jurnalistik.co.id – Dalam Mekari Conference 2026 yang berlangsung Selasa, 29 September 2026, CEO Mekari Suwandi Soh menyampaikan pandangannya mengenai dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap dunia kerja. Ia menyoroti bagaimana teknologi tersebut mulai mengubah pekerjaan di kalangan pekerja kerah putih.
Suwandi mengakui bahwa penerapan AI di perusahaan tidak hanya berhubungan dengan efisiensi sistem, tetapi juga ikut memengaruhi peran yang selama ini dijalankan oleh para pekerja white collar. Menurutnya, perubahan ini terlihat terutama pada pola kerja yang selama ini banyak bergantung pada aktivitas yang berulang dan mudah distandarisasi.
Ia menjelaskan bahwa tugas-tugas yang sifatnya repetitif dapat dialihkan menjadi ranah AI. Dengan cara ini, waktu dan energi manusia tidak lagi banyak terserap untuk pekerjaan yang polanya relatif seragam.
“Jadi human touch tetap ada, hanya saja mungkin bentuknya berbeda dari sebelumnya,” ujar Suwandi dalam konferensi tersebut. Kalimat itu menegaskan bahwa menurutnya otomatisasi tidak identik dengan hilangnya peran manusia secara total.
Dalam pemaparannya, Suwandi menggambarkan bahwa pekerjaan yang sebelumnya memakan waktu karena aktivitas berulang bisa “diambil alih” oleh AI. Pergeseran ini, menurutnya, terjadi karena AI mampu menjalankan pekerjaan berbasis aturan dan pola yang konsisten tanpa perlu repetisi manual.
Ia juga menyampaikan keyakinan bahwa perubahan tersebut akan mendorong organisasi untuk menata ulang fokus kerja. Tenaga manusia kemudian dapat lebih banyak diarahkan pada pekerjaan yang menuntut pertimbangan, penyusunan strategi, dan pengambilan keputusan yang tidak sepenuhnya dapat diseragamkan.
AI untuk efisiensi, manusia untuk strategi
Menurut Suwandi, inti perubahan ada pada segmentasi jenis pekerjaan. Pekerjaan yang repetitif dan relatif mudah distandarisasi dipandang sebagai area yang lebih mudah diefisiensikan melalui AI. Sementara itu, pekerjaan strategis dinilai tetap membutuhkan keterlibatan manusia.
Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa AI diposisikan sebagai alat untuk mengurangi pekerjaan yang bersifat rutinitas. Dengan berkurangnya porsi tugas rutin, peran manusia bisa bergeser menjadi lebih interpretatif dan berorientasi pada langkah selanjutnya.
Berita Terkait
Ia menyebut bahwa pekerjaan repetitif dapat dialihkan ke AI, sehingga tenaga manusia punya kesempatan untuk melakukan tugas-tugas yang lebih bernilai bagi organisasi. Dalam pandangannya, perpindahan ini bukan sekadar perubahan metode kerja, melainkan perubahan pembagian fokus di dalam perusahaan.
Dengan demikian, AI tidak diposisikan sebagai pengganti total, melainkan sebagai penggerak untuk mempercepat bagian-bagian proses yang bisa distandarkan. Setelah bagian tersebut ditangani secara otomatis, organisasi dapat memberi ruang lebih besar pada aktivitas yang membutuhkan penilaian manusia.
Penekanan Suwandi pada “human touch” menjadi pesan utama yang ia sampaikan kepada audiens. Ia menegaskan bahwa sentuhan manusia masih diperlukan, meskipun bentuknya dapat berbeda dari kondisi sebelumnya.
Perubahan tersebut, menurut penuturannya, terkait bagaimana pekerjaan dibentuk dan dialokasikan. Ketika aktivitas yang berulang berpindah ke sistem AI, manusia tidak serta-merta kehilangan peran, tetapi beralih ke peran yang menuntut strategi dan pemikiran yang lebih luas.
Makna “tetap dibutuhkan”
Klaim bahwa peran manusia tetap diperlukan berangkat dari pembagian karakter pekerjaan. Suwandi melihat bahwa tidak semua jenis pekerjaan bisa diubah menjadi format yang sepenuhnya distandarisasi. Karena itu, ada ruang yang tetap harus diisi oleh kompetensi manusia.
Ia juga menempatkan perubahan ini dalam konteks transformasi cara kerja di perusahaan. Ketika AI makin berperan, pekerja diharapkan dapat menyesuaikan diri terhadap pergeseran tugas yang lebih menekankan strategi dibanding rutinitas.
Dalam konferensi tersebut, Suwandi menyampaikan bahwa proses pengalihan tugas repetitif ke AI akan membuka peluang bagi tenaga manusia untuk mengerjakan pekerjaan yang lebih strategis. Dengan kata lain, AI mengambil bagian yang mudah diformalkan, sementara manusia tetap memegang kendali dalam aspek yang membutuhkan arah dan keputusan.
Keseluruhan pandangan Suwandi menggambarkan transisi bertahap: AI memegang pekerjaan rutin yang bersifat standar, sedangkan manusia tetap berperan dalam aktivitas strategis. Pesan akhirnya adalah bahwa teknologi dapat mengubah bentuk pekerjaan, tetapi sentuhan manusia tidak hilang begitu saja.












