump muncul saat ia berbicara di Washington pada Selasa. Saat itu, ia mengomentari peluncuran America.gov, sebuah portal situs pemerintahan berbasis AI yang dirancang untuk menyederhanakan layanan publik, sekaligus memudahkan akses bagi pengguna.
Dalam kesempatan yang sama, Trump kembali mengkritik gagasan pemberlakuan batasan pada teknologi AI. Ia menilai pembatasan semacam itu berpotensi menghambat laju pertumbuhan di masa depan, meski perhatian publik terhadap risiko AI makin menguat.
Langkah Trump juga terkait perkembangan hubungan AS–China menjelang pertemuan terakhir dengan Xi Jinping. Setelah kunjungan Xi ke Gedung Putih pekan lalu, kedua negara mengumumkan peluncuran dialog AI, dengan rencana pembicaraan lanjutan pada November.
Selain dialog tersebut, Beijing dan Washington juga membentuk kanal komunikasi baru agar tidak terjadi kesalahpahaman ketika muncul insiden yang berkaitan dengan AI. Dalam pandangan Trump, dialog dan mekanisme semacam itu tidak lantas membuatnya mendukung kerja sama pengembangan teknologi.
Trump menyatakan bahwa AS berada dalam posisi yang “leading by a lot” di sektor AI. Ia menegaskan bahwa ia tidak ingin “mix it up” dengan pihak-pihak yang berpotensi menjadi pesaing di bidang tersebut.
Ia kemudian menguraikan logikanya secara langsung. “If we do that, we’re going to be giving a lot of secrets that we have that they [China] would want to have, or anybody else,” kata Trump, sebelum menambahkan, “Frankly, there is nobody in third place…it’s all between us and China.”
Berita Terkait
Menurut Trump, meski topik AI dibahas dalam pertemuan dengan Xi Jinping pekan lalu, ia tetap bersikukuh menolak kerja sama semacam apa pun untuk mengembangkan teknologi tersebut. Ia menyebut bahwa bila kolaborasi terjadi, pihak lain dapat segera mengakses hal yang selama ini diketahui AS namun belum diketahui lawan.
“Then they’re going to be able to immediately gain access to things that we know that they don’t know,” ujar Trump. Ia melanjutkan dengan menekankan, “we’re leading now over China and everyone else, and I want to keep it that way,” sebagai alasan mempertahankan jarak dari kolaborasi.
Sebelum pertemuan Trump dengan Xi, Kementerian Luar Negeri China mengeluarkan peringatan terkait tata kelola AI. Pihak China menilai “narratives of threat” dan konfrontasi dapat menghambat upaya pengaturan AI secara lebih baik.
Di dalam negeri, Trump menghadapi kekhawatiran publik yang terus berkembang mengenai potensi bahaya AI. Ia juga didorong agar menambah “guardrails” untuk mengurangi risiko, seiring meningkatnya diskusi soal dampak teknologi tersebut.
Namun, sikap Trump cenderung berseberangan dengan kekhawatiran tersebut. Jajak pendapat yang dipublikasikan Politico pada akhir September menyebut dua dari setiap tiga orang Amerika percaya ada sedikitnya risiko “moderate” bahwa AI bisa menghancurkan umat manusia.
Di antara pendukung Trump yang disurvei, 44% menyatakan mereka lebih memilih agar pengembangan AI dijeda. Meski demikian, Trump berulang kali menanggapi isu keselamatan sebagai sesuatu yang ia anggap tidak substansial.
Trump menyebut kekhawatiran itu sebagai “hoax”. Ia juga membandingkan peringatan keselamatan AI dengan “global warming scam” yang menurut klaimnya “is being perpetrated by radical left Dumocrats.”












