Peristiwa

Gempa Indonesia: Bantuan menipis, warga khawatir kelaparan saat gempa susulan terus terjadi

×

Gempa Indonesia: Bantuan menipis, warga khawatir kelaparan saat gempa susulan terus terjadi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Indonesia earthquake: Aid shortages and fears of starvation as aftershocks continue

jurnalistik.co.id – Flores, Nusa Tenggara Timur, masih dihantui gempa susulan setelah gempa berkekuatan 7,7 pada Sabtu dini hari. Selain menimbulkan korban jiwa, gangguan logistik membuat bantuan mengalir lambat dan memicu kekhawatiran warga tak punya cukup makanan.

BBC melaporkan sedikitnya 53 orang tewas dan sekitar 5.000 orang mengungsi setelah gempa awal. Pada perkembangan berikutnya, data yang disebutkan kemudian menyatakan korban jiwa minimal 68 orang dengan jumlah pengungsi yang masih sekitar 5.000 orang.

Gempa terjadi tepat sebelum pukul 06.00 waktu setempat pada Sabtu (23.00 GMT Jumat) dengan kedalaman sekitar 15 km. Cuaca dan kondisi infrastruktur membuat banyak penyintas memilih bertahan di luar ruangan karena takut bangunan tambahan kembali runtuh.

Di Desa Dampek, ratusan korban berkumpul, tetapi fasilitas kesehatan tidak lagi berfungsi. BBC menggambarkan saat gempa 7,7 mengguncang Flores, sejumlah fasilitas kesehatan ambruk, jaringan listrik terputus, dan gempa susulan masih terus menggetarkan tenda darurat.

Di tengah situasi itu, Dr Melinda—dokter tunggal di Pusat Kesehatan Dampek yang kini hancur—menyampaikan keluhannya. Ia menyatakan, “Saya satu-satunya dokter di sini untuk ratusan korban. Saya benar-benar tak mampu lagi.” Ia juga menambahkan, sejak hari sebelumnya ia tidak sempat beristirahat karena korban terus berdatangan sepanjang waktu.

Kekurangan tenaga dan persediaan medis menjadi masalah yang berulang di berbagai lokasi. Setelah dua hari gempa susulan, suplai obat dan perlengkapan medis dilaporkan menipis, sementara kebutuhan penanganan cedera terus bertambah.

Di banyak titik, tenda yang didirikan di antara reruntuhan rumah sakit berubah fungsi menjadi ruang perawatan darurat. Sementara itu, akses menuju area terdampak terhambat oleh longsor yang memutus jalan, serta berkurangnya pasokan yang bisa dibawa masuk.

Banyak warga tidur di luar, takut bangunan runtuh

Penyintas di sejumlah wilayah tidur di luar rumah selama hari-hari yang panas dan malam yang dingin, karena khawatir bangunan ambruk akibat gempa susulan. Kekhawatiran itu diperkuat dengan kondisi lapangan yang belum benar-benar pulih.

Di Labuan Bajo—kota terujung barat Flores yang menjadi gerbang menuju Taman Nasional Komodo—banyak warga memilih bertahan di luar. BBC menuliskan bahwa warga yang selamat cemas bila getaran berlanjut hingga menimpa mereka saat tidur.

Salah satunya adalah Anastasia Imad, seorang petani bernama yang mendirikan tenda hijau darurat di dekat rumahnya yang rusak. Ia mengatakan, “Guncangannya sangat menakutkan. Rumah saya hampir roboh.” Ia menambahkan bahwa mereka khawatir gempa susulan akan membuat rumah runtuh ketika mereka tidur.

Herry Kabut, pemimpin redaksi Floresa Media, mengatakan bahwa tiap warga membangun pos evakuasi mereka sendiri. Menurutnya, pemadaman listrik, longsor, dan penghalang jalan ikut memperumit keadaan di lapangan.

Kabut juga menyebut kebutuhan dasar masih sangat dicari. Ia menyatakan, “Sampai sekarang kebutuhan pokok seperti bahan makanan dasar dan air bersih sangat dibutuhkan.” Ia menambahkan, “Orang-orang tidak tahu harus ke mana saat evakuasi. Tidak ada arahan pemerintah.” Dalam penuturannya, banyak orang kemudian melarikan diri ke perbukitan dan “kelaparan”.

Operasional rumah sakit lumpuh di beberapa wilayah

Gangguan layanan kesehatan juga terlihat dari kerusakan bangunan. BBC mencatat Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng kehilangan fungsi untuk sejumlah ruang layanan setelah atapnya runtuh, termasuk ruang operasi, ruang persalinan, apotek, dan laboratorium.

Dr Alhamzah yang bekerja di Pusat Kesehatan Lalang, Kabupaten Manggarai Timur, mengatakan tim dari rumah sakit daerah akhirnya dapat mengirim bantuan ke tempat seperti Dampek. Ia menyatakan bahwa mereka merawat pasien dengan kondisi serius menggunakan sumber daya yang ada.

Alhamzah juga menyebut bahwa bila kondisi pasien kritis, rujukan akan diarahkan ke rumah sakit di Ruteng yang berjarak sekitar empat jam. Akan tetapi, Ruteng sendiri juga disebut kekurangan bantuan.

Rista Mari, petugas hubungan masyarakat di Rumah Sakit Umum Daerah Ruteng, mengatakan harapan mereka bantuan akan segera datang. Ia menyampaikan kepada BBC, “Kami mendengar bantuan medis akan diberikan, tetapi belum ada yang datang.” Ia menambahkan, “Kami berharap bantuan tiba segera.”

Di Kabupaten Ngada, Charles Abar mengatakan fasilitas kesehatan dan peralatan mengalami kerusakan berat. Menurutnya, pada malam Minggu bantuan medis belum juga tiba.

Abar menilai respons pemerintah belum berjalan cukup cepat. Ia menyatakan, “Saya pikir tenda darurat seperti ini perlu disediakan segera, tetapi saya juga melihat pemerintah daerah dan pemerintah kabupaten sedang kesulitan karena kendala anggaran, keterbatasan pasokan, dan sebagainya.” Ia menambahkan bahwa desa-desa terputus dari bantuan, sementara penyintas dengan rumah rusak atau hancur terpaksa mencari tempat lebih tinggi.

Ia menekankan bahwa trauma masyarakat masih terasa. “Komunitas masih mengalami guncangan trauma,” katanya.

Seruan relawan medis dan upaya mencapai desa yang terisolasi

Dr Alhamzah juga menggunakan media sosial untuk meminta dukungan, termasuk relawan medis yang bersedia bergerak ke zona bencana, serta donasi obat dan perlengkapan medis. Ia juga memperingatkan bahwa stok obat di lokasi terdampak sedang menipis.

Ia menjelaskan bahwa ketika warga mendengar dokter sudah tiba, banyak orang yang semula bertahan di bukit turun. “Akibatnya, kami sangat membutuhkan lebih banyak obat, serta relawan medis tambahan,” ujarnya.

Pada malam Minggu, tim penyelamat berhasil mencapai sebuah desa di Pulau Palue yang berada tepat di sebelah utara Flores daratan. BBC menyebut desa itu terisolasi hampir dua hari penuh setelah gempa awal.

Penyelamat baru bisa mencapai Desa Nitung setelah perjalanan darat selama dua jam dari pesisir. Marselus Yugo Amboro, Komisaris Polisi Wakil Sikka yang memimpin misi penyelamatan, menyatakan bahwa tantangan utama berasal dari kondisi jalan yang masih rawan longsor.

Ia berkata, “Tantangan kami adalah jalan, yang masih rentan longsor.” Ia menambahkan bahwa rute tersebut “berpotensi mengancam jiwa”.

Amboro mengatakan ratusan rumah di Desa Nitung mengalami kerusakan berat dan warga bertahan di tempat penampungan seadanya. Ia juga menyebut listrik dan jalur komunikasi benar-benar putus akibat gempa.

Amboro menyatakan bahwa desa itu belum menerima bantuan karena terisolasi selama hampir dua hari setelah gempa. Ia menjelaskan bahwa upaya masih dilakukan untuk mempercepat pengiriman bantuan kepada penyintas.

Menurutnya, Desa Nitung kemungkinan merupakan wilayah di Kabupaten Sikka yang mengalami kerusakan paling parah akibat gempa.

Di tengah gempa susulan yang terus berlanjut, kebutuhan layanan medis, ketersediaan obat, serta kepastian akses bantuan menjadi faktor yang menentukan daya tahan warga di pengungsian. BBC menggambarkan bahwa hingga berbagai lokasi terhubung kembali, banyak penyintas tetap menghadapi ketidakpastian—mulai dari kebutuhan pertolongan medis hingga kekhawatiran tentang kelaparan.