jurnalistik.co.id –
Di Klaten, sejumlah guru mengikuti kegiatan pelatihan bertema kecerdasan buatan sebagai bekal pemanfaatan teknologi dalam proses belajar mengajar. Salah satu peserta, Bambang Yulianto, mengikuti sesi di Pendopo Resto Seminyak, Jalan Ronggowarsito No 09, RT 002/ RW 002 Jobodan, Polaharjo, Tambakboyo, Kecamatan Pedan, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, pada Minggu (16/8/2026).
Bambang merupakan guru SMAN 1 Karanganom, Klaten. Ia tampak serius menyimak penjelasan selama pelatihan dan tidak segan mengajukan pertanyaan kepada pemateri.
Pelatihan yang diikuti Bambang berjudul “Artificial Intelligence for Indonesia: Membangun Talenta Digital Indonesia melalui Pemanfaatan Artificial Intelligence yang Bertanggung Jawab”. Kegiatan ini merupakan bagian dari Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya program Pengabdian kepada Masyarakat, yang diselenggarakan melalui Program Studi Magister Manajemen (MM) FEB UI.
Adrian Achyar, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (FEB UI), hadir sebagai pemateri. Bambang mengatakan ia terus berusaha memahami materi yang disampaikan, termasuk saat memperoleh penjelasan langsung dari pemateri.
Dalam pelatihan tersebut, Bambang tergabung bersama 22 peserta. Kegiatan ini juga disebut sebagai wujud kontribusi ilmiah yang dipimpin oleh Guru Besar FEB UI Prof Rofikoh Rokhim PhD.
Menurut Bambang, ia sebenarnya sudah pernah mendengar istilah AI. Namun, ia menilai pemahamannya masih terbatas dan belum mendalami cara kerja serta pemanfaatannya dalam praktik pembelajaran.
“Sudah tahu (AI). Tetapi pemanfaatannya kurang maksimal. Karena memang belum begitu mendalam, jadi cuma sedikit-sedikit (tahu),” kata dia kepada Kompas.com seusai mengikuti pelatihan, Minggu.
Berita Terkait
Setelah mengikuti rangkaian kegiatan, Bambang menyatakan pengetahuannya bertambah. Ia menyebut ada peningkatan pemahaman mengenai AI dan bagaimana teknologi itu bisa didorong untuk mendukung proses pengajaran di sekolah.
Rencananya, setelah mengikuti pelatihan, ia akan memanfaatkan AI untuk mendukung kegiatan belajar siswa. “Dan Alhamdulillah dari pelatihan ini tadi saya lebih tahu tentang AI. Insya Allah nanti akan kami gunakan untuk pembelajaran di sekolah kami,” ungkap Bambang.
Baginya, pemanfaatan AI juga berkaitan dengan kebutuhan pembelajaran yang relevan bagi perkembangan anak sekolah. Ia menilai AI merupakan hal baru bagi siswa, sehingga pendekatan pembelajaran perlu disesuaikan agar lebih dekat dengan minat dan cara belajar mereka.
“Tentunya untuk pembelajaran anak-anak nanti akan lebih menarik ya karena AI sesuai yang baru buat mereka juga. Yang kedua kita bisa memilih metode pembelajaran mana yang lebih tepat untuk digunakan anak-anak,” kata dia.
Di sekolah, Bambang menjelaskan bahwa selama ini metode pembelajaran yang digunakan masih berpusat pada penggunaan smartboard. Ia menyebut perubahan yang ia rencanakan tidak hanya pada perangkat, tetapi juga pada pilihan metode agar materi lebih mudah dipahami siswa.
Dengan pelatihan yang baru diikutinya, Bambang berharap pemanfaatan AI dapat membantu guru merancang aktivitas belajar yang lebih terarah. Ia menempatkan AI sebagai alat pendukung pembelajaran, sekaligus sarana untuk membuat suasana kelas lebih menarik.
Selain itu, Bambang juga menekankan bahwa pendalaman materi menjadi kunci sebelum AI diterapkan dalam lingkungan sekolah. Ia ingin memastikan pemanfaatannya berjalan bertanggung jawab dan sesuai kebutuhan pembelajaran yang sedang berlangsung.
Melalui kegiatan di FEB UI tersebut, pelatihan AI tidak hanya memberi wawasan dasar kepada peserta seperti Bambang, tetapi juga mendorong guru untuk merancang langkah lanjutan di sekolah. Dengan bekal yang diperoleh, ia menyatakan siap mengembangkan pembelajaran yang memanfaatkan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab, agar proses belajar siswa dapat lebih efektif dan relevan.












