Teknologi

PHE Dorong Cadangan Migas Baru lewat Eksplorasi hingga Inovasi EOR

×

PHE Dorong Cadangan Migas Baru lewat Eksplorasi hingga Inovasi EOR

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: PHE Kejar Cadangan Migas Baru, dari Eksplorasi hingga Teknologi EOR

jurnalistik.co.id – Menjelang Hari Ulang Tahun (HUT) Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, PT Pertamina Hulu Energi (PHE) menegaskan komitmennya dalam memperkuat ketahanan energi nasional melalui rangkaian capaian hulu migas. Upaya itu disokong kerja sama seluruh unit bisnis di lingkungan Subholding Upstream Pertamina sepanjang 2026.

PHE menyebut pencapaian tersebut mencakup tahapan eksplorasi baik di proyek domestik maupun internasional. Fokusnya adalah menemukan sumber daya migas baru sekaligus menjaga keberlanjutan produksi energi untuk kebutuhan nasional.

Pada paruh pertama 2026, PHE juga menyoroti kinerja anak perusahaannya di wilayah Kalimantan sebagai bagian dari upaya menjaga keandalan operasional. Salah satu wujudnya terlihat dari sejumlah program yang mendukung kesiapan infrastruktur dan peningkatan pasokan energi.

Kinerja Semester I 2026 dan penguatan pasokan

Sepanjang semester I 2026, PT Pertamina Hulu Indonesia (PHI) mencatat capaian penting di area operasionalnya. PHI menuntaskan pengerjaan tiga jalur pipa penyalur bawah laut yang terintegrasi dalam program Pipeline Renew and Replacement Project (PRRP).

Implementasi program tersebut mencakup penyelesaian pemasangan topside platform Proyek Manpatu oleh PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) pada akhir Mei 2026. Setelah tahapan itu berjalan, PHI melanjutkan capaian berikutnya yang diarahkan untuk menguatkan suplai gas nasional.

Dalam rentang yang sama, PHI juga menyebut keberhasilan mencapai onstream platform keempat Proyek Sisi Nubi AOI pada Juni 2026. Pencapaian tersebut dinilai menjadi langkah lanjutan untuk meningkatkan ketersediaan pasokan gas di wilayah operasional terkait.

Survei Seismik 3D Kandawulo dan percepatan proses eksplorasi

Selain penguatan infrastruktur, PHE juga menekankan langkah agresif dalam menambah portofolio eksplorasi melalui pengamanan data. Pada 2026, PHE menyebut keberhasilan akuisisi Survei Seismik 3D Kandawulo sebagai bagian dari pemenuhan Komitmen Kerja Pasti Jambi Merang (KKPJM) di wilayah terbuka South Kutai Basin.

Survei tersebut dilakukan di perairan Kabupaten Mamuju, Sulawesi Barat. PHE mencatat cakupan akuisisi mencapai 2.500 km persegi dan dinyatakan selesai lebih cepat dari target.

Dalam pelaksanaannya, proses akuisisi data seismik offshore disertai catatan zero accident. PHE juga menegaskan kepatuhan terhadap aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE) selama kegiatan berlangsung.

Melalui kerja sama dengan PT Elnusa Tbk sebagai mitra strategis, kegiatan akuisisi memanfaatkan teknologi broadband marine streamer. Menurut PHE, pendekatan ini digunakan untuk memperoleh pemahaman struktur bawah permukaan yang lebih akurat.

Dengan karakteristik tersebut, PHE menyatakan upaya ini diarahkan untuk meningkatkan peluang penemuan sumber daya migas baru. Keberhasilan dalam pengumpulan data juga diposisikan sebagai bagian dari tahapan hulu yang menyiapkan keputusan eksplorasi ke depan.

Produksi di atas target dan dukungan pemangku wilayah

PHE ONWJ juga mencatat kinerja produksi yang melampaui target dari sumur LLA-5. Sumur tersebut mulai beroperasi pada 26 Juni 2026, dan capaian produksi yang dihasilkan dinyatakan berada di atas target.

Corporate Secretary PHE, Hermansyah Y. Nasroen, menyampaikan bahwa penyelesaian Survei Seismik 3D Kandawulo yang lebih cepat dari rencana, dengan catatan zero accident, menjadi bukti komitmen Subholding Upstream Pertamina terhadap kinerja eksplorasi yang unggul. Ia juga menekankan bahwa kinerja tersebut dijalankan dengan prinsip aman dan berkelanjutan.

Lebih lanjut, PHE menyebut dukungan Pemerintah Kabupaten Mamuju dan Pemprov Sulawesi Barat sebagai faktor kunci yang turut memastikan kelancaran akuisisi. Karena itu, capaian tersebut dipersembahkan sebagai kado istimewa bagi Indonesia dalam peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81.

Penambahan Wilayah Kerja dan penguatan potensi sumber daya

Untuk memperkuat portofolio hulu, PHE menyatakan menambah Wilayah Kerja (WK) eksplorasi baru secara agresif. Sejak 2022 hingga 2025, PHE mengklaim memperoleh sembilan WK baru, termasuk tiga WK yang didapatkan pada tahun 2025.

Ketiga WK pada 2025 tersebut adalah WK Binaiya di Maluku, WK Lavender di Sulawesi Tenggara, serta WK Bobara di Papua. Langkah penambahan ini diposisikan untuk memperluas ruang pengembangan sumber daya energi dalam jangka menengah.

Hingga akhir Juni 2026, PHE juga mengamankan potensi sumber daya kontingen (2C) sebesar 108 juta barrel setara minyak (MMBOE). Kontribusi signifikan berasal dari penemuan terobosan Migas Non Konvensional (MNK) di Wilayah Kerja Rokan yang disebut mencatat potensi hingga 724,22 juta barrel minyak (MMBO).

Inovasi CEOR offshore pertama lewat injeksi polimer

Di sisi operasional lepas pantai, PHE menyebut anak usahanya, PT Pertamina Hulu Energi OSES (PHE OSES), memulai implementasi Chemical Enhanced Oil Recovery (CEOR) di Lapangan Offshore Rama. Kegiatan tersebut dilakukan di Wilayah Kerja Southeast Sumatra (WK SES) melalui injeksi perdana polimer.

Metode polymer flooding diimplementasikan dengan menginjeksikan larutan polimer ke dalam reservoir. PHE menjelaskan pendekatan ini ditujukan untuk meningkatkan sweep efficiency dan mendongkrak sisa minyak pada lapangan mature agar dapat diproduksikan secara optimal.

Inovasi yang dijalankan disebut sebagai CEOR offshore pertama di Indonesia. PHE juga menargetkan manfaat penuh dari program ini hingga 2030.

Dengan rangkaian capaian eksplorasi, penguatan infrastruktur, penambahan Wilayah Kerja, serta implementasi teknologi pemulihan minyak lanjutan, PHE menempatkan langkahnya sebagai bagian dari strategi ketahanan energi nasional. Seluruh tahapan itu diarahkan agar produksi energi tetap terjaga sambil membuka ruang peningkatan cadangan migas melalui upaya hulu yang lebih terukur.