jurnalistik.co.id – Sebastien Pocognoli menyatakan bahwa dirinya merasa “terhubung” dengan karakter sepak bola Skotlandia yang penuh gairah. Menurutnya, aspek itu menjadi salah satu pertimbangan penting saat ia menerima peran sebagai pelatih baru timnas Skotlandia.
Pocognoli, 39, resmi diumumkan sebagai suksesor Steve Clarke pada hari Minggu. Ia kemudian memperkenalkan diri kepada media pada Senin setelah kontraknya berjalan.
Clarke mengakhiri masa jabatannya yang berlangsung tujuh tahun lebih awal pada musim panas ini. Keputusan itu datang setelah tim Skotlandia gagal melaju dari fase grup Piala Dunia, menyusul hasil yang berawal dari kemenangan atas Haiti.
Setelah kemenangan tersebut, tim kemudian menelan kekalahan dari Maroko dan Brasil. Dalam konteks perubahan ini, Pocognoli diposisikan untuk melanjutkan proyek yang sudah dibangun dan membawa pendekatan baru.
Pelatih asal Belgia itu sebelumnya meninggalkan Monaco pada akhir musim lalu. Sebelumnya lagi, Pocognoli juga pernah memimpin Union Saint-Gilloise hingga meraih gelar liga pertama mereka dalam kurun waktu 90 tahun pada periode 2024-25.
Dengan penunjukan ini, Pocognoli menjadi pelatih asing kedua bagi tim putra Skotlandia, setelah Berti Vogts yang berasal dari Jerman. Ia juga meyakini dirinya memiliki kemampuan untuk menumpuk capaian yang sudah ada, termasuk membangun dari fondasi yang disebutnya “kuat”.
Dalam sambutannya saat diperkenalkan, Pocognoli menyampaikan: “I’m very proud to be here,”. Ia menambahkan bahwa tantangan yang dihadapinya adalah proyek pengembangan sepak bola Skotlandia ke depan.
Ia melanjutkan, “It’s a very strong challenge, with a project to develop the future of Scottish football.” Pocognoli menegaskan, dalam menilai peluang dan tantangan, ia melihat adanya metrik sekaligus unsur manusia.
“There are the metrics, but the human aspect was also very important. I never go to a challenge where I can’t feel the connection.” Baginya, koneksi itu berkaitan dengan bagaimana sepak bola Skotlandia dipahami dan dijalani oleh banyak pihak.
Pocognoli menjelaskan pandangannya tentang sepak bola sebagai identitas dan energi kolektif. “Scotland is a passionate country,” katanya, sembari mengaitkannya dengan keberlanjutan fondasi yang telah diletakkan Steve Clarke dan stafnya.
Ia menambahkan, “I think also, regarding the strong foundation that Steve Clarke and his staff laid, that I can use this heritage to put the next accent on the style of play while also developing players for the future.” Pernyataan itu menjadi penegasan mengapa ia merasa tepat mengambil pekerjaan tersebut.
Berita Terkait
“That’s why I’m here.” Dengan kalimat itu, Pocognoli menutup sesi perkenalan, sekaligus menegaskan fokus pada dua hal: pembaruan gaya permainan dan pengembangan pemain untuk masa mendatang.
Dari sisi federasi, proses perekrutan Pocognoli juga dipaparkan lewat penilaian yang tidak hanya berbasis data. Muholland, chief football officer Scottish FA, dan Ian Maxwell, chief executive, menyebut mereka melakukan pendekatan ke kandidat dengan melihat kualitas secara personal maupun analitis.
Muholland menyatakan bahwa Pocognoli memberi kesan yang kuat dalam dua dimensi tersebut. Mereka meyakini Pocognoli dapat mengangkat tim ke level yang lebih tinggi, meski Skotlandia sendiri sudah mencatat capaian besar di panggung internasional.
Tim Skotlandia, menurut federasi, sudah lolos untuk dua kejuaraan Eropa secara beruntun serta tampil di Piala Dunia. Keyakinan itu membuat Scottish FA merasa bahwa pelatih berusia 39 tahun memiliki ruang untuk membawa tim mencapai target lebih jauh.
Ian Maxwell dan Muholland juga menekankan kebutuhan membentuk tim menjadi “high-performing” secara berkelanjutan. Muholland menyebut, “Sebastien had a massive passion for us becoming a high-performing nation,” dan mengaitkannya dengan ambisi yang telah mereka tetapkan.
“We know what our ambitions are.” Di bagian lain, Muholland menjelaskan bahwa dalam pencarian pelatih, federasi memandang keberhasilan sebagai hasil dari pemahaman pola kerja negara-negara yang terus tampil kompetitif.
Ia menambahkan, “Before you go on the coach search you have to understand what successful nations do to continually get to where we want to be.” Penilaian tersebut dilakukan setelah federasi mengolah banyak data.
“We did a lot of data and from that, we created a set of metrics that led us to a bunch of coaches.” Muholland menyatakan bahwa ia dan Ian Maxwell kemudian melakukan perjalanan mencari pelatih, termasuk melakukan perbandingan antarkandidat.
Menurut Muholland, “Ian [Maxwell] and I went on our travels – so many coaches had a passion for Scotland.” Namun, pada tahap berikutnya, federasi juga melihat kecocokan gagasan bermain dengan metrik yang sudah dirumuskan.
Muholland menegaskan bahwa mereka “looked at metrics around playing style” dan menyatakan bahwa Pocognoli memenuhi seluruh kriteria tersebut. “We looked at metrics around playing style – and Sebastien met all of that – but beyond the data what’s important is the person.”
Ia kemudian menyampaikan alasan mengapa aspek personal menentukan keputusan akhir: “We had to look the person in the eye and know they would add to what we already have.” Dengan demikian, penerimaan Pocognoli dirumuskan sebagai perpaduan antara ukuran-ukuran performa dan keyakinan terhadap karakter serta komitmen pelatih.












