Olahraga

Studi: Sedikitnya 1 dari 4 Mantan Pemain NFL yang Meninggal Punya Penyakit Otak

×

Studi: Sedikitnya 1 dari 4 Mantan Pemain NFL yang Meninggal Punya Penyakit Otak

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: NFL: At least one in four dead players had brain disease, says study

jurnalistik.co.id – Penelitian baru yang menyoroti risiko gangguan otak pada pemain NFL yang sudah meninggal menunjukkan gambaran yang jauh lebih mengkhawatirkan dibandingkan estimasi sebelumnya. Studi ini menilai kondisi otak pada sejumlah mantan pemain yang wafat pada periode 2016–2021.

Dalam temuan yang dipublikasikan di British Medical Journal, peneliti memperkirakan bahwa sebanyak 97,7% dari mantan pemain NFL yang meninggal dalam rentang enam tahun tersebut kemungkinan mengalami penyakit otak yang terkait dengan benturan berulang di kepala. Angka itu juga disebut bisa lebih tinggi.

Riset dilakukan dengan menelaah 878 mantan pemain yang meninggal pada periode tersebut. Dari jumlah itu, 235 di antaranya menyerahkan otak mereka untuk kebutuhan penelitian, sehingga memungkinkan penilaian kondisi yang hanya dapat dikonfirmasi setelah seseorang meninggal.

Berdasarkan pemeriksaan terhadap donor otak, 215 orang ditemukan menderita chronic traumatic encephalopathy (CTE). CTE sendiri merupakan penyakit otak degeneratif yang didiagnosis melalui pemeriksaan pascakematian, sehingga studi ini dapat memetakan prevalensi di antara para donor yang berpartisipasi.

Selain CTE, penelitian juga melaporkan bahwa demensia tergolong umum di antara para penyumbang otak. Dengan demikian, studi tidak hanya menyoroti satu jenis gangguan, tetapi menunjukkan adanya spektrum masalah terkait benturan kepala yang terjadi dalam jangka waktu panjang.

Angka CTE: dari estimasi konservatif hingga maksimum

Para peneliti menghitung prevalensi CTE dengan dua pendekatan. Perhitungan “minimum konservatif” menyebut prevalensi CTE sebesar 24,5% pada kelompok yang meninggal selama periode enam tahun itu. Sementara itu, estimasi “maksimum” dapat mencapai 97,7%.

Lewat rentang angka yang lebar ini, studi menekankan bahwa hasilnya bergantung pada cara proyeksi terhadap populasi yang lebih besar. Meski begitu, arah besarnya sama: penyakit otak degeneratif yang terkait benturan kepala tampak jauh lebih sering ditemukan daripada yang sebelumnya tersaji dalam studi berbasis komunitas.

Penelitian juga mendorong liga untuk mengambil langkah pencegahan agar paparan benturan kepala berulang dapat dikurangi. Seruan ini diarahkan pada upaya yang tidak hanya fokus pada tingkat tertentu, tetapi juga mencakup semua jenjang yang berkontribusi pada akumulasi benturan.

Penjelasan peneliti: bukan hanya terjadi di level NFL

Daniel Daneshvar, penulis utama laporan sekaligus associate professor di Harvard Medical School, menyampaikan bahwa studi-studi sebelumnya—bersama dengan temuan dalam penelitian ini—menunjukkan pola risiko yang lebih tinggi pada pemain NFL. Ia mengatakan: “Kami dan pihak lain telah menunjukkan bahwa pada pemain NFL, khususnya, terdapat sekitar empat kali tingkat kematian akibat penyakit neurodegeneratif dibanding populasi umum.”

Daneshvar juga menyatakan bahwa temuan tersebut mengindikasikan prevalensi CTE pada saat kematian pada pemain NFL lebih tinggi daripada yang sebelumnya terlihat dalam beberapa studi berbasis komunitas. “Temuan ini menunjukkan bahwa pemain NFL memiliki prevalensi CTE saat kematian yang lebih tinggi daripada yang telah ditunjukkan sebelumnya dalam studi-studi berbasis komunitas yang banyak,” ujarnya.

Dalam penjelasan lain yang disampaikan, peneliti menekankan bahwa tidak semua benturan kepala yang dialami para pemain terjadi di lingkungan NFL. Daneshvar mengatakan: “Sebagian besar benturan kepala yang dialami oleh mantan pemain NFL ini tidak terjadi di level NFL. Benturan itu terjadi di level perguruan tinggi dan di tingkat sekolah menengah dan, pada banyak kasus, di level usia muda. Dan semua benturan kumulatif ke kepala tersebut akhirnya menambah risiko yang meningkat.”

Dengan penekanan seperti itu, studi seolah menegaskan bahwa pencegahan perlu dilihat sebagai proses jangka panjang, karena akumulasi benturan dapat terbentuk jauh sebelum pemain mencapai liga profesional.

Tanggapan NFL dan sejarah kebijakan

Menanggapi laporan tersebut, juru bicara NFL menyampaikan posisi organisasi bahwa pihaknya terus berupaya membuat permainan sepak bola Amerika lebih aman. Pernyataan yang disampaikan antara lain menyebut implementasi strategi untuk mengurangi gegar otak (concussions) dan benturan kepala.

Juru bicara NFL juga menyatakan: “NFL terus berupaya untuk membuat permainan sepak bola lebih aman, termasuk dengan menerapkan strategi untuk mengurangi gegar otak dan benturan kepala.” Ia menambahkan bahwa NFL berkomitmen memastikan komunitas NFL memiliki akses pada beragam sumber daya yang kuat—serta terus berkembang—untuk mendukung kesejahteraan fisik dan mental. NFL juga mengimbau mantan pemain untuk memanfaatkan fasilitas tersebut guna mengenali dan mencari perawatan bila mereka khawatir mengenai kondisi kesehatan mereka.

Isu CTE di kalangan pemain American football memang telah menjadi perhatian yang berkembang dalam beberapa tahun terakhir. Disebutkan bahwa pada 2011, Collective Bargaining Agreement (CBA) NFL membatasi jumlah sesi latihan yang melibatkan kontak langsung. Setelah proses class action yang berjalan lama, pada 2016 NFL menyepakati penyelesaian senilai 1 miliar dolar AS (sekitar £700 juta) dengan lebih dari 5.000 mantan pemain.

Dengan adanya penelitian yang memaparkan estimasi hingga maksimum 97,7% serta temuan CTE pada 215 dari 235 donor otak, perbincangan mengenai keselamatan benturan kepala kembali mendapat perhatian besar. Studi ini pada akhirnya menempatkan pencegahan dan pengurangan risiko paparan benturan berulang sebagai kebutuhan yang mendesak, bukan sekadar kebijakan di satu level pertandingan.