Teknologi

Kamera digital dan earphone berkabel kembali populer di kalangan muda, terasa lebih “real”

×

Kamera digital dan earphone berkabel kembali populer di kalangan muda, terasa lebih “real”

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Digital cameras and wired earphones are back - and 'a bit more real'

jurnalistik.co.id – Di 2026, ketika perangkat makin canggih, sebagian anak muda justru memilih kembali ke pengalaman yang lebih “berasa” dan sederhana. Fenomena ini terlihat dari menguatnya pemakaian kamera digital serta earphone berkabel, yang hadir bukan sebagai kemunduran, melainkan pilihan gaya hidup.

Siang hari Sabtu itu, saya nyaris menyerah di langkah pertama: baterai kamera digital masih tertinggal untuk dicas di rumah. Kamera yang saya bawa kali ini pun bukan yang baru, karena terakhir kali alat semacam itu ikut dalam perjalanan sekitar 15 tahun lalu ke liburan keluarga di Kepulauan Canary.

Setelah baterai terisi, saya membawa kamera digital ke sebuah acara DJ sebagai eksperimen. Saat kamera ditarik keluar dan lensa mengarah ke bidikan melalui jendela bidik kecil, perhatian orang-orang langsung mengarah pada kami.

Seorang pria berkomentar, “I’ve not seen one of these in years”. Ia benar, karena kamera digital sempat menjadi tren besar di akhir 1990-an hingga awal 2000-an, tepat sebelum ponsel pintar mengambil alih.

Data pasar juga menunjukkan besarnya basis pengguna. Secara global, ada 42 juta pengguna kamera film aktif, dan lebih dari sepertiganya berusia 18–30 tahun, sangat dipengaruhi tren media sosial, menurut laporan riset pasar tahun lalu. Di tengah ekosistem teknologi terbaru, angka itu membantu menjelaskan mengapa “gaya kembali ke dasar” terasa makin ramai.

Namun alasan ketertarikan tidak sekadar soal nostalgia. Lily Redman, 26 tahun, kreator konten dari South Wales, mengatakan kamera digital “capture a quality that my phone just can’t replicate”. Ia menyebut kilatan di ponsel terasa “grainy and too high definition” dibandingkan hasil yang menurutnya lebih halus dari kamera digital.

Redman juga menegaskan, “I think people are looking for a bit of grit or something that feels a bit more real”. Menurutnya, yang dicari audiens bukan sekadar ketajaman, melainkan tekstur dan kesan yang lebih dekat dengan momen asli.

Dalam tren yang berjalan seiring, foto berlabel low exposure juga sedang digemari. Di iPhone dan Android, orang cenderung menghindari filter siap pakai untuk menurunkan exposure secara sengaja, sehingga gambar terlihat lebih gelap dan kontras—sebuah pendekatan yang akhirnya memberi tampilan yang lebih “natural” versi mereka.

Redman juga mengaitkan kamera digital dengan persepsi waktu. Ia mengatakan, “If I look back at photos my mum took when I was two, they look so old but when I look at photos I took five years ago, they look like they were taken yesterday,” lalu menambahkan, “Phone photos have warped our perception of time.”

Baginya, ada “kejutan” yang muncul saat kartu memori dipindahkan ke komputer. Kamera digital tidak hanya menghasilkan gambar, tetapi juga membekukan momen, lengkap dengan cara orang berinteraksi sebelum dan sesudah memotret.

Kamera digital, iPod, dan earphone berkabel: kembali yang terasa personal

Lonjakan perangkat awal digital tidak berhenti pada kamera. Tren iPods juga ikut mengemuka, termasuk di kalangan pengguna yang memburu pemutar musik generasi lama.

Menurut situs refurbished Backmarket, iPods “driving the trend” pada penjualan perangkat MP3 lama. Angka yang disebut adalah peningkatan 48% pada penjualan antara 2024 dan 2025, sementara permintaan untuk pemutar MP3 dan MP4 disebut “accelerating further into 2026”.

Cheri Sanih, 30 tahun, menjalankan akun Tumblr bertema teknologi lama. Ia mengatakan, platform tersebut baru saja mendapat ribuan pengikut. Saat menggulir koleksi musik di iPod berwarna hijau mint, ia masih melihat karya sampul album dari 15 sampai 20 tahun lalu, mengundang ingatan masa kecil tentang momen menerima perangkat itu sebagai hadiah Natal.

Sanih merangkum daya tariknya dengan nostalgia yang bersifat emosional. Ia menyebut orang-orang “wanting to remember simpler times”, dan ingin “bury into escapism”. Baginya, pemutar musik itu memberi ruang untuk berhenti sejenak dari gangguan digital yang terus berdatangan.

Ia menambahkan, “phone is always getting notifications and sometimes I just want to be outside, blissfully listening to music”. Ketika fokus dialihkan dari layar ke pemutaran musik, pengalaman terasa lebih mandiri dan tidak sepenuhnya dikendalikan algoritma.

Sanih juga percaya iPods kembali populer karena “beautiful design” dan cara pemutar musik menjadi perangkat “the first bit of technology really catering to humans with a less cluttered user interface”. Bagi sebagian pengguna, antarmuka yang sederhana justru membuat proses menikmati musik terasa lebih “manusiawi”.

Dari Bluetooth ke berkabel: mencari koneksi yang tidak rumit

Jika kamera dan pemutar musik kembali disukai, earphone berkabel turut menunjukkan arah yang sama. Perangkat ini memang sederhana, tetapi justru terbukti makin populer di ruang daring.

Monique Wellman-Mason, 23 tahun, dari Bristol, menjadikannya kebiasaan harian. Ia beralih karena lelah kehilangan earbud wireless. Ia bercanda, “Every single time I get them out my bag I spend two minutes trying to detangle them which is a bit of a pain,” namun ia juga mengakui “but at the same time I love that they have a microphone and I’m [always] connected to my phone”.

Monique mengatakan mikrofon yang jelas berguna untuk pekerjaannya sebagai social media manager. Ia juga menikmati sensasi “spark that nostalgia”, sekaligus memandang earphone berkabel sebagai pilihan yang murah, sekitar £20.

Ia memutuskan mengganti Bluetooth ke earphone berkabel beberapa bulan lalu. Monique menegaskan ia tidak kembali ke opsi wireless tersebut. Menurutnya, “Technology only goes up and we’re always looking for the quickest thing but this is a step back in a way – I love it.”

Mengapa tren “kembali ke dasar” terasa masuk akal?

Lalu, apakah kecintaan yang baru terhadap perangkat era awal digital ini bercerita tentang sesuatu yang lebih dalam? Profesor Andrew Przybylski dari University of Oxford, pakar teknologi dan perilaku manusia, menyoroti satu gagasan utama.

Menurutnya, fondasi ketertarikan pada teknologi yang lebih dasar adalah “people’s desire on a very deep level to be in control of their experiences.” Dalam pandangan ini, dunia digital modern sering membuat seseorang terjebak dalam “decision paralysis”, yakni kesulitan memilih karena terlalu banyak opsi.

Ia memberi contoh cara binge watching terasa seperti keputusan yang sebenarnya tidak benar-benar dipilih. Saat ada serial baru, proses menonton maraton “automatically” sering dianggap dibuat untuk kita.

Dalam kontras yang ia ajukan, memilih untuk menyalakan kamera digital dan bermain dengan pengaturannya, atau menambahkan album ke perpustakaan iPod, mengubah dinamika. Ia menjelaskan, “you move towards something you want versus it coming at you”.

Andrew juga menyatakan bahwa orang ingin lebih dari sekadar “rent the things [and experiences] they’re passionate about”. Ketika seseorang membeli musik sendiri atau mengambil foto sendiri, muncul “a sense of connection” yang lebih nyata—bukan pengalaman yang sepenuhnya ditentukan oleh platform.

Ia lantas mengaitkan dengan contoh gangguan layanan. Andrew menyebut insiden ketika server Xbox mengalami outage pada akhir Juli, sehingga pengguna tidak bisa bermain meski memiliki cakram gim. Ia mengatakan, “nobody liked that”.

Ia menutup dengan perumpamaan, “Imagine if a book worked that way”. Inti argumentasinya sederhana: ketika kontrol hilang, rasa kepemilikan dan kenyamanan ikut berubah.

Laporan tambahan disampaikan oleh Amy Walker.